
"Penjelasan apa?" teriakan nyaring itu menggema di seluruh ruangan, bangunan kokoh itu rasanya seketika runtuh. Semua pelayan yang melihatnya pun atau berpapasan saat berkeliling kediaman langsung berjalan tergesa-gesa dan menunduk, tidak ada yang berani mendekat. Sedangkan pelayan Bella, dia hanya mematung seakan hilang nafas. Baru kali ini ia melihat kemarahan itu terpancar dari tubuh majikannya.
Lain halnya dengan kedua laki-laki itu, kedua sama-sama diam, bingung, ingin menjelaskan, namun kilatan amarah itu membuat keduanya takut dan tak mampu mengeluarkan suara.
"Katakan Duke! katakan, menjelaskan seperti apa? berani mencintai, maka juga harus berani berkata jujur. Ini,, ini permainan kalian. Tahukah kamu Duke, selama ini tidak akan ada yang permasalahkan penyakit mu atau apapun itu, sepasang suami istri sudah terikat oleh janji suci, kedua harus saling mencintai dan menyayangi, tapi kunci dalam pernikahan adalah kejujuran. Cinta, tak bisa memastikan sebuah kejujuran."
"Sekarang apa Duke ingin mencintai Natalien?"
Duke Marcello diam seribu kali lipat, benar. Ia salah, seharusnya ia mengutamakan kejujuran, cinta di sertai kejujuran lebih bahagia dari pada cinta tanpa kejujuran. "Maaf!" satu kata yang bisa ia ucapkan, ia hanya mampu menjadi pendengar dan penyesalan.
"Duchess, ini...."
"Cukup! jangan bicara lagi, permainan kalian sudah membuahkan hasil." Duchess Natalien mengatupkan kedua tangannya. "Selamat sudah mengecewakan ku sebagai seorang istri dan seorang kakak ipar."
Duchess Natalien memutar tubuhnya, hatinya berderu kepanasan, ia tidak bisa membayangkan betapa kecewa Natalien yang asli jika masih hidup. Merasa di cintai, tapi tidak di hargai, bukankah sangat menyakitkan.
Ini bukan dunia film yang hanya fiksi atau bukan novel yang sebatas karangan, tapi ini adalah kehidupan rumah tangga, dimana kehidupan rumah tangga itu terletak pada suami dan istri.
"Duchess! ini salah ku, jangan marah pada Metteo." Air mata Duke Marcello menggenang, ia tidak bisa membiarkan Metteo menanggung amarah itu. Dirinyalah yang patut di salahkan, Metteo hanya mengikuti alurnya saja.
"Tidak! ini salah ku, Duchess. Aku yang ingin mengikuti saran kakak. Seandainya aku menolak mungkin kejadiannya tidak seperti ini," sanggah Metteo. Ia juga ikut andil, maka dirinya juga patut di salahkan.
Duchess Natalien menahan air matanya, bagaikan gunung api yang siap meletus, ia ingin menenggelamkan keduanya. "Kalian memang salah, sudah mempermainkan dua hati wanita. Pertama aku dan Keyna." Ia ingat masih ada nama wanita lain yang juga tersakiti.
Saat dirinya bersama dengan Metteo, wanita itu pasti menahan sakitnya. "Ingatkah kalian pada satu wanita yang menahan cemburu dan sakitnya, kalian bahkan mempermainkan dirinya dan juga diriku. Aku butuh ketenangan, aku harap kita tidak bertemu atau bertegur sapa."
Duchess Natalien berlari menaiki tangga sembari menghapus air matanya, suainya berbohong dan ia ikut bermain dalam kebohongan itu, meskipun ia adalah jiwa asing tapi perasaan dan hatinya telah mengikuti dan menyatu pada Duchess Natalien yang asli, ia telah menyatu dan melekat.
"Sakitnya di bohongi oleh orang yang kita cintai." Lirih Duchess Natalien. Ia duduk di lantai dekat ranjangnya, menyandarkan kepalanya ke sisi kasur itu.
Sedangkan di lantai bawah.
Metteo mendekat, ia sangat menyesal karena larut dalam cinta dan memilih membongkar semuanya. Ia duduk di depan Duke Marcello. "Kakak, maafkan aku. Aku bersalah, tapi aku..."
"Apa kamu mencintai Duchess?" tanya Duke Marcello, ia berharap firasatnya dan dugaannya salah.
Metteo terdiam, kemudian mengangguk yakin. Sudah tidak bisa di tutupi, semuanya sudah terjadi, percuma berbohong sekali hancur biarkan dirinya bertambah hancur.
"Kenapa? Kenapa kamu harus mencintainya. Padahal.." Duke Marcello menghapus air mata di sudut matanya. "Padahal aku sudah yakin kamu tidak akan mencintainya, adik ku sudah memiliki kekasih. Dia akan berpegang teguh pada kekasihnya. Pada perasaannya." Duke Marcello menangis. ia bingung harus menyerah atau melanjutkan rumah tangganya. Baginya kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaannya karena semenjak kecil adiknya tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua semenjak pengasingan itu.