Luka Duchess

Luka Duchess
Siapa Keyna?



Luka ini.


Metteo melihat wajah sang kakak yang sangat ceria, seakan bebannya telah hilang. Metteo menoleh, ia menghapus sudut air matanya


"Terima kasih banyak Metteo, kamu membawanya. Aku tidak tahu lagi harus berterima kasih pada mu."


"Aku senang melihat kakak tersenyum," ujar Metteo dengan hati yang teriris. Entah kapan hadirnya perasaan itu, seandainya ia bisa mencegahnya, tentu ia akan mencegahnya atau ia akan membuang hatinya yang tertulis nama Duchess. Seandainya bisa, maka ia akan melakukannya.


"Kapan kamu akan bertemu dengan Keyna?"


"Entahlah kak, aku tidak tahu," jawab Metteo. Di saat hatinya menangis, ia tidak bisa bertemu dengan Keyna. Ia tidak ingin Keyna menjadi pelampiasan hatinya.


"Oh begitu, kamu tidak perlu khawatir. Duchess baik-baik saja."


"Iya, aku tahu kak." Metteo langsung pergi, ia tidak tahan berada di ruangan yang sama. Menyandarkan punggungnya ke pintu berwarna cokelat itu. Sekuatnya menahan sesuatu di hatinya. Sebisa mungkin ia tidak terlihat sedih.


Maafkan Aku Keyna, aku tidak bermaksud mengkhianati mu, tapi luka ini adalah bukti perasaan ku pada Duchess.


"Duke, ada apa dengan mu?" tanya seorang wanita. Matanya melihat kedua mata Duke Marcello memerah.


"Aku masih ada urusan, aku keluar sebentar."


Duchess Natalie memutar tubuhnya, menatap Duke Marcello yang semakin jauh.


"Hemm, menemui kekasihnya. Romantis sekali,"


krek


Duchess Natalie kembali memutar tubuhnya, niat hati ia ingin bertemu dengan Metteo, saudara kembar suaminya itu. Ingin menanyakan sesuatu perihal Keyna.


"Duchess." Laki-laki itu tersenyum penuh kelembutan, tersimpan sejuta cinta di hatinya.


"Ah, iya. Kebetulan sekali aku ingin bertemu dengan Tuan Metteo. Apa bisa kita bicara berdua? kita mengobrol di luar."


"Baiklah, ayo."


Metteo ingin mendorong rodanya, namun Duchess Natalie mengambil alih kursi roda itu. "Biarkan aku saja."


"Ah, tidak perlu. Aku tidak akan lelah hanya mendorong Tuan." Duchess Natalie tetap keukeh, ia ingin melakukannya, sesuai dengan dorongan dari hatinya itu.


Sesampainya di luar, Duchess Natalie menghentikan kursi roda itu, melihat halaman yang tertutupi salju. Bahkan bunga mawar yang bermekaran pun tak luput dari butiran salju yang turun itu.


"Apa Duchess menyukainya?" Ia tahu, Natalie sangat menyukai bunga mawar.


"Ah, iya.. Aku menyukainya. Bunga mawar putih dan Merah. Sangat indah jika keduanya bermekaran."


"Aku tahu, Duchess pasti menyukainya. Apa Duchess tidak ingin bermain salju, biasanya Duchess suka bermain."


"Sepertinya Tuan Metteo sangat mengetahui kesukaan ku."


Duke Marcello atau Metteo itu tersentak, tentu saja ia tahu segalanya, karena dirinyalah yang Duke Marcello yang asli. Kebersamaannya dengan Duchess tak akan pernah ia lupakan.


"Aku hanya tahu cerita dari Duke Marcello."


"Entah kenapa, aku merasa Tuan Metteo lebih tahu dari Duke Marcello. Aku merasa nyaman dengan Duke."


Kamu tidak tahu, bahwa aku yang asli Duchess. Tunggu sebentar sayang, aku akan bersama mu.


"Ya, mungkin karena aku mirip dengan Duke."


Duchess Natalie terkekeh, namun ia merasa ada sesuatu yang seakan menariknya pada Metteo. Ia menatap wajah Metteo, wajah keduanya sangat mirip, bahkan tidak ada celah yang bisa membedakannya. Ia jadi bingung, apa pemilik tubuh sebelumnya memiliki hubungan dengan Metteo atau cinta segitiga, tapi menurut cerita Duke Marcello telah menjalin hubungan dengan Duchess Natalie.


"Duke, eh maaf. Maksud ku Tuan Metteo, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kamu tahu? siapa Keyna?"


Deg


Duke Marcello menegang, ia memang tahu namanya, tapi tentang Keyna ia tidak tahu.


"Apa Tuan Metteo mengetahuinya? aku merasa dia memiliki hubungan dengan Duke Marcello. Sudah dua kali aku melihatnya datang ke kediaman Duke. Rasanya sangat aneh kalau mereka tidak memiliki hubungan."


"Aku, aku..."


"Nona Keyna adalah kekasih Tuan Metteo." Suara itu membuat kedua orang itu menoleh. Ia melihat Duke Marcello bersama seorang wanita.