Luka Duchess

Luka Duchess
Acuh



Bayangan seorang gadis kecil yang sering menemaninya, bermain bersamanya.


"Apa Duke melupakan gadis itu?"


"Apa kamu tahu sesuatu tentang Nana?" tanya Duke Marcello dengan antusias. Nana adalah gadis baik, yang ia sukai. Gadis kecil itu selalu tersenyum ceria dan ramah.


"Aku adalah Keyna, gadis kecil yang kamu panggil Nana."


Air mata Duke Marcello merembas keluar, ia terharu. Sungguh ia tidak percaya selama belasan tahun, ia tidak menemukan Nana. Teman masa kecil, entah apa yang membuatnya menghilang tanpa jejak.


"Sungguh."


Keyna menunduk dalam di iringi air matanya. Duke Marcello menggenggam lengan Keyna. Wajahnya pun langsung berseri. Ia menarik Keyna dan memeluknya. "Kenapa kamu tidak jujur dari awal, Nana? Apa kamu tidak menganggap ku teman mu lagi?"


"Tidak! aku takut Duke sudah melupakan ku," ujar Keyna melerai pelukannya. Ia begitu merindukan Duke Marcello, sahabatnya sekaligus laki-laki yang bersemi di hatinya.


Keyna pun menceritakan semuanya, dan tentunya ia tidak akan bilang alasan kepergiannya. Hanya itulah ia berbohong dan tentang perasaannya.


Sedangkan tak jauh dari mereka, satu pandangan tertuju pada Duke Marcello dan Keyna yang tengah bercerita bersama, seolah keduanya sangat dekat dan sangat mengenal.


Duchess Natalien memutar tubuhnya, Keyna pun menyadari dari jarak yang jauh dan tersenyum pada punggung yang akan menghilang itu.


Selama seharian Duke Marcello tidak melihat keberadaan Duchess Natalien. Wanita itu seolah menghilang dari pandangan Duchess, dan sekian lamanya ia malah menikmati masa kebersamaan yang telah lama menghilang dengan teman masa kecilnya. "Nana, Maaf aku mau menemui Duchess dulu."


"Mari aku antar, Duke."


"Tidak perlu, aku bisa mencari. Lagi pula ada Kesatria Erland yang selalu membantu ku."


"Jangan menolak ku, aku seperti teman yang tidak berguna," lirih Keyna memasang wajah masam.


"Aih, baiklah." Pasrah Duke Marcello. Ia akan menceritakan tentang Keyna, teman masa kecilnya yang telah lama menghilang.


"Kemana dia?" Duke Marcello bertanya-tanya. Tidak biasanya Duchess menghilang tanpa ijinnya.


Duke Marcello menunduk lesu, dia pun bertanya pada para pelayan dan mengatakan kalau Duchess pergi keluar dengan pelayannya yang tadi berpapasan dengannya.


Duke Marcello menunggu kedatangan Duchess Natalien sampai sore. Selang beberapa saat, waktu sore telah berganti malam. Namun tidak terlihat kereta kuda yang memasuki halaman Duke. "Duchess, aku harap kami baik-baik saja."


Sedangkan Duchess Natalien, ia menanyakan obat untuk Duke, suaminya itu. Sekesal-kesalnya ia, Duke tetaplah suaminya yang harus ia hormati dan hargai. Duchess Natalien pun menanyakan beberapa hal, mewanti-wanti takut terjadi sesuatu pada Duke. Setelah sekian lama, Duchess Natalien akhirnya keluar dari rumah sakit itu dan membawa obat. Sebenarnya tadi ia ingin mengajak Duke memeriksa kesehatannya, tapi melihat pemandangan itu, membuat tubuhnya lemas. Ya, rasa sakit yang timbul karena kecemburuan. Menghilang dan menghabiskan waktu di luar lebih baik baginya dari pada di kediaman Duke yang membuatnya sulit bernafas.


Duchess Natalien tiba di kediaman Duke. Keduanya menginjakkan kakinya di halaman depan. Berjalan dan melihat Duke Marcello bersama Keyna.


"Kenapa tidak ada pemandangan lainnya?"


"Duchess, kamu kemana saja? sampai malam seperti ini."


"Aku sedang keluar mencari udara segar, setidaknya aku bisa leluasa bernafas." Duchess Natalien meninggalkan Duke Marcello. Memasuki kamarnya, kemudian menuju ke kamar mandi.


"Anne, Duchess kemana saja?"


"Duchess tadi mampir di kediaman Nona Ayne. Kebetulan keduanya bertemu di toko pakaian dam melanjutkan perbicangan di Restaurant, kemudian Duchess menuju rumah sakit dam menanyakan kesehatan Duke."


"Antarkan aku kamar!" perintah Duke Marcello pada pelayan Anne.


"Biar aku saja, Duke."


"Tidak! biar Anne saja." Tegas Duke Marcello. Ia merasa bersalah pada Duchess Natalien. Dirinya malah enak-enakan bersantai, sedangkan Duchess Natalien. Justru memikirkan kesehatannya.


Pelayan Anne mendorong kursi roda Duke Marcello sampai memasuki ke dalam kamarnya.