Luka Duchess

Luka Duchess
Nafas Teratur



Gemrsik angin malam, membuat siapa saja merasakan dinginnya yang syahdu. Sebuah tangan yang hangat menyentuh bahunya, kelopak mata itu pun terbuka lebar. Kedua sudut bibirnya terangkat, ia menggenggam tangan di bahunya itu, merasakan sebuah hembusan nafas yang menerpa pipinya.


"Duke..."


Laki-laki itu tersenyum, ia memeluk Duchess Natalien. "Aku merindukan mu, setiap saat, setiap detik, setiap menit."


"Begitu kah?" Duchess Natalien menaikkan sebelah alisnya, satu bibirnya terangkat. Tangannya mengelus lengan yang memeluk tubuhnya itu. "Hem, kenapa tidak memakai kursi roda? apa sudah baikan?"


"Semenjak ada Duchess, aku baru merasakan kesembuhan setelah bersama Duchess."


Duke Marcello mencium tengkuk Duchess Natalien.


"Orang yang di cintai adalah obatnya." Duchess Natalien membuka tangan kokoh itu, "Aku ingin menjadi obat Duke, apapun yang terjadi, Duke harus mengatakannya, kita harus terbuka."


"Iya, aku menyesal. Seandainya aku dulu tidak memutuskan hal yang salah, kita mungkin." Jari telunjuk itu menghentikan ucapan Duke Marcello.


"Semuanya sudah berlalu, semuanya sudah berakhir, tinggal kita jalani dulu."


Duke Marcello tersenyum, ia mencium Duchess Natalien.


"Iya," Keduanya saling tatap. Duchess Natalien dan Duke Marcello mendekat, keduanya saling memasang tatapan hangat. Entah semenjak kapan, kedua bibir itu saling mengesap, saling bergoyang dan membelit.


Duke Marcello menarik tengkuk Duchess Natalien, ia memperdalam ciuman itu. Akibat goyangan lidah itu, sesuatu menegang. Duke Marcello mengelus punggung Duchess Natalien.


Sebuah air ludah di teguk dengan cepat melihat benda berbentuk bulat itu, tonjolan itu terlihat jelas di dalam kain polos kedua itu. "Duchess!" Duke Marcello mendekat, nafasnya tidak teratur, terasa berat dan tak nyaman. Entah semenjak kapan? bibir itu kembali menyatu. Tangan Duke Marcello memasuki kain tipis itu, kemudian memainkannya, tidak puas. Duke Marcello membuangnya ke sembarangan arah, begitupun kain polos yang melekat di tubuhnya. Ia juga membukanya dan membuangnya.


Satu ******* pun lolos, Duke Marcello bertambah menggebu-gebu, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


Suhu ruangan itu pun memanas, suara lembut di sertai alunan melodi itu membara. Peluh membasahi keduanya, kain tipis itu menyerat keringat demi keringat yang keluar. Duke Marcello melajukan iramanya dengan cepat, hingga menimbulkan suara cipratan. Ia menatap wanita di bawahnya yang menggeliat tak karuan, hingga sampai puncak di mana semburan itu keluar. Duke Marcello mendekat, di saat bersamaan Duchess Natalien memeluk erat tubuh Duke Marcello dan merasakan sesuatu yang hangat.


Duke Marcello mencium kening Duchess Natalien, ia mengusap dahi yang berkeringat itu. Kemudian kembali mencium pipi kanan kiri dahi dan bibir. "Aku mencintai mu."


Rasanya ia tidak pernah lelah mengatakannya, setiap saat, setiap bertemu ia akan mengatakannya. Karena baginya, kata itu sebuah kewajiban yang keluar dari mulutnya.


"Aku juga mencintai mu, Duke."


Duke Marcello tersenyum, ia melepaskan ikatan itu. Kemudian membaringkan tubuhnya di samping Duchess Natalien, tak lupa ia menutupi tubuh Duchess Natalien dan juga dirinya yang berakhir polos.


Bolehkah, aku berharap lebih. Bolehkah aku mencintai Duke yang sebenarnya mencintai Duchess Natalien dulu.


Duchess Natalien memiringkan tubuhnya, kepalnya menyelusup ke dada bidang Duke Marcello.


Tangan Duke Marcello pun terangkat, ia mengusap kepala Duchess Natalien. Hingga terdengar sebuah nafas teratur.