
Duke Marcello tak bisa mengungkapkan kata-kata, bahkan suaranya terasa tercekat. Mendapatkan berita itu, tentu saja ia sangat senang dan tidak bisa ia gambarkan.
"Terima kasih, Duchess. Terima kasih," Duke Marcello mencium seluruh wajah Duchess Natalien, mulai dari kening, pipi kanan, pipi kiri, bibir dan terakhir hidung mancungnya menyentuh hidung Duchess.
Sedangkan Duchess, dia mengusap pipi Duke Marcello. Di kehidupan ini, menjadi istri Duke Marcello membawanya kehidupan baru, cinta, sakit dan menghargai. Ia bahagia, bahkan ia berjanji akan membahagiakan keluarga Duke Marcello. "Ini hadiah untuk mu,"
Duke Marcello menangis terharu, "Sayang, apa kamu mengetahuinya."
"Ya, aku tahu. Karena jadwal bulan kemarin tidak datang."
Hah
Duke Marcello menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Duchess Natalien, dia menangis di leher itu. Duchess Natalien mencium kepalanya, mengusap rambut sang Duke.
Dokter dan Pelayan Lily keluar dengan wajah bahagia. Mereka juga bersyukur, keturunan Duke Marcello telah hadir.
"Sayang, apa kamu merasakan sakit atau lainnya?"
"Ini sudah biasa, aku hanya ingin kamu selalu bersama ku."
"Ya, aku berjanji akan selalu bersama mu." Duke Marcello memutari ranjangnya, menyibak selimut putih itu. Duchess Alexsa memeluk tubuh Duke Marcello, menjadikan salah satu tangannya bantal. Mengirup aroma Mint di tubuh suaminya itu.
"Sayang, aku suka aroma mu." Duchess Natalie memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma yang menenangkan itu.
"Hiruplah sesuka mu,"
\=\=\=\=\=
Keyna yang mendengarkan kabar Duchess Natalien hamil, ada rasa iri dan benci di hatinya. Duchess Natalien sudah mengambilnya dari kecil dan sekarang wanita itu bahagia. Sedangkan dirinya, sejak kecil harus mengalah dan sekarang hubungannya dengan Metteo tidak sehat. Seandainya Duchess Natalien mendukungnya, mungkin Metteo tidak akan bersikap sedingin ini. "Ini salah mu, Duchess. Jangan harap kamu akan bahagia."
Keyna membanting vas bunga di kamarnya, amarahnya membuncah. Ia tidak tahan mengingat senyuman Duchess Natalien. Bakan wanita itu dengan mudahnya mengingatkan kesalahannya pada Metteo, sering kali ia mendengar Duchess Natalien mengungkit kesalahannya pada Adelien dan sampai sekarang Metteo masih tidak merubah sifatnya.
Sedangkan Metteo juga senang, kadang dia mempertanyakan perasaannya pada Duchess Natalien. Mungkin dulu ia hanya sempat mengaguminya. Buktinya sampai sekarang, ia sudah bisa melupakan Duchess Natalien, tapi mengingat Duchess ia kembali teringat Adelien.
"Bagaimana keadaan Adelien? sudah lama aku tidak melihatnya. Hah, mungkin aku harus menemuinya."
Metteo menaruh wine di hadapannya, seharian dia menghabiskan waktu di luar. Berada di dalam rumah membuatnya sumpek apalagi ada Keyna.
"Tuan, di luar ada Tuan Metteo yang ingin menemui Tuan," ujar pelayan Lily.
Duke Marcello mengucek matanya, ia mendengarkan ketukan itu. Perlahan ia mengangkat kepala Duchess Natalien, menggantikannya dengan bantal empuk.
krek
Suara pintu terbuka, Duke Marcello memijat pelipisnya. "Iya apa Metteo?"
"Duke, aku ijin mau keluar beberapa hari ke rumah Adelien."
"Untuk apa?" tanya Duke Marcello.
"Aku ingin melihat keadaannya."
"Baiklah, titipkan salam ku pada Adelien." Setelah mengucapkan apa yang seharusnya dia ucapkan. Duke Marcello kembali masuk ke dalam.
"Memang ini kalau nikah, kakak langsung menghampiri Duchess."
Metteo pun pergi, dia akan berangkat malam ini agar setibanya di rumah Adelien tidak sampai pagi.
\=\=\=
"Kamu mau kemana, Metteo?" tanya Keyna yang mengekorinya dari belakang. Keyna melihat Metteo seperti ada sesuatu yang mendesaknya.
"Keyna aku keluar sebentar."
"Kamu mau kemana? aku ikut,"
"Jangan membantah, aku sedang ada urusan." Metteo menaiki kudanya dan sejenak menoleh. "Jaga dirimu dan jangan membuat masalah."