Luka Duchess

Luka Duchess
Mengikuti Permainan



"Nyonya...."


Pelayan Lily menghampiri sang majikan yang fokus dengan bunga yang ia tanam. "Ada sesuatu yang harus Nyonya ketahui." Dia menatap dalam majikannya, tidak tega untuk mengatakannya. Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahannya jika ada orang ketiga yang tengah memasuki pernikahannya dan selama ini tebakannya benar.


Di tariknya nafasnya dalam-dalam, pelayan Lily menceritakan apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar.


Trang


Pot tanah liat itu terjatuh ke lantai, baru saja sang majikannya menanamnya dengan penuh kasih sayang, namun sekarang potnya pecah dan abunya berserakah di lantai.


"Jadi selama ini benar dugaan ku. Licik sekali dia, menyimpan wanita itu sangat rapat."


"Duke!"


Pelayan Lily membulatkan mulutnya. "Nyonya, tangan Nyonya berdarah. Entah semenjak kapan tangan majikannya meremas bunga berduri itu.


"Aku akan mengikuti permainan mu, Duke. Sampai kapan kamu bisa mempertahankan wanita itu. Aku ingin pengakuan itu keluar dari mulut mu."


"Nyonya..."


"Kamu tidak perlu merasa kasihan pada ku, Lily." Duchess Natalie mengusap air bening itu di sudut matanya. Percuma ia menangis, tidak ada gunanya menangisi laki-laki brengsek seperti Duke Marcello.


"Nyonya ada Tuan Duke."


Pelayan Lily melihat dari jauh, Duke Marcello dan Kesatria Erland melangkah ke arahnya.


Duchess Natalie memutar tubuhnya ke arah lain, menenangkan pikiran dan hatinya yang akan hangus terbakar oleh amarah. Ingin sekali ia menampar Duke Marcello saat ini juga.


"Duke!"


"Duchess!"


Duchess Natalie belum bisa menenangkan hati dan pikirannya.


"Duchess!" Duke Marcello memegang bahu Duchess Natalie. Namun tangan itu langsung di tepis. Duke Marcello mengepalkan tangannya, ia bingung hubungan mereka tadi malam baik-baik saja, ia merasa Duchess Natalie tidak begitu membencinya, tapi sekarang rasanya sangat aneh. Ia merasa Duchess Natalie kembali dalam kebenciannya.


"Duchess!"


"Ada apa Duke?" Duchess Natalie memutar tubuhnya, melihat wajah laki-laki yang pernah di cintai oleh pemilik tubuh aslinya. "Apa ada sesuatu yang ingin Duke katakan?"


"Kenapa terburu-buru?" tanya Duchess Natalie.


Duke Marcello tersenyum, ia sudah menyuruh mata-mata pelayan laki-laki itu untuk melaporkan pada Duke Marcello yang asli dan mengatakan semuanya, apa yang telah terjadi. Duke Marcello atau kakaknya sudah menyetujuinya dan siap untuk bertemu dengan istrinya. Meskipun keduanya harus berpisah kembali.


"Baiklah, lebih cepat, lebih baik."


Dan semakin aku ingin mempercepat perpisahan kita.


Duke Marcello tersenyum, ia mengelus pucuk kepala Duchess Natalie. Terbawa suasana, ia tidak menyadari Duchess Natalie tidak membalas senyumannya.


Kamu berselingkuh, maka aku juga bisa.


"Aku mau bersiap-siap Duke."


Duchess Natalie langsung pergi, ia jengah melihat laki-laki yang sok tulus itu.


"Sebaiknya Tuan menjaga sikap Tuan dengan Duchess." Tegur Kesatria Erland.


"Apa maksud mu? Aku merasa kasihan saja, tidak lebih." Duke Marcello dan Metteo melangkah pergi, ia lebih memilih menghindar dari terguran Kesatria Erland.


Tak butuh waktu lama, Duke Marcello melihat Duchess Natalie keluar dengan gaun berwarna hijau, sepatu kaca yang melekat di kaki indahnya dan topi putih di kelilingi pita dan hiasan bunga di sampingnya.


Deg


Deg


Deg


Duke Marcello tertegun, kecantikan Duchess Natalie membuat dunianya seakan berhenti, debaran demi debaran seakan keluar dari jantungnya. Hamparan bunga dan keindahannya bermekaran mengelilinginya. Dunianya seakan hanya milik berdua.


"Tuan!" tegur Kesatria Erland. Ia tidak begitu suka dengan Metteo yang menatap majikannya seperti itu.


"Ah, iya... Ayo masuk Duchess."


Duchess Natalie pun masuk ke dalam, kedua matanya memilih membuang wajahnya ke jendela kereta. Percuma, ia bertemu dengan kembaran Duke Marcello semuanya tidak berarti lagi.