Luka Duchess

Luka Duchess
Kemarahan Keyna



Sepasang insan itu saling melengkapi, seakan di ruangan itu hanya ada mereka. Duke Marcello sering mendapatkan perhatian dari istrinya, Duchess Natalien.


Duchess Natalien pun memanjakan Duke Marcello, selain sebagai suaminya, Duke Marcello juga membutuhkan perhatian untuk meningkatkan penyembuhannya. Keduanya tangannya dengan gesit, mengambil roti dan mengolesinya, lalu memberikannya pada Duke Marcello.


"Metteo, apa kamu juga menginginkannya?" tanya Duke Marcello, sejak tadi ia memperhatikan lirikan Metteo.


"Ah, tidak kak." Metteo gelagapan. Ia tidak mungkin menyetujuinya. Bisa-bisa ada kesalahpahaman lagi.


"Tidak masalah, Duchess akan memberikannya pada mu." Duke Marcello seakan menyuruh, matanya melihat Duchess Natalien yang sempat beberapa saat terkejut. "Duchess, ambilkan untuk Metteo."


Duchess Natalien segera mengambil roti tawar itu, ia mengolesinya dengan selai cokelat.


"Ini." Duchess Natalien menyodorkannya pada Metteo.


Dengan senang hati, Metteo memberikannya.


"Tuan, Nyonya." Seorang pelayan menunduk, menghampiri keduanya. "Di luar ada Nona Keyna."


"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Metteo. Ia bangkit, menghampiri kekasihnya itu.


Duchess Natalien dan Duke Marcello pun mengikuti Metteo karena rasa penasaran yang mengelabui keduanya.


"Metteo!" Keyna menggertakkan giginya, setelah apa yang ia lihat membuatnya menahan amarah. Lukisan yang berada di dalam kamar Metteo seketika membuatnya sakit dan ingin melampiaskan pada wanita itu.


"Jadi kamu ada di sini." Nada dinginnya membuat Metteo mengerutkan dahinya. "Selama beberapa hari, kamu tidak mendatangi ku."


"Katakan saja, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"


"Iya, sesuatu yang sangat berharga dan itu adalah kamu Metteo." Keyna menatap seseorang di belakang Metteo, wanita itu menyimpan sejuta amarah yang ingin di lampiaskan. Meskipun ada seseorang di sampingnya, tapi tidak akan mengubah sebuah fakta.


"Nona Keyna, aku senang bisa bertemu dengan mu lagi." Seru Duke Marcello.


Keyna tertawa miris, wanita yang di cintai oleh Duke Marcello seperti wanita ular tang telah menggoda kekasihnya.


Keyna kembali mendudukkan bokongnya, "Untuk apa kamu datang ke sini Metteo?" tanya Keyna mengalihkan pembicaraan.


"Aku hanya menjenguk kakak ku,"


"Tidak ada yang lain?!" Sarkas Keyna. "Apa yang kamu harapkan di sini Metteo? tidak akan kami dapatkan," ujar Keyna. Metteo merasa tersindir, ia merasakan Keyna telah menemukan sesuatu, dan ia ingat. Sebuah lukisan di kamarnya, setiap saat ia hanya melukis dan memandangnya dan ia kira, Keyna telah menemukannya.


"Apa maksud mu? aku bertemu dengan kakak ku." Metteo berkilah.


"Benar Keyna."


"Heh, Duke. Tolong jaga Duchess, aku takut Duchess tidak akan baik-baik saja." Sindir Keyna seraya memutar bola matanya.


Duke Marcello menatap tajam, ia tidak suka dengan ketidaksopanan Keyna.


"Istri ku tentu baik-baik saja dan aku menjaganya."


"Benarkah! aku takut Duchess melakukan kesalahan."


"Keyna!" Bentak Metteo. Ia langsung menarik lengan Keyna keluar dari ruang tamu itu. Keyna yang di seret pun meringis kesakitan, ia tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh Metteo.


"Sakit Metteo! kamu menyakiti ku."


Metteo sadar, ia melepaskan lengan Keyna dan terlihat memar. Namun ketakutannya membuatnya tak merasa kasihan.


"Apa maksud mu berbicara seperti itu?"


"Jangan pura-pura bodoh Metteo, aku tahu, lukisan itu, apa kamu mencintainya? katakan pada ku. Aku tau, Duchess yang menggoda mu, bukan. Selama ini dialah yang selalu menggoda mu."


"Keyna jaga ucapan mu."


"Seharusnya kamu yang menjaganya, Metteo. Mana Metteo yang aku kenal dulu? dia hanya mencintai satu orang, dia tidak akan mengkhianatinya atau aku katakan saja pada Duke." Keyna berbalik dan hendak masuk ke dalam. Ia yakin, Metteo sangat mencintai kakaknya itu.


"Hentikan Keyna! Ayo kita pergi!" Bentak Metteo. Namun langkah keduanya pun berhenti ketika mendengarkan seseorang memanggil Keyna.