Luka Duchess

Luka Duchess
Kerja Sama



"Metteo, dia Adelien. Gadis kecil yang bermain dengan kita."


Adelien memeluk Metteo, ia terkejut. Mengingat Gadis kecil yang selalu ia usilin, bahkan menangis kerenanya. "Aku merindukan Paman." Metteo membalas pelukan Adelien.


"Rupanya gadis cengeng itu, sudah besar," ujar Metteo.


"Adelien mengurai pelukannya." Dia memberungut kesal, selalu saja dirinya di ejek.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Metteo. Dia mengelus pucuk kepala Adelien.


"Aku baik,"


"Metteo!" Semua orang menoleh, termasuk Andelien yang memicingkan matanya.


"Adelien, dia kekasih Metteo."


Deg


Dada Adelien seperti di remas, kedua matanya berkaca-kaca. Air mata itu luruh begitu saja. "Hey, kenapa menangis?" tanya Duke Marcello.


Metteo mengakihkan pandangannya. Ia khawatir, tiba-tiba Adelien menangis di hadapannya. "Adelien, ada apa?" tanya Metteo dengan lembut.


"Ti-tidak, apa-apa. Aku hanya terharu saja," lirih Adelien. Tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya. Semenjak kecil ia selalu mengidamkan Metteo, ia selalu menempel padanya bagaikan lintah.


"Nona Adelien, mari saya antar ke kamar tamu," ujar Duchess Natalien yang melihat Pelayan Lilly telah kembali.


Adelien pun mengikuti langkah Duchess Natalien seraya menunduk. Ia sangat kecewa pada Metteo, laki-laki itu telah memiliki kekasih. Padahal niatnya datang kesini, jika Metteo tidak datang. Ia akan memohon pada Duke Marcello. Namun apa yang ia inginkan tidak sesuai dengan keinginannya.


Duchess Natalien menghentikan langkahnya di ambang pintu. "Nona Adelien, apa ada sesuatu yang mengusik mu?"


"Lily, kamu tunggu di luar. Berikan kode kalau ada orang yang mendekat." Duchess Natalien menarik tangan Adelien ke dalam, menutup pintu itu dan melihat dari bawah ke atas. "Kamu menyukai Metteo,"


Hah


Wajah Adelin pucat seketika, ia langsung berjalan ke arah jendela. Menghindari tatapan Duchess Natalien. Ia yakin, Duchess Natalien akan menyuruhnya melupakan Metteo.


"Tidak! siapa yang menyukai paman Metteo." Adelien ngotot dan tegas.


Duchess Natalien pun tertawa kecil. "Jangan berbohong pada ku, tatapan mu tadi mengatakan kalau kamu menyukai Metteo. Aku seorang wanita, aku tau arti tatapan mu tadi."


"Sudah aku bilang, aku tidak menyukai paman Metteo."


"Aku akan mendukung mu," ujar Duchess Natalien. Dia duduk melihat Adelien, mengamati wanita itu yang berdiri di depan jendela. "Sejujurnya aku tidak menyukai Keyna, karena dia telah mengusik hidup ku."


Adelien merasa terpancing, lehernya berputar, lalu menghampiri Duchess Natalien. "Maksud Duchess."


"Ternyata, dia teman masa kecil Duke Marcello."


Hah


Kedua mata Adelien membulat. "Maksud Duchess, wanita itu teman dekat Duke."


"Ya, semuanya berawal dari penyakit Duke. Metteo berpura-pura menjadi Duke Marcello. Sedangkan Duke Marcello sedang melawan penyakitnya. Pantas saja sikap Duke Marcello berubah, ternyata bukanlah Duke yang asli melainkan Metteo. Semenjak itu aku dan Metteo atau Duke Marcello sering berdebat., dan Metteo pun akhirnya jujur. Namun suatu hari, aku tidak tau Metteo memiliki perasaan atau tidak. Keyna cemburu dan salah paham. Hingga akhirnya, aku melihat kedua mata Keyna menyimpan sebuah kekaguman. Kerinduan seorang wanita pada seorang laki-laki, bukan karena teman masa kecil. Aku merasa tatapan itu berbeda. Pada akhirnya, Keyna melunjuk. Dia menantang ku, Duke Marcello memilihnya atau aku."


"Lalu kenapa Duchess mendukung ku? kalau Metteo menyukai Duchess."


"Itu hanya sebuah kesalahpahaman, meskipun Metteo menyukai ku. Aku tidak menyukainya, diriku hanya untuk Marcello. Aku menyayanginya, meskipun dulu sandiwara itu membuat ku kecewa, tapi aku sadar. Duke melakukannya agar aku tidak bersedih. Maka dari itu aku mendukung mu, buatlah Metteo mencintai mu. Sepertinya tadi dia mengagumi kecantikan mu."


"Be-benarkah," Bagaikan bunga yang baru mekar, wajah itu berseri-seri.


"Aku tidak berbohong, tatapannya lain. Berusahalah mendekatinya, meskipun tidak mudah. Setidaknya kamu sudah berusaha." Duchess Natalien beranjak. "Pikirkan kerja sama kita."


"Tunggu Duchess! aku mau, aku mau berkerja sama dengan mu."


Duchess Natalien tersenyum, kemudian mengangguk.


Keyna, lihatlah. Berapa lama kamu akan bertahan.