
Metteo masuk gerbang besi itu, berjalan menunduk tanpa mengangkat kepalanya atau pun menoleh. Tubuhnya terasa letih, di tambah lagi hatinya. Ia berfikir, ada kalanya ia tidak bisa memikirkan apapun. Hidupnya bebas tanpa rintangan, seandainya ia bisa menjadi anak kecil, tentu dengan senang hati ia akan menyambutnya.
"Duke!"
Metteo mendongak, ia tersenyum tipis melihat wanita yang bersemayan di hatinya bersama laki-laki lain, yang lebih anehnya adalah suaminya.
"Melihat wajah mu, apa Duke sedang ada masalah."
"Duchess, sepertinya Duke sedang lelah. Apa Duchess ingin menemaninya."
Duke Marcello dan Metteo berseru tetap. Keduanya seakan melakukan sebuah lomba dan sedang menunggu kemenangan dan kekalahan.
"Sudahlah, aku akan mengantarkan Tuan Metteo dulu, lagi pula sejak tadi akulah yang membawa Tuan Metteo jalan-jalan," ujar Duchess Natalie.
Metteo menunduk, percuma ia cemburu. Setelah kebenaran ini terungkap, maka dirinya bukan siapa-siapa untuk Duchess Natalie.
Sedangkan Duke Marcello tersenyum dengan puas, Duchess Natalie masih memperhatikannya, yang artinya hubungan mereka masih terbilang kuat.
Lain halnya dengan Duchess Natalie, ia memang sengaja memanasi Metteo, ingin melihat seberapa besar kecemburuan laki-laki itu.
"Ayo Tuan Metteo." Duchess Natalie memutar kursi roda itu, pasangan itu pun memasuki kediaman Duke.
Metteo menatap nanar, ia pun melanjutkan langkah kakinya.
Beberapa hari telah berlalu.
Duchess Natalie dan Duke Marcello atau yang berpura-pura menjadi Metteo semakin dekat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama dan bercanda bersama. Metteo yang asli pun meringis sendiri, ia seolah menjadi patung yang di abaikan. Duchess Natalie selalu mengutamakan kakaknya, pernah ia mengajak Duchess Natalie untuk keluar bersama, namun dengan tegas menolak ajakannya. Sedangkan bersama dengan kakaknya, Duchess Natalie tanpa ragu menyetujuinya.
Sama halnya dengan saat ini, Duchess Natalie tertawa lepas menikmati hidangan teh dan biskuit serta berbagai macam kue di pagi hari tanpa mengajaknya. Seolah dirinya sudah tidak ada.
"Duchess!"
"Duke Marcello, mari bergabung," ujar Metteo tersenyum. Sebagai seorang kakak atau suami dari Duchess Natalie, tentu ia berterima kasih karena telah menciptakan momen kebersamaan ini.
Metteo atau Duke Marcello duduk dengan cepat, ia juga ingin menikmati secangkir teh bersama kedua kakak iparnya itu.
"Minumlah selagi hangat," ujar Duke Marcello. "Duchess apa kamu menginginkan sesuatu? misalkan hadiah atau semacam apa?"
Metteo dan Duchess Natalie saling tatap. "Ya, boleh. Aku tidak akan menolak hadiah dari Metteo," ujar Duchess Natalie. Matanya tak berpaling dari kedua mata Metteo atau yang saat ini sebagai Duke Marcello.
"Ehem, tentu saja Duchess akan senang mendapatkan hadiah dari Adik," ucapnya kesal.
Duchess Natalie mengangguk. "Iya aku sangat menginginkan hadiah. Hadiah itu adalah harapan untuk ku."
"Harapan?" Metteo merasakan firasat yang tidak enak.
"Harapan ku, aku ingin tuan Metteo berkunjung kekediaman Duke."
Deg
Deg
Deg
Kedua laki-laki langsung linglung, keduanya pucat. Sungguh harapan atau permintaan yang tak bisa mereka tolak atau menerima.
"Tapi Duchess...."
"Apa salahnya Duke? kita adalah saudara, apa salah? aku rada tidak salah," ujar Duchess Natalie. "Bukankah saudara saling menyayangi, aku pikir begitu."
"Aku akan kesana."
Kedua mata Metteo membulat, ia tak menyangka kakaknya mau menuruti permintaan Duchess. Bukankah kakaknya tidak ingin semuanya terbongkar. "Kakak harus pulih lebih dulu."
"Aku punya usul, bagaimana kalau Tuan Metteo kita rawat di kediaman Duke, setelah sembuh, terserah Tuan Metteo apa masih mau di kediaman Duke atau kembali ke sini."
"Aku setuju, aku akan tinggal di kediaman Duke. Setelah sembuh aku akan keluar dari sana."
Metteo merapatkan kembali kedua bibirnya, ia ingin menjawab dan menolaknya secara halus, namun sepertinya, ia harus berbicara langsung pada kakaknya itu.
Pada Malam Harinya.
"Apa maksud Kakak menyetujui permintaan Duchess?" tanya Metteo menahan amarah. Ia tidak ingin di permainkan oleh Kakaknya. Ia berusaha bersama Duchess karena hatinya menginginkannya.
"Apa kamu tidak suka? atau kamu sudah menyukai Duchess?"
"Aku tidak menyukai Duchess, tapi aku takut semuanya terbongkar dan ini membuat kita sulit."
Metteo menahan sesuatu yang panas di hatinya, bukan api yang membakar kayu, tapi api yang membakar hatinya. "Kakak, selama ini aku sudah berusaha, Aku berusaha menuruti permintaan Kakak, tapi tolong jangan mempermainkan hati ku," ujar Metteo kemudian melenggang pergi.