
"Semoga Duke cepat sembuh." Keyna memberikan hormat, tatapannya sinis pada Duchess Natalien. Jika ia tidak bisa bahagia, maka Duchess Natalien juga tidak akan bahagia.
"Tidak bisa, aku harus mengatakannya pada Metteo."
"Sayang." Duke Marcello meraih tangan Duchess Natalien, menyadarkan lamunannya.
"Apa kamu merasa tidak enak dengan Keyna?"
Duchess Natalien tak menjawab, ia memilih pergi dan duduk di kursi putih dekat pohon itu. Duke Marcello pun paham, Ia mendorong roda itu, menghampiri Duchess Natalien. "Maaf, jika kedatangannya tidak membuat mu, nyaman."
"Kenapa kamu malah setuju dia datang ke sini?" tanya Duchess Natalien mengusap wajahnya secara kasar. "Apa kamu tahu? kedatangannya membuat ku risih."
Duke Marcello merasa bersalah, hatinya perih melihat Duchess Natalien yang tampak sedih.
"Maafkan aku, aku tidak berniat seperti itu. Jujur, aku menerimanya karena Metteo ada di sini, karena kesalahan ku mereka jadi renggang dan salah faham."
"Lalu bagaimana jika Metteo memang benar-benar menyukai ku?"
Seketika perkataan Duchess Natalien bagaikan petir. Ia sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Ia berharap dengan adanya Keyna di sini. Metteo bisa sadar, Duchess adalah miliknya dan ia tidak akan menyerahkannya pada siapa pun, termasuk adiknya.
"Kamu mencintai ku?" pertanyaan itu membuat Duke Marcello mantap dan seribu yakin.
"Lalu kenapa kamu tidak menghargai ku? apa itu yang di namakan cinta. O aku tau, Duke memang mencintai ku tapi tidak bisa menghargai ku. Contohnya, mengatakan cinta tapi masih bisa bersikap kasar."
"Ah, iya.. Duke tidak bersikap kasar, tapi menyakitkan."
Duke Marcello menggeleng.
"Kalau Duke masih bersikap lemah lembut dan terasa ingin menggoda, silahkan. Aku yang akan pergi."
"Duchess!" Duke Marcello menghela nafas berat, ia memang salah, tapi sungguh tak ada niatan untuknya membuat Duchess Natalien marah. "Maafkan aku, tapi tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Inilah yang di namakan cinta, tapi tak menghargai."
Duchess Natalie menurunkan tangan Duke Marcello, laki-laki lemas melihat kepergian sang istri, hidupnya bertambah rumit setelah penyakitnya.
Sedangkan di teras atas, seulas senyum tercetak di bibirnya, ia akan menemukan beribu cara agar Duke Marcello tidak mengusirnya. "Kamu tahu Duchess, ini semua karena kamu dan Duke. Kalianlah yang memulainya." Wanita itu kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. "Tahukan kalian, sebuah rahasia yang sangat rumit dalam hidup ku."
Bruk
Gadis kecil berpakaian putih itu jatuh setelah tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Maaf-maaf, apa kamu tidak apa-apa?" tanya anak laki-laki itu, dia membantu gadis kecil itu berdiri. "Maaf ya, imbuhnya lagi."
Gadis kecil itu tercengang, laki-laki di hadapannya bagaikan matahari yang memancarkan cahaya di sekeliling tubuhnya.
Ia terpana dengan ketampanannya.
"Hey!" lamunannya buyar, ia menampilkan senyuman indahnya.
"Aku tidak apa-apa?" Anak laki-laki itu tersenyum kikuk.
"Aku bantu kamu membawa keranjang itu," ujarnya seraya mengambil keranjang yang tadinya jatuh. "Ka-kamu ingin beli apa?"
"Tadi aku di suruh ibu untuk membeli beberapa sayuran."
"Siapa nama mu?" tanya Keyna kecil. Sosok yang tampan itu membuat jantungnya berdegup, tubuhnya panas dingin.
"Marcello, aku Marcello."
"Aku Keyna..."
"Nama yang bagus, sebagai permintaan maaf, aku akan memberikan nama yang paling bagus untuk mu, Na-Na.."
Tentu saja Keyna kecil mengangguk antusias, karena selama ini tidak ada yang memberikan nama spesial padanya.
Kedua anak berbeda jenis itu pun berbincang, Marcello kecil membantu Keyna berbelanja sayuran dan membantunya memilih sayuran yang bagus. Kedua anak itu pun akrap dan sering bermain, sering bertemu di sebuah pohon besar dekat bukit. Namun suatu hari hancur karena kedatangan seorang anak kecil."
"Natalien.. Itu adalah kamu, ya! kamu yang menghancurkan semuanya."
"Selama ini aku sudah melupakannya, Marcello bahagia dengan mu dan aku mencoba mengalihkan pada Metteo, dulu dan sekarang kamu menghancurkan semuanya."
Keyna meremas dadanya yang terasa perih, bertahun-tahun dia melupakan semuanya. Menghilang dari Marcello.