
Sesuai dengan rencana, Adelien membawa koper besar itu. Dia menuruni anak tangga satu per satu. Memakai gaun berwarna merah yang pas di tubuhnya.
"Adelien, aku mencari mu untuk sarapan." Duchess Natalien terkejut saat tatapannya beralih pada koper itu. "Apa maksudnya Adelien?"
Adelien menangis, dia memeluk Duchess Natalien. "Aku-aku minta maaf, Duchess." Adelien terisak, ia semakin ingin menumpahkan kesedihannya. Sandiwaranya untuk menangis, ia harus mengingat kekecewaan pada Metteo.
"Katakan, apa ada seseorang yang mengganggu mu?"
Adelien melepaskan pelukannya. Menatap sendu wanita di hadapannya. "Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang Duchess."
"Maksud mu? katakan siapa yang melakukannya?"
"Keyna?" tanya Duchess Natalien. Adelien diam dengan tangisan yang mendalam.
"Keyna!"
"Keyna!"
"Cepat panggil Keyna!" sentak Duchess Natalien pada pelayan Lilly.
Pelayan Lilly memanggil Keyna dan di temani oleh Metteo. Laki-laki itu juga kesal di lihat wajahnya yang suram.
"Ada apa Duchess?"
"Apa yang kamu lakukan pada Adelien Keyna?" tanya Duchess Natalien.
Metteo tidak tinggal diam, ia ingat Keyna yang mengadu padanya bahwa Adelien mendekatinya karena mencintainya dan berniat bersaing dengannya. Bahkan tadi malam Adelien sempat menemuinya dan menyuruhnya pergi. "Seharunya Duchess bertanya pada Adelien."
Metteo menatap sengit Adelien. Ia tidak percaya Adelien bisa bersikap kasar pada Keyna.
"Apa salah ku?"
"Salah mu, karena telah menemui Keyna dan bersikap kasar padanya."
"Kamu menyukai ku, tapi aku tidak menyukai mu Adelien."
"Cukup!" Sekujur tubuhnya terasa sakit, bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak. "Cukup Metteo! Aku memang menyukai mu, tapi aku tidak serendah itu." Adelien menunjuk Metteo. Karena cinta, dia malah buta. "Aku menemui Keyna, kapan dan jam berapa?"
"Sudahlah Metteo, jangan memperpanjang masalah ini." Keyna mengusap air matanya. "Aku tau, nona Adelien pasti tidak sengaja."
"Berhentilah, berpura-pura nona Keyna."
"Cukup Metteo!" Duchess Natalien melangkah ke tengah-tengah mereka. "Jangan hanya karena Keyna adalah kekasih mu, lalu kamu gelap mata."
"Duchess! aku tau kamu tidak menyukai Keyna, tapi perbuatan Adelien. Aku tidak suka," Metteo bersitegang, ia tidak merasa bersalah. Karena Keyna tidak mungkin membohonginya.
"Baik, kamu percaya padanya kan."
"Ada apa ini?" semua orang menoleh. Duke Marcello bergegas pergi dari ruang makan saat mendengarkan teriakan orang.
"Adelien, dia bersikap kasar pada Keyna. Aku tidak suka melihat Keyna di salahkan dan Duchess malah membela Adelien. Dia tidak menegurnya, aku tau Duchess tidak senang dengan Keyna. Karena Keyna teman masa kecil Kakak. Duchess cemburu bukan," Duchess Alexsa tidak percaya dengan perkataan Metteo, rasanya ia tidak melihat Metteo yang ia kenal.
"Kalau Duchess tidak suka dengan Keyna, tapi dia juga harus melihat kebenarannya."
"Adelien, minta maaf pada Keyna!" perintah Metteo. Kesalahan tetaplah kesalahan. Dia akan tegas pada sebuah kesalahan.
"Keyna, apa yang di katakan oleh Metteo benar? kamu bersikap kasar pada Keyna?" tanya Duke Marcello dengan lembut. "Minta maaf kalau kamu melakukan itu."
"Aku tidak akan minta maaf. Karena aku tidak bersalah. Aku memang menyukai paman Metteo, tapi aku tidak pernah berbuat kasar pada nona Keyna. Tadi malam justru dialah yang datang pada ku."
"Sudahlah, ini hanya masalah biasa. Aku tidak apa-apa. Sebaiknya aku pergi dari kediaman ini."
"Aku percaya pada Adelien." Sanggah Duchess Natalien.
"Duchess Natalien tidak menyukai ku, kan?" ujar Keyna semakin menangis.
"Duchess, kalau Adelien salah. Kamu tidak bisa membelanya. Dia tetap salah walaupun kamu tidak menyukai Keyna," ucap Duke Marcello pelan. Ia tidak mau, karena tidak menyukai. Duchess malah menutup mata dengan kebenaran.
"Apa karena Keyna teman masa kecil Duke, lalu Duke membelanya?"
"Demi apapun aku tidak membela Keyna. Aku hanya takut karena tidak suka kamu malah menutup mata."
"Justru kamu dan Metteo yang menutup mata. Apa ini seorang Duke yang di kenal adil? hanya mendengarkan satu pihak. Apa kalian mendengarkan penjelasan Adelien."
"Maaf!"
"Adelien, katakan sesuatu yang membela mu."
Adelien selangkah maju, tidak ada tangisan lagi. Ia benci di salahkan apa yang tidak pernah dia lakukan. Tatapannya mengisyaratkan penuh kebencian pada Metteo. "Tadi malam, nona Keyna yang datang pada ku, dia yang mencengkram tangan ku." Adelien memperlihatkan memar serta goresan kuku di lengannya. "Aku tidak gila, aku tidak berrekayasa sampai harus melukai tangan ku sendiri."
Tubuh Keyna menegang, ia lupa bahwa tadi malam mencengkram lengan Adelien. Namun menggoresnya, ia tidak merasa.