Luka Duchess

Luka Duchess
Nana



"Hey, kenapa?" Duchess Natalien merasa janggal, tidak biasanya wajah itu seperti menahan amarah.


Duke Marcello memejamkan matanya. "Apa kamu bisa menjauh dari Metteo?"


"Maksudnya?" Duchess Natalien mengernyit bingung. "Menjauhi Metteo? aku sudah menjaga jarak dengannya."


"Lalu kenapa tadi Duchess bersama Metteo?"


"Jadi Duke melihatnya dan menuduh ku bermain api dengan Metteo?!" Sarkas Duchess Natalien. Ia seakan tidak percaya, Duke Marcello tidak mempercayai saudaranya dan istrinya. "Aku menyuruhnya untuk membawa Keyna. Aku merasa risih dengan kedatangannya, tapi Duke mengabaikan aku."


Duke Marcello tidak paham apa yang ada di pikiran Duchess Natalien, ia sudah menjelaskan bahwa keinginannya murni mempersatukan Metteo dan Keyna, menyadarkan Metteo bahwa Duchess Natalien tidak bisa ia miliki. "Sebenarnya apa maksud mu Duchess? apa kamu tidak ingin Metteo pergi?"


"Seharusnya bukan hanya Metteo, tapi juga Keyna."


Duke Marcello menatap nanar, Duchess Natalien memang sangat berubah, tidak mengerti lagi pikirannya. "Duchess, aku hanya... "


"Sama dengan ku Duke, aku hanya ingin hidup nyaman, tapi kamu..."


Dari balik pintu, seorang wanita tengah tersenyum. Tanpa ada yang menyadari gelagatnya, ia menguping pertengkaran suami istri. "Ingin membuat ku pergi, seribu cara pun kamu tidak akan bisa. Bagaimana kalau Duke tahu, siapa aku? aku yakin, dia akan berfikir seribu kali mengusir ku."


Hah


Keyna terkejut, seseorang mencekal tangannya dan menariknya dengan kasar. "Apa yang mau kamu lakukan Keyna?" sentaknya dengan tegas.


Keyna meringis, ia ingin menarik pergelangan tangannya yang sakit dan menyiksa itu. "Lepaskan dulu, aku tidak melakukan apapun." Serunya dengan suara yang di sertai ringisan.


Metteo tidak langsung percaya, ia tahu Keyna cemburu dan takut akan melakukan sesuatu. "Jangan merusak hubungan mereka Keyna!"


Keyna menggesekkan giginya, tidak semudah itu. Selama ini ia berusaha menyerahkan apa yang sudah miliknya pada milik orang lain dan semua itu karena Duchess.


"Dulu .." Kedua mata Keyna berkaca-kaca, hidungnya memerah. "Dulu aku mengalah, tidak mengambil atau mempertahankan apa yang aku miliki, tapi sekarang."


"Apa maksud mu, Keyna? jangan menggunakan tipu daya atau teka teki pada ku."


Keyna sangat kecewa pada Metteo dan Duke Marcello, keduanya terpikat pada Duchess. Sebenarnya apa kekurangannya? ia tidak mengerti, ia berusaha menjadi terbaik. Namun semua usahanya sia-sia. Sekian lama ia tidak bertemu dengan Duke Marcello, setelah pertemuan itu. Hatinya masih pilu, tapi ia bertahan demi Metteo.


"Maafkan aku, ini bukan salah mu." Metteo sadar, posisinyalah yang salah. "Maafkan aku tidak menjaga perasaan mu, tapi percayalah, aku berusaha dan berusaha menjaganya untuk mu. Besok pagi kita pulang, mari kita mulai hidup baru." Setelah mengucapkan apa yang di pikiran dan di hatinya, Metteo langsung pergi. Sedangkan Keyna langsung menghapus air matanya.


"Sudah terlanjur, aku akan jujur siapa diriku."


Pada malam harinya.


Duchess Natalien dan Duke Marcello tidak bertegur sapa, Duke Marcello ingin meminta maaf. Namun Duchess Natalien seperti menghindarinya. Bahkan acara makan malam pun, Duchess Natalien terkesan cuek. Setiap kali ia ingin berbicara, Duchess Natalien mengatakan sedang lelah atau semacam lainnya yang menjadi alasannya untuk menghindar.


Sedangkan Duchess Natalien ia menghindarkan karena amarahnya, ia takut lisannya akan menyakiti Marcello. Berusaha berterimakasih pada pemilik tubuh aslinya yang telah membuatnya hidup.


"Duke!" Keyna tersenyum, laki-laki yang ia cari. Akhirnya ia temukan. "Sedang apa? udara malam tidak baik untuk kesehatan Duke."


"Aku mencari udara dingin. Lalu nona Keyna, kenapa keluar malam?"


"Sama, aku juga mencari udara dingin." Keyna memandang lurus. Ia mengusap kedua lengannya. "Sama seperti dulu, sifat Duke tidak pernah berubah. Setiap Duke marah, pasti Duke akan keluar. Alasannya pun sama, mencari udara malam."


"Apa maksud mu?" tanya Duke Marcello. Ia merasa Keyna tau tentang dirinya.


"Apa kamu ingat gadis kecil yang kamu panggil Nana?"


Deg


Kedua bibir Duke Marcello mengatup rapat, kilasan memori berputar di kepalanya.