Luka Duchess

Luka Duchess
Aku Akan Pergi



Keesokan harinya.


Duchess Natalien dan Duke Marcello kembali bersua, tampak berbincang hangat dan saling bercanda. Seakan keduanya tidak ada masalah yang menerjang dan hal itu membuat wanita di sebelah Metteo meremas gaunnya. Wanita itu menatap kesal ke arah Duchess Natalien, kemarin ia mengira keduanya telah bertengkar hebat dan berakhir. Namun sekarang apa yang ia lihat? di luar dugaannya.


Dengan manjanya Duke Marcello meminta Duchess Natalien menyuapi, setelah tadi malam keduanya sempat berseteru dan akhirnya membuahkan hasil, ia menerima permintaan Duchess. Walaupun dia harus meminta maaf pada sahabat kecilnya itu. Dia berharap, sahabat kecilnya mau mengerti dan memahami.


"Kakak, aku dan Keyna akan kembali."


"Hari ini," imbuhnya lagi.


Duke Marcello mengangguk. "Baiklah, tapi jika kalian ingin ke sini. Pintu rumah ini terbuka untuk kalian."


Metteo tersenyum, mungkin inilah jalan takdirnya, ia harus berpisah dengan Duchess Natalien dan juga sang kakak.


"Keyna, Duchess sudah tau kamu teman masa kecil ku."


"Maksud Kakak?!" sambar Metteo.


"Apa Keyna tidak menceritakannya?"


Metteo berpaling ke arah Keyna. Wanita itu menunduk diam dengan sejuta kekesalannya. Sedangkan Duchess Natalien malah tersenyum sinis.


"Maaf, Matteo. Aku tidak mengatakannya pada mu. Aku takut kamu merasa tidak nyaman."


Metteo kecewa, ia yang sudah menjalin hubungan lama. Keyna malah menyembunyikannya. Apa dia tidak di anggap sebagai orang yang berharga?


"Apa ada alasannya nona Keyna tidak mengatakannya pada Metteo? kalian adalah sepasang kekasihnya. Seharusnya kalian saling terbuka."


Hati Keyna semakin menjerit, sumpah serapah dalam hatinya. Ia keluarkan pada Duchess Natalien. Wanita yang kini menyindirnya.


"Maaf!" Hanya kata itu yang bisa ia ungkapkan dan merasa bersalah. "Aku bersalah, hanya karena tidak ingin Metteo salah paham."


Metteo pun beranjak, dia meninggalkan meja makan itu di tengah kesunyian. Dia merasa menjadi orang yang tidak penting untuk Keyna. Setelah sekian lamanya menjalin kekasih, Keyna justru menyimpan rahasianya.


"Duke! aku harap kamu mengerti. Bukan maksud ku seperti itu."


"Dan untuk Duchess, maaf kalau kehadiran ku membuat mu tidak nyaman." Keyna pun pergi dengan air mata yang bergelinang. Sedangkan Duchess, ia tau, Keyna hanya ingin menarik simpati suaminya. Dengan santainya, dia memakan roti kecil itu.


"Duchess!"


"Ya, apa Duke merasa kasihan? aku hanya ingin Duke membuktikannya."


Duke Marcello menggenggam tangan Duchess Natalien. "Tidak, aku tidak mempermasalahkannya. Ayo kita lanjutkan,"


Keduanya pun melanjutkan acara sarapan yang sempat berhenti. Seakan tidak terjadi apapun, keduanya malah saling menyuapi bahkan meminum segelas susu pun. Tangan Duke dan Duchess menyilang. Keduanya meminum secara bersamaan dan tertawa.


"Sial! mengapa mereka masih bersama? padahal aku sudah sedrama mungkin mengiba di hadapan Duke. Benar, air mata ku tidak lagi menggerakkan hati Duke, tapi aku tidak akan menyerah."


Keyna yang bersembunyi di balik tembok itu, kemudian berlalu dan menemui Metteo.


"Apa ada suatu alasan yang kamu sembunyikan?" tubuh tegap itu berdiri, di depan jendela, membelakangi Keyna yang masih berada di ambang pintu.


"Aku tidak menyembunyikan apapun." Seru Keyna dengan malas. Ia harus kembali berekting dan menampilkan wajah kesedihan. "Kamu tidak percaya pada ku,"


"Tidak, apa kamu menyukai Kakak ku?"


Keyna memegang tangan Metteo, memutar tubuhnya. Hingga berhadapan dengannya. "Aku tidak menyukainya, kamu tau sendiri alasan ku tadi."


"Baiklah." Metteo menyerah, namun hatinya merasa janggal. Metteo menarik tangan Keyna, namun wanita itu terdiam dan beberapa saat kemudian, tubuh wanita itu melemah. Metteo dengan sigap merangkul tubuhnya. Hingga tidak sampai jatuh ke lantai.