Luka Duchess

Luka Duchess
Tidak Percaya



"Benar! tadi malam saya melihat nona Keyna ke kamar nona Adelien," ujar seorang pelayan. Dia menutup mulutnya dan menunduk. Seakan menyadari, mulutnya keceplosan.


"Tidak, kamu jangan berbohong!" Keyna tidak terima, dia melihat Duchess Natalien dan Adelien.


Duchess Natalien menggeleng, seakan dia juga kecewa.


"Tidak Duchess, ini tidak benar. Pelayan itu berbohong."


"Nyonya, bahkan saya juga melihat nona Adelien di cengkram tangannya. Saya ingin menolong, tapi saya takut pada nona Keyna."


Duke Marcello tatapannya sangat kecewa, ia tidak menyangka wanita yang ia kenal sejak kecil berbuat kasar. Sedangkan Metteo, wajahnya memerah menahan malu. Keyna berbuat di luar nalarnya, padahal ia sudah percaya padanya. Ia kecewa, sangat kecewa sampai ia tidak ingin berbicara atau menatapnya.


"Metteo!" Keyna menggenggam tangan kanan Metteo, menatap wajahnya yang berpaling darinya. "Aku, aku melakukan semua ini karena aku takut kehilangan mu dan aku melihat Nona Adelien menyukai mu, aku sangat takut. Makanya aku mengancam."


"Sudahlah, aku sudah memaafkannya." Sambar Adelien. "Aku pamit pergi."


"Adelien!" Duchess Natlien dan Duke Marcello menyebut nama itu, keduanya merasa bersalah apa lagi dengan Duke Marcello.


"Kita bisa bicara baik-baik Adelien."


"Adelien, tunggu!" Metteo bersuara. Langkah kaki Adelien pun berhenti dan kemudian memutar tubuhnya.


"Apa Paman? anggap saja aku tidak mengatakan apapun, bagi ku sudah cukup Paman menganggap ku saudara. Ya, maaf aku egois dan terima kasih atas waktunya."


Adelien meminta kusir kediaman Duke mengantarnya dan tentu saja, kusir itu mengantar Adelien menempuh perjalanan menuju rumahnya.


"Duchess!" Duchess Natalien diam. Ia memilih tidak berdebat atau berbicara dengan Duke Marcello. Ia kecewa dengan sikap Duke Marcello yang tidak percaya pada Adelien. Mengingat air mata itu, ia ingin mencegah Adelien, tapi ia paham perkataan Metteo membuatnya terluka dan membutuhkan waktu untuk di sembuhkan. Baru beberapa hari dia datang dengan penuh semangat dan tekad yang kuat, namun sepertinya gadis itu sudah menyerah.


Duchess Natalien memilih pergi meninggalkan ketiga orang itu, Duke Marcello mendorong roda itu mengejar sang istri. Sedangkan Metteo, dia menghempaskan tangan Keyna. "Aku kecewa pada mu, Keyna."


"Mettoe! tunggu." Keyna berlari menaiki anak tangga, sampai Metteo memasuki kamarnya Keyna mendekat dan berdiri di hadapannya.


"Aku melakukan semuanya demi kita."


Metteo membanting pintu kamar itu, dadanya naik turun dengan nafas panasnya. "Demi hubungan kita? jangan bercanda Keyna. Dari awal aku apa bagi mu?"


"Selama ini kamu mengusik kehidupan Duchess Alexsa dan Duke Marcello. Apa kamu kira aku tidak tahu, aku tau dan dapat merasakannya."


"Atau jangan-jangan selama ini kamu hanya menganggap ku pengganti dari Duke Marcello dan kamu menyembunyikan semuanya. Setelah semuanya berjalan sesuai dengan rencana mu, kamu akan kembali pada Duke Marcello."


"Tidak Metteo, itu semua tidak benar." Keyna berkata sesegukan.


"Aku melakukan semua ini demi kita."


"Jangan katakan itu lagi Keyna! dari awal kami sudah berusaha memisahkan Duchess Natalien dan Duke." Tunjuk Metteo tepat di wajah Keyna. Keberanian wanita itu langsung surut, dia benar-benar takut melihat kemurkaan wajah Metteo yang seakan menggulitinya hidup-hidup.