Luka Duchess

Luka Duchess
Pertengkaran Metteo dan Keyna.



Keyna menggeram, ia melihat sekeliling ruangan Restaurant itu. Duke Marcello dan Duchess Natalien, sama sekali tidak ada. Ia kira, Duke Marcello tidak akan setega itu padanya, membiarkannya dan meninggalkannya sendiri. "Duchess!"


prang


Karena emosi, Keyna mendorong sebuah gelas itu, tentu saja seorang pelayan datang menghampirinya. "Nona, apa yang kamu lakukan?" pekik pelayan itu, gelas yang pecah itu bukan gelas biasa. Bahkan harus memesan gelas yang berkualitas demi kenyamanan para bangsawan. Benar, Restaurant itu, Restaurant para bangsawan.


"Aki bisa menggantinya," ujar Keyna. Dia tidak terima di perlakukan seperti itu. Di bentak di hadapan orang banyak.


"Nona dari bangsawan mana?" tanya pelayan itu.


Keyna membeku, ia bukan dari keluarga bangsawan. "Kalian datang dan minta saja tagihannya pada Duke Marcello, kediaman Duke Marcello."


"Astagah! sombong sekali dia," ujar salah satu bangsawan laki-laki. Pertikaian itu membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka.


"Kediaman Duke? siapa dia? aku tidak pernah melihat wanita itu. Apa dia saudara Duke? cih, hanya saudara saja sudah belagu," timpal yang lainnya.


"Aku tidak percaya, keluarga Duke mempunyai saudara seperti dia. Duke Marcello dan Duchess Natalien, sangat menyayangi rakyat."


Bisik-bisik pun meraung di Restaurant itu. Mereka tidak suka sikap Keyna yang terlalu sombong.


Lainnya dengan Keyna, wanita itu begitu marah. Setelah di tinggal, dia mendapatkan masalah dengan pelayan itu bahkan mengganti rugi. "Sialan! apa Restaurant iti miskin sampai minta ganti rugi," cebiknya kesal.


Langkah kakinya pun menyusuri Ibu Kota. Namun ia tidak melihat orang yang di carinya, bahkan Metteo dan Adelien pun tak terlihat oleh kedua matanya. "Kemana mereka?" Kakinya terasa pegal mencari di setiap toko. Padahal Duchess Natalien dan Duke Marcello tengah memasuki toko yang sempat dia masuki. Duchess Natalien sadar, dia mencari tempat persembunyian yang aman bersama Duke, kini dia berada di lantai atas seraya melihat ke arah Keyna yang tampak kesal.


"Sayang, apa kamu suka dengan gaun ini?" tanya Duke Marcello. Dia berbincang banyak dengan sang Desainer.


"Aku ingin gaun, tapi yang sama dengan Duke." Duchess Natalien melihat gambar itu.


"Tentu Nyonya, sesuai dengan pesanan Nyonya Duchess. Saya akan usahakan warnanya sama dan segera mengirimkannya ke rumah Duke."


"Oh, tentu saja bisa tuan."


Wanita setengah tua itu memberikan beberapa lembar sepatu.


"Sayang, coba lihat. Ini bagus untuk mu," ujar Duke Marcello, dia menunjuk salah satu gambar sepatu itu.


"Apa yang Duke sukai? tentu aku menyukainya."


Sedangkan Keyna, kedua matanya membulat saat melihat Metteo tengah menyuapi Adelien. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta tanpa ada rasa canggung dan malu. "Paman, aaa..." Adelien menyuapi Metteo dengan kue di hadapannya. Keduanya tampak sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.


"Enak sekali mereka bersenang-senang, sedangkan aku, aku malah menderita kepanasan."


"Adelien ini sangat enak sekali," ujar Metteo.


"Aaa..." Adelien hendak menyuapi Metteo. Namun seseorang menepisnya dengan kasar.


Hah


Adelien terkejut dan langsung berdiri. Karena kue itu mengenai gaunnya.


"Keyna, apa kamu lakukan?" Metteo marah, ia tidak terima perlakuan Keyna pada Adelien.


"Kenapa? ingin marah pada ku. Kamu malah bersenang-senang dengannya. Sedangkan aku di tinggal."


"Keyna?!" Kedua mata Metteo menajam. "Apa maksud mu, hah? kamu menuduh ku dan Adelien. Padahal kita saudara jauh, jadi tidak mungkin ada hubungan di antara kita!"


#Halo kak🤭 semoga yang baca sehat selalu, keluarganya di lancar rezekinya, umurnya di berikan umur yang barokah dan maaf, jika ceritanya tidak puas. Jangan lupa, baca juga "HURT! MOMMY"