
Kedua mata itu saling berseru tatap, pandangan keduanya bagaikan sengatan listrik yang memicu percikan api.
Saling diam dan menatap sengit, salah satu dari keduanya menyudahi tatapan itu dan memilih pergi.
"Duchess!"
Ketukan sepatu itu berhenti. Wanita itu tak menoleh sedikit pun.
"Apa Duchess senang telah membuat Metteo berubah?" Perkataannya bagaikan desiran angin panas.
"Apa maksud mu? Aku tidak ada niatan merebut siapa pun." Acuh Duchess Natalien. Dia berbalik, kemudian melipatkan kedua tangannya. Memandang aneh wanita di hadapannya. "Meskipun dulu aku mengira kekasih mu adalah Duke Marcello atau suami ku, tapi aku tidak menaruh ketertarikan padanya."
Hah
Keyna mendengus, "Aku tidak mempercayai mu."
"Seharusnya kamu khawatir kalau Metteo akan jatuh cinta pada ku dan kamu seharusnya berusaha mendapatkan cintanya kembali, bukan malah menyusahkan diriku," ujarnya tersenyum mengejek. "Maaf, aku tidak berniat mengocehi mu, aku tau, kamu juga korbannya, alangkah baiknya dan sangat baik kalau kamu berusaha mengalihkan cintanya kembali."
Duchess Natalien berbalik, seketika menghentikan langkahnya kembali.
"Seharunya kamu sadar Duchess, wanita seperti mu memang mudah di bohongi. Kamu tidak tau, kalau kekasih ku adalah orang yang berpura-pura menjadi suami mu. Seharunya kamu menyadarinya, aku ragu apw Duke mencintai mu paling dalam atau mencintai paling dangkal."
Duchess Natalien meremas gaunnya. "Entah itu cinta atau tidak, yang jelas kekasih mu mulai tertarik pada ku."
"Aku akan menghancurkan mu, Duchess."
Duchess Natalien menoleh. "Aku tunggu, lagi pula aku pernah merasakan hancur. Jadi bagi ku sudah biasa."
Keyna melenggang pergi dengan perasaan kesal. Sepanjang perjalanan, ia menggerutu tidak jelas. Mengumpet tentang Duchess Natalien yang menurutnya sombong. Amarahnya meluap-luap, kepalanya terasa meledak mengingat kesombongan wanita yang ia benci itu.
"Duke.." Keyna menghentikan ocehannya itu, kedua matanya menangkap sosok yang sedang berdiri dari kursi rodanya. Di temani oleh dua orang pria berkaca mata dan menggunakan jas putih. Kedua laki-laki itu terlihat menjelaskan sesuatu dan Duke Marcello menangkap penjelasannya.
Duke Marcello menurunkan kaki kanannya, kemudian di susul kaki kirinya. Sir Erland pun memegangi kedua tangan Duke Marcello. Laki-laki itu perlahan melangkah, akibat kemarin ia berusaha keras untuk berjalan hingga kakinya merasakan sakit. Racun yang ia lalu beberapa tahun lalu, mengakibatkan efek lumpuh sementara.
"Ah iya..."
Duke Marcello melangkah, kemudian melepaskan tangannya. Duke Marcello merasakan nyuli, tubuhnya tak kuat lagi menopang, hingga tangan seseorang membantunya menegakkan tubuhnya. "Duke tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, terima kasih."
Sir Erland dengan cepat mengambil alih tubuh Duke Marcello dari tangan Keyna. Salah satu Dokter itu mendorong kursi roda Duke Marcello. "Kita hentikan dulu terapi hari ini, dan besok kita melanjutkannya lagi."
"Baiklah,"
Kedua pria berjas putih itu, membungkuk hormat.
"Tunggu, apa tidak terjadi sesuatu yang serius pada kaki Duke?"
"Tidak Nona." Salah satu Dokter menjawab dan yakin.
"Syukurlah, Aku khawatir,"
"Nona tidak perlu khawatir, ini hal biasa bagi seorang pasien."
Keyna membentak kedua Dokter itu. "Apa?! kalian bilang hal biasa, kalian tidak melihat tadi Duke hampir saja terjatuh!" Wajah Keyna memerah.
Duke Marcello menyela. "Aku tidak apa-apa, aku sudah terbiasa, kalian boleh pergi."
Kedua Dokter kembali membungkuk, dalam beberapa langkah. Kedua pria itu berpapasan dengan Duchess. "Terima kasih."
"Sama-sama Duchess."
Pandangan Duchess Natalien beralih, sejenak ia tersenyum pada laki-laki yang berstatus suaminya itu. Kemudian beralih pada wanita di sampingnya.
Berulah