
#Maaf ya kak, typo mulu. Autor memang tidak bisa kalau dua novel on going, pasti ketuker namanya🤧.
Wanita itu menatap laki-laki yang baru saja duduk, wajah lelahnya tak mengurungkan niatnya untuk mencecarnya berbagai macam pertanyaan. Sudah sebulan, semenjak permasalahan itu. Metteo begitu dingin dengan Keyna, sedangkan Keyna semenjak kejadian itu, dia memohon pada Duke Marcello untuk tetap tinggal. Namun Duke Marcello tetap ingin mengusirnya, tapi Duchess Natalien melarangnya.
Duchess Natalien ingin melihat bagaimana hubungan Metteo dan Keyna dan juga dia ingin mengawasi Keyna dari dekat. Semenjak Sebulan ini pula, Duchess Natalien dan Keyna jarang menyapa. Namun bendera perang tetap berkibar di antara keduanya.
"Sampai kapan Metteo? sampai kapan kamu akan mengabaikan ku?"
"Apa kamu tidak lelah?"
Metteo mendengus kesal, bukannya dia tidak ingin pergi di rumah Duke, tapi dia ingin dekat dengan saudaranya. Sekian tahun dia tidak dekat dan sekarang mumpung ia di berikan kesehatan dan umur. Jadi ingin memanfaatkan kesempatan ini.
"Aku tidak lelah, aku masih kecewa."
"Aku begini saja kamu kecewa, lalu bagaimana dengan mu yang mencintai Duchess. Hal itu sudah membuat ku kecewa dan aku memakluminya, tapi kamu."
"Oh begitu, lalu saat kamu kembali mengejar kakak ku, Duke Marcello apa itu tidak cukup membuat kecewa."
"Sudah aku bilang, aku tidak mengejar Duke."
"Orang bodoh pun tahu, kalau kamu memiliki perasaan pada Duke." Metteo meninggalkan Keyna di kamarnya, ia memilih pergi dari pada harus memperpanjang perdebatannya. Bukannya, ia tidak menghargai, tapi untuk menghargainya. Ia benar-benar kecewa.
"Metteo!" Duke Marcello menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkan sarapan pada Duchess Natalien.
Kini Duke Marcello yang sudah kelihatan sehat, kini dia tidak di bantu lagi dengan tongkat maupun kursi roda. "Ada apa lagi Metteo? setiap hari wajah mu selalu kusut seperti pakaian yang robek."
"Kakak tau, aku lelah dengan Keyna."
Metteo duduk di sofa merah itu, mengusap wajahnya.
"Kamu lelah atau kamu tidak menyukai Keyna. Sebenarnya dulu kamu menyukainya atau hanya kasihan Metteo? orang kalau sudah mencintai, seburuk apapun dia, kamu akan tetap bersamanya, mengubah sifat buruknya, tapi saat ini, aku sebagai kakak mu selalu bertanya-tanya, apa Cinta memang semelelahkan itu?"
"Entahlah kak, aku tidak tahu. Di mana Duchess, tumben kakak sendiri."
"Duchess tidak enak badan, dia sering mual dan pusing."
"Apa kakak sudah memanggil dokter?"
Akhir-akhir ini pikirannya tertuju pada Adelien. Rasa sesal itu selalu menghantui pikirannya.
****
Dilihatnya wanita yang terbaring pucat, ia duduk menatap lekat wajah lemah itu. Khawatir, takut rasa itu pahit dan bercampur aduk. Di ciumnya pipi kanan dan keningnya.
Mata itu terbuka
"Maaf mengganggu mu, tapi sarapannya belum kamu sentuh sama sekali," ujar Duke Marcello melihat roti dan susu itu masih seperti semula.
"Aku mual, aku tidak ingin menyentuh makanan itu. Duke, aku ingin mangga muda.."
Hah
Duke Marcello melotot, mangga muda. Seperti apa rasanya ia tidak tahu?
"Sayang, jangan makan yang aneh-aneh. Kalau bahaya bagaimana?"
"Ih, mangga muda itu enak Duke, aku sangat ingin memakannya. Air liur ku sampai ingin menetes."
"Kamu boleh minta lainnya, tapi jangan itu. Mustahil makan mangga muda, yang ada mangga masak," ujar Duke Marcello. Karena selama hidupnya. Mangga di makan saat masak.
"Tuan, Dokter sudah datang."
Seorang pria tak lagi muda pun masuk, dia memberikan senyuman sopan santunnya.
"Periksa istri ku," Duke Marcello memilih berdiri di samping istrinya. Dia mengamati Dokter yang memeriksa pergelangan tangannya. Senyum merekah di bibirnya.
"Dalam hal seperti ini sudah biasa, Tuan Duke."
"Apa-apaan, anda bilang hal biasa. Istri saya lagi sakit."
Pria itu tertawa kecil. "Tentu saja hal biasa bagi ibu hamil."