
Saling menyuapi dan bercanda membuat ruangan itu seakan sejuk karena semilir angin dan dingin karena bekuan es.
Metteo tersenyum dan melirik kakak dan juga kekasihnya, ia tidak bisa bersikap biasa saja sementara ada dua harimau yang seakan memakannya. Kedua orang yang berbeda jenis itu seakan menjadi obat nyamuk dan menjadi pengganggu, anggap saja keduanya seperti patung yang tidak ada artinya.
Duke Marcello dan Keyna saling melempar wajah, namun tidak dengan Duchess Natalie. Ia seakan menemukan sesuatu yang unik, kedua pasangan itu seperti orang asing yang tidak saling bersapa atau bertemu dan terasa gugup.
"Nona Keyna, kenapa tidak menyuapi kekasih mu, Metteo. Ayolah, kita kan berpasangan, setidaknya bisa romantis."
"Aku sudah kenyang, aku pamit dulu."
Apa hubungan mereka cinta segitiga, ah pusing sekali memikirkan hubungan ini.
"Aku juga pamit, masih ada urusan," ujar Duke Marcello, sebelum pergi ia sejenak adu pandang dengan adiknya.
"Duchess, kamu tidak menghabiskannya," ujar Metteo. Duchess Natalie menyeruput tehnya, ia sudah malas menjalankan sandiwaranya itu.
"Aku sudah kenyang," ujarnya dingin.
"Ada apa dengan Duchess?" tanya Metteo bertanya-tanya.
Malam harinya.
Duchess Natalie telah menghabiskan waktu sehariannya di dalam kamar, sepanjang hari ini ia mengawasi kediaman baru itu, namun tidak merasa janggal.
Duchess Natalie pun keluar dari kamarnya, ingin merasakan dinginnya angin malam di masa musim dingin ini.
Duchess Natalie mengelilingi lantai atas, namun langkahnya berhenti ketika mendengarkan suara seorang wanita.
"*Apa ini yang kamu inginkan?"
"Apa maksud mu*?"
Duchess Natalie semakin mendekatkan telinganya ke arah pintu itu.
"Kenapa kamu tidak menolaknya? kamu tahu, aku mencintai mu. Demi hubungan kita, aku mengorbankan perasaan ku." Bentaknya.
Duchess Natalie semakin pemasaran, ia merasa wanita di kamar itu adalah Keyna yang sedang menangis dan bertengkar.
"Akhiri sandiwara ini,"
Deg
"Duke..." Duchess Natalie mengepalkan tangannya.
"*Aku tidak ingin kamu mencintainya, sudah cukup sandiwara ini. Aku tidak kuat." Wanita itu berkata lirih.
"Jangan menangis, aku akan segera mengakhirinya," Laki-laki itu menenangkan dan memeluknya dengan erat. "Dengar! aku mencintai dan akan mencintai mu, jadi percayalah*."
Duchess Natalie semakin yakin, suara itu, suara Duke Marcello. "Awas kalian berdua,"
Duchess Natalie mempercepat langkahnya, telinganya panas, ia muak dengan pernikahan sandiwara ini. Lebih baik hidup bebas tanpa cinta dari pada harus menyakiti.
Duchess Natali turun dari lantai atas, namun lagi-lagi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat Metteo dan Kesatria Erland tengah berbincang sambil menatap salju yang berjatuhan itu.
"Tuan, ada baiknya. Hentikan sandiwara ini."
"Aku belum siap,"
"Siap atau tidak siap, Tuan harus menceritakannya. Hubungan ini akan bertambah rumit Tuan."
"Aku ingin, tapi aku takut."
"Tahukan Tuan semua ini akan membuatnya kecewa."
"Aku akan memikirkannya kembali."
Duchess Natalie mendekat. "Siapa yang kecewa Tuan?"
Kedua laki-laki itu tersentak dan takut, mereka berharap Duchess Natalie tidak mendengarkan semuanya.
"Semenjak kapan Duchess ada di situ?" tanya Duke Marcello.
"Baru saja, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?"
"Tidak ada," jawab Duke Marcello sendu.
Duchess Natalie pun berjongkok, ia menatap Duke Marcello. Ada sesuatu yang mengalir di hatinya, ia merasa sesuatu yang membuatnya lebih dekat. Namun ia tidak bisa mengerti kemauannya. "Tidak masalah kalau kamu tidak ingin jujur, aku paham. Jika..."
Tanpa ia sadari, Duke Marcello memeluknya dengan erat dan merasakan kenyamanan yang telah lama ia tidak dapatkan.
Entah dorongan dari mana, Duchess Natalie membalas pelukan itu. Sedangkan di tempat lain, ada seseorang yang melihat keduanya dengan perasaan terluka.