Luka Duchess

Luka Duchess
Siksaan Ini



Entah keberanian dari mana mulut Metteo yang asli mengucapkan kata sepatah itu. Wanita di sampingnya menatap tak percaya, ia memang benar kekasih Metteo, tapi bukan Metteo yang sekarang.


Kedua air matanya menggenang, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Dia datang, dia datang bersama Duke Marcello. Kenapa hubungan ini semakin rumit? aku tidak mengerti hubungan ini.


Duchess Natalie tersenyum, ia menatap Keyna dengan senyum luka dan perih, lalu bergelanyut manja di lengan Duke Marcello. Hal itu membuat ketiga orang terkejut.


Duke Marcello atau Metteo, ia tidak percaya. Duchess Natalie memegang tangannya, tersenyum. Layaknya seperti anak kucing yang sangat lucu dan menggemaskan dan ingin bermanja-manja dengan majikannya.


Sedangkan Metteo atau Duke Marcello, ia memalingkan wajahnya. Hatinya seperti di remas. Benar, hatinya terluka, darah itu terus mengalir. Ia takut, dan sangat takut. Apa yang ia lihat akan menjadi nyata, ia tidak sanggup kehilangan Duchess Natalie.


Sedangkan Keyna, malah menganga, ingin sekali ia menarik kekasihnya dari tangan Duchess Natalie. Jujur, ia kecewa. Metteo telah berjanji padanya akan menjaga perasaannya, tapi sekarang, semuanya terasa menakutkan.


"Ah, Nona Keyna ada apa dengan mu?" tanya Duchess Natalie, sok tidak tahu. Padahal ia memang berniat ingin memastikan sesuatu dan dugaannya benar, suaminya memang memiliki hubungannya dengannya.


Duke Marcello pun tersadar, ia sadar di tatap oleh dua orang di sampingnya dan di depannya. "Ya sudah. ayo masuk. Di luar dingin tidak baik untuk kesehatan kakak dan nona Keyna."


Duchess Natalie bingung. "Kakak? apa yang di maksud Duke adalah Tuan Metteo?"


Bibir Duke Marcello terasa sulit menjawabnya. "Tentu, ah maksud ku. Aku teringat seorang teman. Jadi aku terlupa. Sudahlah, ayo masuk." Duke Marcello merangkul Duchess Natalie. Hal itu menambah kobaran api cemburu di kedua orang itu.


"Sudah puas Tuan Duke?" tanya Keyna. Sejujurnya ia tidak bisa meneruskan sandiwara ini. Ia ingin membongkar semuanya, tapi Metteo tidak setuju semua alasannya demi kakaknya. "Sampai kapan Tuan Duke akan melihat mereka bersama-sama?"


"Apa Tuan Duke tidak sadar? bagaimana kalau mereka saling mencintai?"


Duke Marcello terdiam, Keyna meninggalkan Duke Marcello yang mematung. Ia datang kesini karena mendengarkan Metteo datang ke kediaman Duke dan membawa Duchess. Ia tidak peduli dengan Duchess, tapi ia peduli dengan Metteo. Ia hanya merindukannya, namun sampai di depan gerbang, ia di sambut keterkejutan dan kemudian kemarahan dari Metteo yang tidak suka dengan kedatangannya.


"Apa hal yang kamu ketahui di kediaman Duke? apa mereka dekat?" tanya Duke Marcello cemas.


"Tidak Tuan, Nyonya tidak dekat, namun sekarang saya merasa aneh. Keduanya seperti dekat."


"Tapi Tuan jangan khawatir, mereka tidak akan dekat selama ada tuan. Alangkah baiknya kalau Tuan jujur saja," ujar Kesatria Erland memberikan nasihat. Ada baiknya jika kita mewanti-wanti sebelum terjadi sesuatu di masa depan.


"Aku masih belum siap untuk sekarang."


"Tuan, Duchess tidak akan sedih, justru kebohongan ini yang akan membuatnya terluka. Duchess akan merasa di permainkan."


"Tuan, wanita itu sangat rapuh, bagaimana kalau kebohongan ini terbongkar dan justru Duchess malah menjauh dari Tuan?"


"Jujurlah Tuan, Saya mengerti Tuan tidak ingin membuat Duchess sedih dan khawatir, makanya Tuan mengambil keputusan ini, tapi..."


"Sudahlah, aku akan sembuh dan secepatnya kembali."


Kesatria Erland mengangguk samar, ia mendorong kursi roda Duke Marcello masuk ke dalam ruangannya.


Sesampainya di ruang tamu, ia melihat Duchess tertawa pada Metteo yang kini bersandiwara di hatinya. Haruskah ia menyerah dalam semua ini?


Duke Marcello mendekat, ia melirik Keyna yang mengepalkan tangannya. Ia tau, Keyna pasti juga merasakan sakit hati ketika melihat seseorang yang ia cintai bersanda gurau dengan orang lain.


"Eh Tuan Metteo," Duchess Natalie berpura-pura baru sadar. "Bagaimana kalau kita saling menyuapi pasangannya?"