Love You, Brother

Love You, Brother
For The First Time



"Sini..." Raffa melepas rangkulannya lalu menangkup kedua pipi Nina. "Daripada kita pusing memikirkan bagaimana cara menghilangkan perasaan ini, lebih baik kita lepaskan saja semuanya. Kita biarkan semua mengalir apa adanya."


Nina hanya menatap Raffa.


"Kita kembali ke setelan awal. Jangan siksa diri kita hanya untuk hal yang gak bisa kita ubah. Kita putuskan pacar kita, agar kita gak perlu membohongi perasaan lagi." lanjut Raffa.


Nina mengangguk pelan.


"Do you want to feel this for the first time?" Raffa melihat sekeliling. Ketika dirasanya aman tidak ada siapa-siapa, dia semakin mendekatkan dirinya. "Feel it."


Bagai tersengat listrik saat Nina merasakan bibir dingin Raffa menempel di bibirnya. Dia hanya terdiam kaku. Tak tahu harus berbuat apa.


Perlahan Raffa membuka bibirnya dan membasahi bibir Nina yang masih tertutup rapat itu. Memagutnya dengan lembut hingga membuat Nina perlahan membuka bibirnya dan mulai membalasnya pelan. Dada Raffa semakin berdebar hebat. Antara ingin meneruskan dan ingin menghentikannya dengan segera.


Raffa melepas dirinya dan mengalihkan pandangannya.


Sedangkan Nina hanya menggigit kecil bibir bawahnya yang telah basah karena ulah Raffa. Detak jantungnya masih saja tidak beraturan. Rasa gerogi, malu bercampur jadi satu. Bisa-bisanya dia melakukan itu dengan Raffa. Sedangkan dengan Bayu tadi dia begitu tidak mau melakukannya. Karena perasaan itu jelas berbeda antara dekat dengan Raffa atau Bayu.


Mereka berdua sama-sama salah tingkah dan hanya terdiam beberapa saat.


"Gimana rasanya?" tanya Raffa berniat menggoda Nina agar rasa canggung itu berkurang.


Nina hanya mencubit piggang Raffa karena malu. "Gak tahu."


"Nagih gak? Kalau nagih, come on for second time." canda Raffa.


Nina semakin keras mencubit pinggang Raffa. "Ih, malu."


Meski terasa sakit, dia sudah kebal dengan cubitan Nina. Raffa kini meraih tangan Nina yang dingin itu dan menggenggamnya. "Jujur saja, aku cuma ingin melakukannya sama kamu."


"Kak Raffa, ini salah."


"Ya, tapi cinta kita gak salah."


Mereka sama-sama bersandar sambil menatap langit yang masih menurunkan air hujan.


"Suatu saat nanti, aku pasti akan bilang tentang hubungan kita pada orang tua kita. Aku gak peduli kalau Kak Reka marah sama aku dan juga orang tua kita." kata Raffa. Dia tidak akan menyerah begitu saja dengan keadaan. Mereka sudah mencoba untuk sama-sama menjauh tapi nyatanya terasa menyakitkan.


"Tapi aku takut. Kak Reka sama Ayah pasti marah sama aku."


"Ada aku. Tunggu kita lulus kuliah baru kita perjuangkan hubungan kita."


Nina akhirnya mengangguk sambil tersenyum.


"Udah reda. Kita pulang yuk," ajak Raffa sambil sesekali menatap langit yang kian terang.


Nina hanya menganggukkan kepalanya. "Tapi nanti berhenti di dekat pertigaan saja ya."


"Iya, untuk sementara kita backstreet dulu." Raffa berdiri lalu mengibaskan celananya dari debu yang menempel.


"Kak Raffa, jaketnya Kakak aja yang pakai." Nina akan melepas jaket Raffa tapi dicegah.


"Kamu aja."


"Dingin. Aku udah pakai lengan panjang. Kak Raffa cuma lengan pendek. Kak Raffa aja yang pakai."


Raffa akhirnya meraih jaket itu dan memakainya menghadap belakang. "Gini aja. Nanti kamu peluk ya dari belakang biar hangat." Raffa tertawa kecil sambil naik ke atas motornya.


"Ih, modus." meski demikian setelah naik ke boncengan Raffa, Nina memeluk Raffa dengan erat dari belakang. Terasa sangat hangat.


Raffa sampai deg-deg an dibuatnya. Belum juga Raffa menjalankan motornya, dia sudah dibuat salah tingkah seperti ini. Lekuk tubuh Nina jelas terasa dipunggungnya.


Nina semakin menyandarkan dirinya di punggung Raffa. Sepertinya apa yang Nina rasakan sama seperti Raffa. Dia hirup berulang kali aroma maskulin yang menyengat di hidungnya itu. Beberapa siluet kenangan manis dirinya dan Raffa di masa kecil terlintas di kepalanya. Dulu waktu kecil, Raffa suka mengganggunya tapi hal itu sukses menyita perhatian Nina. Hingga lambat laun, mereka terbiasa bersama, dan sekarang mereka justru saling cinta.


Usapan tangan Raffa di tangan Nina, membuat bunga-bunga semakin bermekaran di hati Nina. Satu hal nyata yang tak bisa dia rasakan saat bersama Bayu.


Beberapa saat kemudian, motor Raffa sudah berhenti di dekat pertigaan.


"Kok cuma bentar." kata Nina yang masih kurang berada di boncengan Raffa sambil memeluknya.


"Iya, sama. Sebenarnya juga masih kurang. Atau masih mau muter-muter lagi?" tanya Raffa.


Nina turun dari boncengan Raffa. "Gak usah Kak. Udah sore."


"Besok kalau mau aku jemput ya?"


"Tapi, tunggu di sini aja ya. Aku gak mau suasana memanas lagi."


"Oke, udah kamu jalan ke rumah. Aku awasi dari sini."


Nina menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju rumahnya yang masih kurang beberapa meter itu.


Raffa masih saja melihat Nina sampai dia menghilang dan berbelok ke rumahnya. Raffa tersenyum kecil saat mengingat kegilaan yang dilakukannya pada Nina. Setelah itu dia memutar motornya dan meninggalkan tempat itu.


Nina masuk ke halaman rumahnya, terlihat mobil Bayu terparkir di sana. Sedangkan pemiliknya ternyata sedang duduk di ruang tamu. Dada Nina berdebar tak karuan. Dia harus mencari alasan yang tepat.


Nina masuk dan berpura-pura terkejut melihat Bayu. "Kak Bayu."


"Nina, aku mau minta maaf sama kamu soal tadi." kata Bayu sambil berdiri.


Nina akhirnya duduk di sofa yang disusul oleh Bayu. "Aku juga minta maaf udah ninggalin Kak Bayu gitu aja."


"Kamu tadi kemana? Aku khawatir banget nyariin kamu."


Nina terdiam beberapa saat. "Aku tadi berteduh di dekat ruko sambil order gojek tapi gak ada yang nerima orderanku."


"Aku tadi berputar-putar cari kamu."


"Iya Kak, aku minta maaf."


Bayu menggelengkan kepalanya. "Kamu gak perlu minta maaf. Justru aku yang salah. Harusnya aku bisa jaga sikap sama kamu."


Nina menganggukkan kepalanya. Kalau seperti ini, Nina jadi tidak tega untuk memutuskan Bayu.


Beberapa saat kemudian Bunda Luna datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Loh, ini Nina. Kamu darimana Nin?" tanya Bunda Luna.


Sepertinya semua harus ditutupi dengan kebohongan. "Tadi aku neduh dulu di ruko."


"Iya tante, kita cuma sedikit salah paham saja dan jalan yang kita lalui tadi beda makanya aku tidak menemukan Nina." penjelasan Bayu menyelamatkan Nina dari pertanyaan lanjutan.


"Ya udah. Kalian makan dulu ya. Sudah Bunda siapkan."


"Iya Bun."


Nina hanya menatap Bayu. Pandangan mereka saling terpaut beberapa saat.


Gimana cara mutusin Kak Bayu? Kak Bayu itu baik, tapi aku tetap aja gak punya rasa apapun.


.