Love You, Brother

Love You, Brother
Menonton Bioskop



Pagi hari itu, Nina sudah memiliki janji dengan Raffa di pertigaan. Kedua remaja itu tetap nekad menjalin hubungan tersembunyi.


"Kak Raffa udah lama? Tadi nunggu Kak Reka berangkat dulu." kata Nina sambil mengambil helm dari tangan Raffa.


"Barusan. Aku papasan sama mobilnya Kak Reka, untung Kak Reka gak lihat aku. Ya udah yuk berangkat."


Nina naik ke boncengan Raffa setelah itu motor Raffa segera melaju menuju kampus.


"Kak Raffa aku belum putuskan Kak Bayu. Aku bingung gimana cara ngomongnya." kata Nina sambil sedikit mendekatkan dirinya agar Raffa bisa mendengarnya.


"Aku juga belum. Pelan-pelan saja. Gak mungkin tanpa alasan kita tiba-tiba putus dengan mereka."


Nina hanya mengangguk pelan.


"Nin, kapan-kapan kita nonton yuk. Udah lama gak jalan bareng."


"Kenapa gak sekarang aja?"


Raffa menyunggingkan senyumnya. Oke, sepertinya dia harus berputar arah menuju bioskop yang ada di salah satu mall. Mumpung hari aktif, pasti bioskopnya tidak terlalu ramai.


"Kak Raffa serius sekarang?" tanya Nina. Sebelumnya dia memang tidak pernah bolos, dan sekali ini saja dia ingin bersama Raffa.


"Kamu ajak, oke, let's go. Sekali ini saja bolos. Aku gak pernah sama sekali bolos kuliah."


Nina tersenyum sambil melingkarkan tangannya di perut Raffa.


Padahal ada mall terdekat, tapi Raffa memilih mall yang lumayan jauh dan hampir di perbatasan kota agar saat sampai, bioskop itu sudah buka.


Setelah sampai di mall yang cukup mewah, Raffa memarkir motornya. Setelah itu mereka masuk ke dalam mall dan berjalan menuju lantai tiga.


"Kak Raffa, kirain ke mall yang ada di tengah kota. Ini sih bioskop bagus." kata Nina. Mereka berjalan bergandengan layaknya sepasang kekasih.


"Gak papa. Pasti gak terlalu ramai yang nonton. Apalagi ini hari aktif."


Mereka berdua berdiri melihat jadwal film yang diputar hari itu.


"Mau nonton film apa? Horor, action atau romance." tanya Raffa. Dari dulu dia selalu ikut keinginan Nina perihal tontonan film.


Nina masih berpikir. "Romance luar. Kayaknya bagus. Bosan lihat horor terus. Karena hidup kita udah horor banget."


Raffa hanya tertawa sambil mengiyakan keinginan Nina. Dia segera membeli dua tiket dan memilih tempat duduk yang strategis. Setelah itu mereka berdua membeli pop corn dan minuman dingin.


Setelah pintu theatre di buka, Raffa dan Nina masuk ke dalam. Mereka duduk di kursi sesuai nomor yang Raffa pilih.


"Kak, kok ambil yang belakang?" tanya Nina sambil mengikuti langkah Raffa menaiki tangga menuju kursi teratas.


Raffa hanya tersenyum penuh arti. Sepertinya dia sedang merancang sesuatu yang nakal.


Nina duduk di kursi paling pojok lalu Raffa. Pop corn dan minuman mereka letakkan di pinggiran kursi yang berlubang. Beberapa saat kemudian lampu dimatikan dan film pun dimulai. Benar saja, di hari aktif itu hanya setengah penonton yang memenuhi kursi. Bahkan di deretan Nina dan Raffa sama sekali tidak ada orang.


"Gini kan enak. Kita berasa pacaran beneran." Raffa meraih tangan Nina dan menggenggamnya.


Nina hanya tersenyum. Sebelumnya tiap kali menonton dengan Raffa, mereka memang duduk di kursi barisan tengah agar bisa menikmati film dengan jelas. Tapi kali ini beda. Mereka menonton bukan untuk menikmati film tapi untuk menghabiskan waktu berdua.


Tangan kanan Raffa terus menggenggam tangan kiri Nina hingga membuat Nina harus menyuapi Raffa pop corn juga.


Pandangan Nina masih fokus pada film berbahasa inggris itu, tapi tidak dengan Raffa, dia justru terus menatap Nina meski tidak terlalu jelas.


Raffa mengusap punggung tangan Nina dengan jempolnya. Merasakan usapan itu saja membuat dada Nina berdebar. Apalagi saat Raffa mencium lembut punggung tangannya. Rasanya seperti tersengat listrik.


Seketika Nina menatap Raffa, saat itulah satu kesempatan Raffa mendekatkan dirinya. Mulai memagut bibir itu lagi untuk yang kedua kalinya.


Benar kata orang, ciuman itu membuat kecanduan. Ketika mereka telah melakukan yang pertama pasti akan ada yang kedua dan seterusnya.


Nina kembali meluruskan pandangannya, begitu juga dengan Raffa. Mereka melihat adegan di film yang kian intens. Meski tidak terlalu vulgar tapi sudah mampu menimbulkan getar-getar aneh pada tubuh kedua remaja itu.


Raffa semakin melingkarkan tangannya di lengan Nina. Dia merasakan Nina duduk dengan gelisah. Mungkin salah tingkah dengan adegan ranjang yang singkat itu atau jangan-jangan justru penasaran.


"Kenapa?" bisik Raffa di dekat telinga Nina.


Nina menoleh Raffa sambil menggeleng kecil.


Lagi-lagi Raffa kembali melabuhkan ciumannya. Kali ini lebih panas dan saling berbalas. Untunglah suara backsound di film itu menggelegar hingga membuat penonton lain tak mendengar suara decapan yang mungkin lolos dari bibir Raffa.


Hisapan dan gigitan kecil itu sudah membuat Nina seolah lupa daratan.


Kemudian Raffa melepas ciumannya karena sepertinya stok oksigen itu kian menipis.


Nina mencubit kecil pinggang Raffa saat merasa Raffa semakin nakal. Bahkan satu tangan Raffa sudah berani menyusup di balik kemeja Nina.


Lagi-lagi adegan panas di film itu terulang kembali. Beginilah ketika mereka memilih film dengan rate 21+. Harusnya dua sejoli ini tidak lolos masuk karena masih berumur 18 dan 19 tahun. Entahlah para penjual tiket hanya melihat mereka sudah mempunyai KTP saja tanpa melihat umur.


Nina mendorong tangan Raffa agar kembali ke tempatnya.


"Ih, nakal sih." bisik Nina. "Gak boleh sentuh-sentuh."


"Sentuh dikit aja." balas Raffa sambil berbisik.


"Enak aja. Iya dulu kita masih kecil bebas sentuh dan lihat." bisik Nina.


"Emang sekarang udah beda bentuknya?" Bisik Raffa lagi sambil tertawa kecil berniat menggoda Nina.


"Ih, gak tahu. Punya Kak Raffa sendiri udah beda gak?"


Raffa justru mencubit pipi Nina karena gemas.


Dia jadi teringat waktu kecil dulu sebelum usia sekolah, masih sering mandi bersama apalagi saat liburan keluarga bersama. Dulu otaknya masih polos, tapi kalau sekarang? Jangan ditanya lagi.


Meski hanya dari ekspresi pemain tapi rasa nikmat itu seolah tersalur. Otak Raffa dan Nina jadi terkontaminasi tontonan itu.


Untunglah adegan itu hanya sesaat. Setelah dua jam, akhirnya film itu berakhir. Rasanya panas dingin tak karuan. Baru kali ini mereka melihat film romance yang cukup hot seperti itu.


Lampu dinyalakan, beberapa penonton langsung berdiri dan keluar dari theatre.


Nina dan Raffa masih duduk, dia menunggu sampai penonton tinggal sedikit baru keluar.


"Awas, pasti nanti malam bayangin adegan itu sama aku." kekeh Raffa lalu berdiri dan berjalan keluar.


"'Ih, Kak Raffa. Rese' banget. Gak kebalik?"


Mereka kembali bergandengan tangan keluar dari bioskop.


"Sekarang kita makan yuk! Lapar." ajak Raffa.


"Oke..."


💞💞💞


.


Di cerita ini banyak adegan nakalnya remaja ya.. Jangan ditiru yang masih sekolah.. 😆


Kalau gak suka skip aja ya...