Love You, Brother

Love You, Brother
Inilah Akibatnya



Sejak keluar dari klinik, Nina terus memandangi hasil USG yang berwarna hitam putih itu. Ada satu rasa bahagia yang tiba-tiba muncul. Rasa ingin memiliki dan tak ingin kehilangan.


Satu tangan Raffa kini menggenggam tangan Nina. Setelah dari klinik mereka memutuskan untuk makan dan mengobrol di sebuah kafe. "Kita pertahankan calon anak kita ya. Kita sama-sama berjuang. Apapun yang terjadi nanti, kita akan selalu bersama."


Nina mengusap air mata yang hampir saja jatuh dari pelupuk matanya. "Aku nyesel, sempat mau gugurin. Tapi setelah dengar detak jantungnya, dia berhak untuk hidup dan aku rasanya aku langsung jatuh cinta." Nina mengusap perutnya yang masih datar itu.


"Iya, dan aku akan bilang secepatnya pada keluarga kita."


Nina kini menatap Raffa. Dia merasa takut akan hal itu. "Keluarga kita pasti marah. Bagaimana kalau mereka mengusir kita dari rumah?"


Tangan Raffa terulur mengusap puncak kepala Nina untuk sesaat. "Ada aku. Aku pasti akan berusaha membahagiakan kamu."


"Tapi..." Nina sedikit ragu.


"Iya, aku memang belum kerja. Tapi secepatnya aku akan mencari pekerjaan. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Ingat kata Dokter tadi kamu gak boleh terlalu stres."


Nina mengangguk pelan. Dia kini mulai memakan salad buah yang sudah terhidang di depannya. "Seger. Tadi pagi makan nasi rasanya gak enak banget."


"Mulai sekarang kamu harus banyak makan. Kamu mau apa, bilang saja sama aku." Raffa juga mulai makan saladnya.


Baru juga habis setengah porsi, tiba-tiba Nina menghentikan makannya.


"Kok gak dihabiskan?" tanya Raffa.


Nina menggelengkan kepalanya. "Mual lagi, tadi awalnya enak banget tapi terus enek lagi."


Raffa menggeser kursinya dan duduk di sebelah Nina. Kemudian dia usap perut Nina dengan lembut.


"Ih, Kak Raffa malu." Nina akan menepis tangan Raffa, tapi Raffa tetap kekeh.


"Mungkin saja dedek pengen diusap Ayahnya biar gak mual lagi. Ini usapan pertama setelah tahu ada anak kita di sini." Raffa tersenyum dengan tangan yang masih terus mengusap lembut perut Nina. "Kemarin aku memang menyesal melakukan itu sama kamu, tapi sekarang aku sadar, penyesalan itu gak ada gunanya. Ini sudah takdir, aku harus bisa perbaiki semuanya."


Perlahan rasa mual itu berangsur hilang. Nina kembali memakan saladnya sampai habis.


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Nina meraih tasnya dan mencari dua benda kecil yang menunjukkan tanda positif itu. "Kak Raffa gawat!"


Seketika Raffa menatap Nina yang sedang mengoprak tas kecilnya. "Kayaknya testpack aku ketinggalan di meja belajar. Tadi mau aku masukin ke dalam tas tapi lupa. Gimana kalau Bunda tiba-tiba masuk ke kamar."


"Kamu tenang dulu. Minum dulu lalu kita pulang."


Nina segera meneguk minuman jus nya sampai habis. "Jangan sampai Bunda atau Ayah tahu sendiri masalah ini sebelum kita bilang, nanti mereka semakin marah sama kita."


Kemudian mereka berdiri dan segera berjalan keluar dari kafe.


...***...


"Nin?" pulang dari gym, Luna masuk ke dalam kamar Nina karena saat dia berangkat Nina masih berada dalam kamarnya.


"Nina kemana? Katanya gak enak badan." Luna semakin berjalan masuk ke dalam kamar Nina.


"Bun, mana Nina? Kalau sakit kita ajak ke Dokter untuk berobat." Niko kini juga ikut masuk ke dalam kamar Nina.


"Gak tahu, Mas. Nina gak ada di kamarnya. Coba tanya sama Reka, Nina pamit pergi kemana." tanpa sengaja saat melewati meja belajar Nina, tangan Luna menyenggol sesuatu hingga terjatuh.


"Eh," Luna berjongkok dan mengambil benda itu. "Astaga." Luna sampi menutup mulutnya tak percaya dengan temuan benda itu.


"Ada apa sayang?" tanya Niko.


Luna berdiri dan menunjukkan alat tes kehamilan dengan hasil positif itu pada suaminya.


"Punya kamu?" tanya Niko tak mengerti.


"Bukan Mas. Tadi alat ini di atas meja Nina."


Seketika dada Niko bergemuruh. Benarkah anak gadis kesayangannya telah ternodai.


"Maksudnya Nina..."


Luna menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu Mas. Nina gak cerita apa-apa sama aku."


Niko mengeraskan rahang bawahnya. "Apa ini ulah Raffa." kemudian Niko berjalan cepat keluar dari kamar menuju ruang tengah dimana ada Reka sedang menonton televisi. "Reka, kamu tahu adik kamu kemana?"


Niko menghempaskan dirinya duduk di samping Reka. Sedangkan Luna terus menatap nanar alat tes itu.


"Ada apa?" tanya Reka yang melihat wajah serius Niko.


"Adik kamu hamil." jawab Niko.


Seketika Reka mengepalkan tangannya. "Raffa!"


"Jadi benar ini ulah Raffa. Telepon mama kamu dan Kevin, suruh ke sini sekarang juga!"


Reka segera menuruti perintah Ayahnya. Dia memanggil kedua orang tua Raffa lewat ponselnya.


"Mas, jangan marahi Nina ya. Kasihan, aku tahu sendiri gimana rasanya hamil muda." Luna duduk di samping suaminya yang masih terdiam. "Aku tahu Nina salah, tapi semua udah terjadi."


Niko menghela napas panjang berusaha meredam emosinya. Kemudian dia rengkuh tubuh istrinya itu. "Iya, semua memang sudah terjadi tapi tetap semua perbuatan ada konsekuensinya."


Mereka bertiga akhirnya hanya berdiam diri menunggu kedatangan orang tua Raffa.


Beberapa saat kemudian Alea dan Kevin datang ke rumah Niko dengan tergesa.


"Ada masalah apa?" tanya Kevin.


Niko meletakkan alat tes itu di atas meja. "Punya Nina."


Jelas, Alea dan Kevin langsung tanggap dengan apa yang dimaksud.


"Raffa!" Kevin segera mengambil ponselnya dan menghubungi Raffa tapi sampai beberapa kali panggilannya, tidak juga diangkat Raffa.


Sedangkan Alea kini terduduk dengan lemas. Kejadian bertahun-tahun lalu kini terulang lagi pada Raffa dan Nina. Apa ini balasan atas semua kesalahannya di masa lalu.


Mereka semua menunggu kedatangan Raffa dan Nina. Bahkan Kevin sampai beralih menunggu mereka di teras rumah Niko.


Beberapa saat kemudian, terlihat Raffa menghentikan motornya. Kemudian mereka turun dari motor Raffa. Perasaan Raffa dan Nina seketika tidak enak saat melihat Kevin berdiri sambil menatap tajam pada Raffa.


"Darimana?" tanya Kevin pada Raffa.


Tenggorokan Raffa terasa mengering. Dia tahu Papanya sedang marah.


"Dari..." Raffa tak tahu harus menjawab apa hingga perkataannya hanya menggantung saja.


"Raffa, sudah berapa kali kamu bohong sama Papa!" bentak Kevin.


Raffa hanya menundukkan pandangannya.


"Benar kamu sudah menghamili Nina?"


Mendengar pertanyaan itu, Nina hanya menggigit bibir bawahnya itu berarti kedua orang tuanya juga sudah tahu masalah itu.


"Iya. Aku akan bertanggung jawab."


Plak!!


Kevin menampar pipi Raffa dengan keras. "Apa selama ini didikan Papa salah! Papa memang terlalu sabar sama kamu hingga kamu melakukan kesalahan besar seperti ini."


Nina hanya bisa menangis melihat Raffa yang sedang memegang pipinya karena tamparan dari Papa Kevin.


"Astaga, Mas. Kita bicarakan baik-baik di dalam saja." Mendengar keributan di teras rumah, Alea keluar dan langsung menggandeng tangan Kevin.


"Mulai sekarang, kamu harus bisa hidup mandiri tanpa bantuan apapun dari Papa!"


.


💞💞💞


.


Hai, ternyata cerita ini sepi banget ya... Tapi gak papa author udah janji buat kasih give away untuk tiga fans teratas sampai cerita ini tamat.


Ceritanya masih panjang banget ya.. Author tetap akan berusaha menyelesaikan meski sudah tidak bergairah lagi.. 😂