
Pagi itu Raffa menghentikan motornya di tempat parkir kampus. Mereka berdua turun dan berjalan menuju lorong kampus.
"Sayang, nanti kalau ada apa-apa langsung chat aku ya." pesan Raffa pada Nina karena sedari tadi Nina terus mengeluh pusing.
"Iya Kak. Ya udah, tuh ada Aurel sama Vina. Kak Raffa ke kelas duluan saja gak papa." kata Nina sambil menunjuk Aurel dan Vina yang baru datang.
"Iya." kemudian Raffa berlalu.
"Nina." Aurel dan Vina langsung menggandeng kedua tangan Nina. "Ada sesuatu yang mau kita tanyakan." mereka berdua mengajak Nina mengobrol di tempat yang aman.
Mereka bertiga kini duduk berdempetan di taman kampus yang masih sepi.
"Kata Kak Feri, lo kemarin nikah sama Kak Raffa? Emang bener? Katanya juga Kak Raffa diusir dari rumah jadi lo ikut tinggal di kontrakan. Gue belum percaya kalau bukan lo sendiri yang cerita." kata Aurel yang ingin memastikan berita itu sendiri.
Nina menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya ampun Nin. Kenapa lo gak cerita sama kita kalau lo lagi ada masalah." kata Vina. Mereka sudah bersahabat sejak SMA, suka dan duka sudah mereka lalui bersama-sama.
Nina hanya menggelengkan kepalanya. "Solusi dari masalah gue ya menikah terus hidup berdua sama Kak Raffa. Gak ada cara lain lagi."
Kedua sahabatnya kini memeluknya. "Jadi beneran ada ponakan gue dalam perut lo?" tanya Aurel lagi.
Nina menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya, sebentar lagi udah jadi ibu." meskipun Vina juga sedih tapi dia berusaha menghibur Nina. Dia tahu seorang ibu hamil butuh dukungan bukan malah hujatan. Apalagi di umur yang terbilang masih muda itu.
Nina menganggukkan kepalanya. "Thanks ya, kalian gak malu temenan sama gue?"
"Kenapa harus malu? Lagian kan lo sekarang udah nikah." kata Vina melepaskan pelukannya. "Lo sendiri jangan malu ya. Lo harus bahagia. Anggap semua ini adalah anugerah.
"Tapi tetap jangan bilang sama teman lainnya." kata Nina.
"Lo jangan khawatir kalau soal itu. Dijamin aman. Kalau lo butuh apa-apa, lo bilang sama gue. Kita kan sahabat." kata Aurel.
"Sekali lagi makasih ya. Kalian emang sahabat yang paling baik."
...***...
Sedangkan Raffa kini juga sedang berkumpul dengan teman satu gengnya.
"Gimana pengantin baru? Semalam bisa tidur gak?" celetuk Jefri yang langsung dapat satu jitakan dari Feri karena sekarang bukan waktunya bercanda. Melihat wajah kusut Raffa jelas dia sedang banyak pikiran.
"Eh, sorry, sorry." kata Jefri lagi yang langsung tanggap dengan isyarat itu.
Feri menepuk bahu Raffa agar dia tidak perlu bersedih lagi. "Lo tenang aja, kita semua akan bantu lo kalau butuh sesuatu."
"Lo nanti coba lamar ke tempat-tempat yang gue rekomendasikan itu. Dengar-dengar ada yang menerima karyawan paruh waktu." kata Jefri.
Raffa hanya menganggukkan kepalanya. "Jef, lo tahu tempat jual beli motor yang harganya bagus."
"Lo mau jual motor lo?" tanya Jefri dan Feri secara bersamaan.
"Iya. Gue butuh uang buat beli alat dapur sama tv. Lagian Nina juga merasa gak nyaman naik motor gede gitu. Nanti kalau perutnya makin besar juga makin sulit. Cari yang matic aja biar nyaman." kata Raffa menjelaskan. Mungkin dari tukar motornya itu dia masih mendapat kembalian sekitar 10 juta.
"Benar-benar peran bapak sudah dihayati secara alami. Ya udah nanti gue antar." kata Jefri.
"Gue juga. Nanti biar gue ambil mobil dulu, kalau lo beli apa-apa biar gak repot kalau bawa. Soal sewa kontrakan gak usah lo pikirin. Kapan-kapan aja lo bayar." kata Feri.
"Gue juga ikut. Kita makan-makan yuk di kontrakan baru Raffa. Kali ini gue yang traktir." kata Bima yang seketika mendapat jotosan-jotosan pelan dari teman-temannya.
"Gini dong, yang biasanya nebeng Raffa kalau ngebakso. Udah penuh celengannya?" sindir Jefri.
Raffa tersenyum karena sahabat-sahabatnya itu tidak hanya ada disaat Raffa senang tapi mereka juga ada disaat susah seperti ini.
"Makasih ya. Kalian memang sohib ter the best."
"Yoi. Kita harus tetap berkawan bukan hanya saat senang aja tapi saat susah juga harus saling membantu."
...***...
Saat di dalam kelas, kepala Nina semakin terasa pusing. Dia tidak bisa fokus dengan Dosen yang sedang memberi materi itu. Bahkan perutnya juga terasa mual, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Nina berusaha menahannya sampai kelas usai. Setelah dosen keluar, buru-buru Nina berdiri dan keluar dari kelas. Dia menuju toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya yang sudah tidak bisa dia tahan.
Badannya kini terasa sangat lemas. Setelah selesai membersihkan bibirnya, dia keluar dari toilet dan berjalan gontai. Pandangannya semakin berkunang-kunang. Dia hampir saja terjatuh jika tubuhnya tidak ditahan oleh Bayu.
"Nin, kamu kenapa?" tanya Bayu dengan khawatir sambil menahan kedua bahu Nina.
Nina sedikit memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing. "Gak papa, Kak." Kemudian dia melepas tangan Bayu yang ada di bahunya dan kembali berjalan gontai.
"Nin, kamu pucat banget." kata Bayu lagi.
Satu rangkulan membawa tubuh Nina menjauh dari Bayu. "Jangan dekati Nina lagi!"
Bayu hanya mengepalkan tangannya sambil menatap mereka berdua yang semakin menjauh. Ada rasa tidak rela yang masih terselip di hati. Entah sampai kapan perasaan itu akan hilang.
"Kamu kenapa?" tanya Raffa dengan tangan yang masih setia berada di bahunya.
"Aku mual banget."
"Kita makan dulu yuk. Udah siang."
Nina justru menggeleng pelan. "Jangan ke kantin, gak enak kena bau mie ayam sama bakso."
"Terus kamu mau apa?" tanya Raffa.
Nina terdiam tapi sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Terserah Kak Raffa aja. Tapi aku gak mau dekat-dekat sama aroma bakso."
"Oke, kita beli di dekat kontrakan aja."
"Nin!" panggil Aurel dan Vina sambil membawa tas Nina. "Lo kenapa?"
"Mual banget."
Aurel memberikan tas Nina pada Raffa agar dibawanya. "Nin, kita mau ke rumah kontrakan lo. Boleh ya?"
"Iya, gak papa. Udah tahu kan? Di tempat kontrakannya punya tantenya Kak Feri." kata Nina.
"Iya, kita udah tahu. Bentar lagi kita susul ya."
"Kebetulan banget ada kalian. Nanti temani Nina dulu ya di rumah. Soalnya aku ada keperluan." kata Raffa sambil melangkah pelan bersama Nina menuju tempat parkir.
"Oke."
Mereka berdua segera naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Raffa melaju meninggalkan kawasan kampus.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...