Love You, Brother

Love You, Brother
Karena Aku Sayang



"Raf, kenapa kamu biarkan Nina bekerja?"


Pertanyan Niko jelas membuat Raffa terkejut. "Bekerja?" kemudian dia kini menatap Nina. Dia sama sekali tidak tahu tentang masalah ini.


"Iya, jadi kamu tidak tahu masalah ini? Raffa, Ayah sudah bilang sama kamu kalau butuh apa-apa bilang sama Ayah. Ayah tidak mau terjadi apa-apa sama Nina. Ayah titip Nina sama kamu agar kamu menjaganya dengan baik." kata Niko lagi. Jelas saja kalimat itu membuat Raffa semakin merasa bersalah.


"Ayah!" Nina sudah tidak tahan lagi dengan sikap Ayahnya yang terkesan begitu memojokkan Raffa. "Kan ayah sendiri yang bilang, sudah menyerahkan hidup Nina pada Kak Raffa jadi Nina mohon jangan ikut campur dengan rumah tangga kita."


"Nina tapi Ayah gak mau kalau kamu sampai bekerja. Kamu bekerja dimana? Di tempat laundry depan?"


"Ayah, Nina ngelakuin ini semua untuk bantu Kak Raffa karena Kak Raffa bekerja dari pagi buta sampai malam hari hanya untuk mendapatkan uang buat biaya persalinan di rumah sakit sesuai keinginan Ayah." kata Nina memcurahkan semua yang mengganjal di hatinya.


Raffa semakin menatap Nina. Jadi Nina sudah tahu dengan hal itu.


"Mulai sekarang tolong, Ayah jangan mencampuri rumah tangga Nina. Kak Raffa itu suami yang bertanggung jawab. Ayah jangan selalu memojokkan Kak Raffa seperti ini." suara Nina mulai bergetar.


"Nina, Ayah seperti ini karena Ayah sayang sama kamu."


"Iy, Nina tahu tapi Nina bukan tanggung jawab Ayah lagi." Nina menyudahi perdebatan itu lalu dia masuk ke dalam kamarnya.


"Mas, udah kita pulang saja. Raf, maaf ya." Luna menarik tangan suaminya agar keluar dari rumah kontrakan Nina.


Setelah mobil kedua orang tua Nina berlalu, Raffa memasukkan motornya lalu dia mengunci pintu rumahnya. Dia kini masuk ke dalam kamar dan melihat Nina sedang menangis di tepi ranjang.


"Nin, udah jangan nangis." Raffa meraih tubuh Nina dan memeluknya. Sebenarnya dia ingin marah karena Nina tidak jujur padanya tentang pekerjaannya tapi rasa marahnya kalah dengan rasa sayangnya pada Nina. "Mulai besok kamu jangan bekerja ya, biar aku saja yang bekerja."


"Tapi Kak Raffa juga harus berhenti jadi kurir makanan." Nina menghapus air matanya. "Biaya buat melahirkan sudah terkumpul. Perlengkapan bayi juga sudah aku cicil sediki-sedikit."


"Tapi Nin, aku..."


Nina kini menatap Raffa. "Aku gak mau lihat Kak Raffa terus bekerja seperti ini. Kalau Kak Raffa masih bekerja di pagi hari, berarti aku juga akan bekerja."


Raffa menghela napas panjang. Sepertinya kali ini dia harus mengikuti perkataan Nina. "Ya sudah, besok biar aku bilang sama Bos."


"Deal ya, kalau Kak Raffa sudah berhenti bekerja baru aku juga berhenti." kata Nina lagi.


Raffa melepas pelukannya lalu memencet hidung Nina. "Ih, kamu bisa aja tawar menawarnya."


"Aku juga sayang sama kamu. Tapi kamu jangan sembunyiin apa-apa lagi ya dari aku." Raffa mencium dalam puncak kepala Nina.


"Iya, Kak Raffa juga."


"Ya udah, berarti kita udah impas."


"Tapi aku tetap kesal."


"Kesal kenapa?"


"Masak aku yang hamil tapi wajahnya mirip Kak Raffa." Nina menegakkan dirinya lalu dia meraih tas dan mengeluarkan hasil USG 4D itu. Lalu dia tunjukkan pada Raffa.


Raffa tersenyum menatap wajah calon anaknya yang begitu mirip dengannya. "Biar tahu, kalau dia anak aku."


"Ih, gak gitu juga." Nina kembali meraih foto itu dan menatapnya sambil tersenyum. "Tapi gak papa aku suka."


Raffa kini mengusap perut buncit Nina dan langsung mendapat satu tendangan dari dalam. "Sehat-sehat ya sayang. Sampai bertemu dua bulan lagi. Sudah gak sabar mau gendong kamu." Raffa mendekatkan dirinya lalu mencium perut Nina.


"Aku belum mandi." kata Nina. Karena sepulang kerja tadi dia langsung diajak oleh kedua orang tuanya.


"Aku juga belum. Aku panasin air ya. Kita mandi bareng." Raffa mencium pipi Nina lalu beranjak dari duduknya.


"Sempit kamar mandinya." Nina menyusul Raffa ke dapur. "Kak Raffa mandi dulu, nanti gantian. Aku masih mau nyemil dan minum susu."


"Ya udah nyemil yang banyak biar makin ndut." Raffa mencubit pipi chubby Nina lalu dia mengambil air di panci dan memanaskannya.


Sebelum masuk ke kamar mandi Raffa masih sempat-sempatnya menggoda Nina. "Sayang, habis mandi nengok dedek ya. Biar wajahnya makin mirip aku." goda Raffa pada Nina.


Nina hanya tersenyum sambil membuat susu di dapur. "Makanya cepetan mandinya terus gantian aku."


"Oke siap." Raffa segera masuk ke kamar mandi.


Dia kini duduk di kursi dapur sambil meminum susunya. Dia teringat pertengkaran dengan Ayahnya barusan.


Ayah, maafkan Nina...