Love You, Brother

Love You, Brother
Dan Lagi



"Kak Raffa hari ini gak masuk?" Nina masih saja menelepon Raffa setelah sampai di kampus. Meskipun hampir semalam dia tidak tidur, dia tetap berangkat pagi ke kampus. Berniat ingin mengobrol dengan Raffa tapi justru Raffa tidak masuk kuliah.


"Ya udah, nanti siang aku ke rumah Kak Raffa ya?" setelah itu Nina mematikan panggilannya. Dia masuk ke dalam kelas setelah melihat Aurel dan Vina datang.


"Nin, gimana Kak Raffa?" tanya Aurel sambil duduk di bangkunya.


"Langsung dibebasin, tapi Kak Raffa kena keroyok mereka."


"Nin, Kak Raffa cerita gak sama lo?" tanya Aurel.


"Soal?" Nina mengerutkan dahinya pertanda dia tak mengerti.


Aurel mendekatkan dirinya pada Nina, yang diikuti juga oleh Vina. Dia akan mengatakan hal yang serius. "Kak Raffa sebenarnya mau menerima tantangan dari Kak Bayu karena Kak Bayu punya rekaman adegan lo sama Kak Raffa yang berdurasi hampir satu jam itu."


"Gila satu jam!" Vina terkejut mendengar hal itu. Dia menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak lagi.


Nina hanya terdiam. Jadi demi itu Raffa rela menerima tantangan itu bahkan sampai ditangkap polisi. "Gue gak tahu soal itu."


"Tapi Kak Raffa udah berhasil dapatin kasetnya. Ambil gih, gue pengen lihat."


Seketika Nina mencubit lengan Aurel. "Ih, gak boleh." Pipi Nina kembali merona. Sebenarnya dia sendiri juga ingin tahu, seperti apa Raffa melakukannya.


"Pantes sakit, lama sih." Aurel masih saja cekikikan dengan Vina.


"Udah ah, jangan bahas itu lagi. Rel, nanti siang antarin gue ya ke rumah Kak Raffa."


"Oke."


...***...


Siang itu, setelah pulang kuliah Nina langsung menuju rumah Raffa yang diantar oleh Aurel.


"Rel, makasih ya. Mau mampir juga?" tanya Nina basa basi.


"Gak usah, nanti gue ganggu." Aurel kembali tertawa lalu dia kembali melajukan motornya.


Nina masuk ke halaman rumah Raffa setelah melewati gerbang yang dijaga satpam. Dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Tidak ada mobil yang terparkir di depan sepertinya orang tua Raffa tidak ada di rumah.


Beberapa saat kemudian, pembantu rumah itu membuka pintu untuk Nina.


"Non Nina, mau cari Den Raffa?"


Nina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, Buk."


"Masuk dulu. Den Raffa masih di kamar."


"Iya." Nina menganggukkan kepalanya lagi. Seperti biasanya dia langsung masuk ke dalam kamar Raffa. Nina tersenyum melihat Raffa yang sedang tertidur pulas sambil memeluk gulingnya.


Kemudian Nina duduk di dekat Raffa. Dia pencet hidung mancung itu sampai Raffa terbangun.


"Siapa sih yang ganggu, aku masih ngantuk." Raffa menepis tangan Nina agar menyingkir dari hidungnya.


"Ih, bangun." Raffa semakin memencet hidung itu. Dia memang paling suka mengganggu Raffa tidur.


Mendengar suara Nina, seketika Raffa membuka matanya. "Nina." perlahan dia duduk sambil menguap panjang.


Tangan Nina terulur untuk mengusap memar-memar yang ada di wajah Raffa. "Sampai kayak gini? Pasti sakit."


"Iya, lumayan. Gak papa, ini udah mendingan. Kamu ke sini sama siapa?" Raffa menurunkan kakinya dan duduk di tepian ranjang.


"Diantar Aurel. Mama Alea gak ada di rumah?" tanya Nina karena yang dia temui barusan hanya ada pembantu rumah.


"Ikut Papa keluar kota. Kamu udah makan?" tanya Raffa.


Nina hanya menggelengkan kepalanya.


"Kebetulan sekali, kita makan dulu yuk. Aku lapar." kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Ketika di rumah Raffa, Nina seperti di rumah sendiri. Dia bebas tidur dan makan sesuka hatinya.


"Meskipun makan banyak ya tetap aja segini badan aku."


"Sepertinya butuh asupan lain biar cepat gemuk." Raffa mengerlingkan matanya menggoda Nina.


"Apaan ih." Nina mencubit perut Raffa agar berhenti bercanda.


Mereka terdiam dan mulai menyantap makan siangnya. Nina kini teringat dengan kaset itu. Dia sangat penasaran, sedangkan Raffa sama sekali tak membahas soal itu.


Setelah makanan mereka habis dan meminum air putih, Nina mulai bertanya tentang kaset rekaman video itu.


"Hmm, Kak Raffa kenapa gak cerita soal kaset rekaman itu?"


Seketika Raffa menatap Nina. "Oo, kamu pasti dikasih tahu Aurel. Ya, aku cuma gak mau buat kamu kepikiran aja."


"Emang isinya kayak gimana?"


Raffa mengangkat bahunya. "Aku juga belum lihat."


"Tapi beneran kan itu kasetnya. Nanti jangan-jangan itu bukan yang asli."


Benar juga apa kata Nina. Seketika Raffa berdiri dan mengajak Nina ke kamarnya. "Kita lihat dulu."


Mereka bergegas masuk ke dalam kamar Raffa. Tak lupa Raffa mengunci kamarnya. Kemudian dia mengambil laptop dan dia taruh di lantai.


Setelah menghidupkan laptop itu, Raffa memasukkan kaset cd dan beberapa saat kemudian video yang ada di kaset itu terputar.


Benar saja, video dalam kaset itu memperlihatkan Nina sejak awal masuk kamar. Kemudian Raffa sedikit mempercepat video itu.


Seketika pipi Nina memerah melihat dirinya yang begitu agresif pada Raffa. "Ih, malu."


Raffa tersenyum sambil merengkuh bahu Nina. "Malu kenapa? Semua udah terjadi. Lagian sama aku juga, gak papa."


"Tetap aja malu."


Mereka menikmati adegan demi adegan yang diputar di video itu.


"Kamu menikmati banget ya." Raffa semakin mendekap Nina. Hawa panas itu kembali muncul apalagi saat memperlihatkan adegan inti mereka.


Nina semakin mengalihkan pandangannya. Jadi seperti itu Raffa menghajarnya tanpa jeda dan sangat bersemangat pantas setelah itu rasanya seluruh badannya pegal semua.


"Nin," Raffa meraih dagu Nina dan mencium bibirnya. Ciuman itu semakin lama semakin memanas dengan tangan Raffa yang sudah berani menjelajah di setiap titik sensitif Nina.


Mereka semakin bergelut, hingga tanpa sadar Nina berada dalam kungkungan Raffa. Napas mereka semakin berat, akankah kejadian itu terulang lagi untuk yang kedua kalinya?


"Kak..." Nina sedikit mendorong wajah Raffa yang semakin mengendus ke bawah lehernya. "Jangan gini."


"Reka adegan sekali lagi."


"Tapi..." Nina sadar apa yang dilakukannya itu salah. Tapi gairah itu kian membuncah. Dua remaja yang sedang di mabuk asmara itu tidak ada rasa menyesalnya.


Beberapa detik kemudian baju mereka sudah berserakan di lantai.


"Kak Raffa, pakai pengaman?" Nina menahan perut Raffa saat Raffa sudah memposisikan dirinya.


Raffa menggelengkan kepalanya. "Aku gak punya. Percaya sama aku ya..." Raffa kembali mendekatkan dirinya. Dia mencium lembut bibir itu saat Raffa kembali memasukinya.


Nina memekik tertahan, rasanya memang masih sedikit sakit. Tapi hanya sesaat, setelah itu dia sudah dibawa Raffa terbang melayang.


Gairah panas itu semakin membara. Dua remaja yang baru merasakan nikmatnya bercinta itu ingin terus mengulangnya lagi, dan lagi.


💞💞💞


.


Like dan komen ya...