Love You, Brother

Love You, Brother
Masalah Lagi 2



"Sial! Siapa yang lakuin ini semua!" Raffa membakar kertas-kertas yang telah dikumpulkan teman-temannya di dalam tong besi yang berada di belakang kampus. Semua kertas itu berisi kata-kata kotor serta tuntutan untuk mengeluarkan Raffa dan Nina karena terlibat hubungan inses dan hamil diluar nikah.


Raffa mengepalkan tangannya, "Pasti ini ulah Bayu!" Dia berjalan cepat menghampiri Bayu yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Dia menyergap krah jaket Bayu. "Lo yang lakuin ini semua!"


Bayu mendorong Raffa dengan keras hingga Raffa melepas cekalannya. "Lo pikir, musuh lo cuma gue aja! Gue masih punya otak dan hati. Gue gak mungkin ngebuat Nina sampai dikeluarin dari kampus!"


"Terus kalau bukan lo siapa!"


"Kak Raffa..." teriak Vina dari kejauhan. Dia berlari ke arah Raffa. "Nina dibully di toilet. Kita berusaha nolong tapi mereka makin banyak."


"Shits!" Raffa dan temannya segera berlari menuju toilet. Termasuk Bayu.


Di dekat toilet sudah banyak mahasiswa lain bergerombol. Raffa yang dibantu temannya berusaha menerobos gerombolan mereka.


"Ini dia, kakak yang gak tahu diri sudah menodai adik sendiri." beberapa mahasiswa lainnya berusaha mendorong dan melukai Raffa.


"Kalau kalian gak tahu ceritanya diam!"


"Minggir! Justru kalian semua yang udah bully yang akan dapat hukuman!"


Feri dan Jefri berusaha menahan mereka agar Raffa bisa masuk.


"Nin!" Setelah berhasil menerobos, Raffa segera meraih tubuh Nina yang sedang duduk dilantai dekat wastafel sambil menutup hidung dan mulutnya.


Keadaan diluar semakin tidak kondusif, dia segera menarik Nina masuk ke dalam bilik toilet dan menutup pintu itu.


Nina masih saja muntah meski sudah tidak ada lagi yang keluar dari mulutnya


"Kak, aku gak kuat baunya." Perut Nina sangat mual karena bau telor busuk yang tiba-tiba dilempar ke bajunya.


"Kamu pakai kemeja aku." Raffa segera melepas jaket dan kemejanya. Setelah melepas kemeja Nina, dia pakaikan kemejanya di tubuh Nina. Tapi hal itu tak memberi efek di perut Nina. Perutnya masih saja terasa diaduk bahkan sekarang terasa kaku karena dorongan yang terus ingin dimuntahkan. Meskipun Raffa sudah mengguyur bekas telor itu dengan air.


"Nin..." Raffa memijat bahu Nina agar berhenti mual.


"Kak Raffa, pakai aja jaketnya." kata Nina saat Raffa juga memakaikan jaket ditubuhnya.


"Tangan kamu dingin banget. Kamu juga pucat. Sebentar lagi aku bawa kamu keluar." Raffa sedikit membuka pintu tapi ternyata di luar toilet suasana masih belum kondusif.


"Kak," Nina sudah tidak sanggup lagi menahan tubuhnya. Dia semakin bersandar di dada Raffa.


"Nin.." Raffa mendekap tubuh Nina yang berkeringat dingin itu. "Kamu gak bawa minum?"


Nina menggelengkan kepalanya lemah. "Badan aku lemas banget, kak."


Tidak ada pilihan lain, Raffa harus meminta bantuan Reka. Dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Reka.


"Kak Reka, tolong ke kampus aku butuh bantuan."


Semua dia lakukan demi Nina. Meskipun dia harus menghadapi kemarahan kakaknya lagi, dia tak mengapa. Dia harus segera membawa Nina pergi dari tempat itu.


"Kak Raffa telepon Kak Reka?" Nina hanya bisa bicara sambil bersandar di dada Raffa.


Raffa mengusap setetes air mata yang hampir saja terjatuh. "Iya, aku harus segera bawa kamu ke rumah sakit."


"Aku gak papa." Kata Nina dengan sangat lemah. "Aku gak papa. Gak usah ke rumah sakit."


Raffa sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya, dia menciumi puncak kepala Nina dan semakin mendekap tubuhnya. Baru beberapa hari menikah saja, dia sudah tidak bisa menjaga Nina. Semua ini harusnya tidak terjadi pada Nina. Dia yang seharusnya menanggung beban ini.


"Nin..." tersadar sudah tidak ada pergerakan lagi dari Nina. "Nina!" Raffa melihat wajah Nina yang telah memejamkan matanya.


Tidak ada pilihan lagi. Raffa akhirnya mengangkat tubuh Nina dan membawanya keluar dari bilik toilet.


"Raf!" Feri dan Jefri masih di depan toilet berusaha menghalangi mereka yang akan masuk. "Nina kenapa?"


"Lo jangan sok jadi pahlawan. Jangan-jangan lo ikut andil lagi dalam pembuatan anak di perut Nina."


Seketika Bayu menyergapnya dan memukul teman kampusnya yang tak bisa menjaga omongan itu.


Raffa berusaha mencari celah untuk keluar di tengah suasana yang semakin memanas.


"Apa-apaan kalian ini!" teriak Reka yang sudah membawa dua satpam dan beberapa dosen. "Ini bukan tempat demo! Perbuatan kalian ini membahayakan nyawa orang lain." Reka segera melerai kerumunan itu dan melindungi Raffa yang sedang menggendong Nina. "Pak, tolong urus mereka semua yang terlibat. Saya gak mau tahu, mereka semua harus dituntut! Kalau tidak, kampus ini yang akan menerima akibatnya."


Mendengar hal itu, mereka semua terdiam dan secara perlahan mulai melangkah bubar. Mereka semua tidak tahu jika Raffa dan Nina adalah adik Reka. Reka yang telah menjadi bagian penting di kampus itu.


Raffa dan Reka melangkah kini segera cepat menuju mobil.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang."


Setelah masuk ke dalam mobil, Reka segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Nin..." Raffa menepuk pelan pipi Nina agar dia tersadar. Kemudian dia genggam tangan Nina yang dingin itu dan dia usap dengan kedua tangannya. "Nin, aku mohon kamu cepat sadar."


Reka beberapa kali melirik mereka lewat rear spion. Dia merasa kasihan dengan nasib adik-adiknya itu.


"Nin..."


Nina akhirnya membuka matanya tapi lagi-lagi dia mual dan memuntahkan isi perutnya yang sudah tidak ada apa-apa lagi itu.


Raffa terus mengusap dan memijat pelan punggung Nina.


"Raf, ambilkan air mineral di jok belakang."


Raffa segera mengambil sebotol air mineral. Dia membuka seal-nya dan membantu Nina minum.


"Kamu pakai sweater aku, di jok belakang juga." kata Reka lagi.


Raffa mengambil sweater yang dimaksud dan memakainya.


"Kita pulang aja ya..." pinta Nina.


"Nggak! Kita harus ke rumah sakit buat mastiin kondisi kamu. Kamu pucat banget. Aku gak mau kamu kenapa-napa." Raffa kembali mendekap tubuh Nina.


"Iya, lebih baik kita ke rumah sakit dulu." kata Reka.


"Kak Reka jangan bilang Ayah sama Bunda soal ini. Aku gak mau Bunda khawatir dan aku juga gak mau Kak Raffa kena marah lagi."


Mendengar hal itu, Raffa semakin mengeratkan dekapannya.


"Iya, aku gak akan cerita. Kamu jangan mikir macam-macam. Kamu fokus dengan kondisi kamu." kata Reka. Bagaimanapun juga mereka adik-adiknya, tidak mungkin dia biarkan begitu saja menanggung masalah ini sendiri.


Nina kini mengusap perutnya yang terasa kaku. Rasa mual masih saja belum hilang.


"Kenapa? Perutnya sakit?" tanya Raffa. Dia semakin khawatir dengan kondisi Nina saat ini.


"Kaku, gak enak. Aku takut, Kak."


"Sssttt, semoga gak papa ya." meskipun Raffa sebenarnya juga takut hal-hal buruk terjadi pada Nina.


💞💞💞


.


Jangan lupa like dan komen ya...