Love You, Brother

Love You, Brother
Takkan Terganti



"Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk istriku tercinta yang sekarang sedang berulang tahun. Terima kasih kamu sudah mau menjadi bagian dari hidupku. I love you..."


Pipi Nina semakin merona. Dia tersenyum malu. Apalagi saat mendapat cie cie dari sahabatnya. Rasanya dia seperti baru merasakan jatuh cinta. Tapi memang dia selalu merasa jatuh cinta dengan Raffa setiap harinya.


Dia kini terus menatap Raffa yang sedang memainkan sebuah gitar.


Ku bersyukur memiliki kamu


Ku bahagia ada di sampingmu


Hati ini terasa tenang


Bila kau selalu bersama diriku


Nina tersenyum mendengar nyanyian Raffa. Dadanya berdebar-debar, dia merasa begitu istimewa.


Ku terima kekurangan kamu


Kau terima kekurangan aku


Lengkapilah lembar jalanku


Untuk mengarungi di setiap langkahku


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Aurel menyenggol pundak Nina. "Samperin sana. Sweet-sweet an dulu."


Nina hanya tersenyum. Rasanya sangat ini mendebarkan. Dia ragu untuk berdiri dan menghampiri Raffa.


Kucintai kau setulus hati


Kusayangi kau sepenuh hati


Aku mohon, kau tetap di sini


Menemani aku sampai akhir nanti


'Kan kujaga kau s'lama-lamanya


Sampai raga tak lagi bernyawa


Aku mohon, kau tetap setia


Menemani aku sampai akhir dunia


Nina akhirnya berdiri, dia berjalan perlahan menuju music corner.


Melihat Nina yang kian mendekat, Raffa tersenyum sambil melanjutkan nyanyiannya.


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Kucintai kau setulus hati


Kusayangi kau sepenuh hati


Aku mohon, kau tetap di sini


Menemani aku sampai akhir nanti


'Kan kujaga kau s'lama-lamanya


Sampai raga tak lagi bernyawa


Aku mohon, kau tetap setia


Menemani aku sampai akhir dunia


(Takkan Terganti by Kangen Band)


Raffa menghentikan nyanyiannya lalu meletakkan gitarnya, dia kini mendekati Nina dan menggenggam kedua tangan Nina. Dia menatap Nina dengan penuh cinta. Begitu banyak kata yang ingin dia katakan tapi hanya tersirat dari tatapan matanya saja.


"Makasih." kata Nina sambil tersenyum. Itulah yang mampu terucap dari bibir Nina. Semua kalimat indah hanya tertahan di bibirnya.


"Sama-sama." Raffa menggandeng tangan Nina dan mengajaknya kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Romantis banget kalian berdua."


"Udah jangan tatap-tatapan terus, makan dulu. Soalnya cinta gak bikin kenyang." celetuk Jefri.


Mereka mulai bercanda sambil menyantap hidangan.


Hari itu Nina benar-benar merasa bahagia. Dia bisa merayakan hari ulang tahunnya yang ke 19 bersama suami dan sahabat-sahabatnya.


...***...


Setelah acara selesai, Raffa pulang bersama Nina menuju rumah kontrakan mereka. Sejak Nina hamil, Raffa memang melajukan motornya cukup pelan dan hati-hati.


Kedua tangan Nina kini melingkar di perut Raffa dan memeluknya erat.


Beberapa saat kamudian Raffa sampai di depan rumah kontrakannya. Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Setelah Raffa memasukkan motornya, dia mengunci pintu rumahnya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya, Kak."


"Iya." Raffa berjalan masuk ke dalam kamar. Dia menyiapkan piyama Nina dan baju miliknya. Setelah itu dia menuju dapur dan membuatkan susu untuk Nina.


Beberapa saat kemudian Nina keluar dari kamar mandi.


"Sayang, minum susu dulu." Raffa memberikan segelas susu yang hangat itu. "Setelah ini kamu istirahat dulu gak papa."


Nina menganggukkan kepalanya, kemudian dia meneguk susu hangat itu sampai habis.


Dia masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian dengan piyama yang sudah Raffa siapkan. "Kak Raffa perhatian banget." Nina masih saja tersenyum kecil. Meskipun hidup sederhana bersama Raffa tapi dia tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian.


Kemudian Nina merebahkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Rasa kantuk itu belum juga singgah, sampai Raffa keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.


"Sayang belum ngantuk?" tanya Raffa sambil naik ke atas ranjang dan menyusup di balik selimut bersama Nina.


"Saking senangnya hari ini sampai aku gak bisa tidur." Nina memutar dirinya dan menghadap Raffa. "Sekali lagi makasih ya."


"Sama-sama." Raffa mengusap puncak kepala Nina agar dia bisa mengantuk. "Sayang, mulai besok pagi aku akan kerja jadi kurir makanan juga."


Seketika Nina mendongak. "Jam berapa? Kak Raffa memang gak capek?"


"Dari jam 5-8 pagi. Jadi setelah selesai antar makanan aku langsung berangkat kuliah."


"Terus setelah kuliah, langsung berangkat ke kafe?"


Raffa menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun Kak, nanti Kak Raffa kecapekan."


"Ini buat persiapan biaya kelahiran sama buat beli perlengkapan si kecil. Demi kamu dan calon buah hati kita, aku pasti gak akan merasa capek."


Mendengar hal itu Nina semakin mengeratkan pelukannya. "Makasih semuanya. Aku boleh kerja gak? Aku mau bantu Kak Raffa."


Raffa tersemyum kecil lalu mencium puncak kepala Nina. "Jangan! Aku gak mau kamu kerja. Kamu cukup istirahat di rumah dan jaga kesehatan kamu. Semua aku lakukan karena aku sangat menyayangimu." Raffa merenggangkan pelukannya lalu menatap Nina. "I love you." dia cium kening Nina, lalu ke hidung, kemudian singgah di bibir Nina. Mulai me lu mat nya dengan lembut bibir itu. Semakin bergelora dan kian memanas saat tangan Raffa diam-diam sudah merayap menyentuh tempat favoritnya di dada Nina.


"Sayang, mau..."


Nina hanya mengangguk dan tersenyum malu. Ritual malam memang tidak setiap hari mereka lakukan karena Raffa yang seringkali pulang malam.


Raffa kembali memagut bibir itu sedangkan kedua tangan Raffa mulai melepas kancing piyama daster Nina. Ciuman Raffa kian turun ke bawah, menyapu leher putih Nina. Kemudian turun lagi ke bawah dan bermain di kedua buah sintal yang semakin terlihat menantang.


Nina kian men de sah. Sejak hamil hasratnya memang sangat mudah terpancing.


Raffa sudah hafal tentang hal itu. Tanpa Nina minta, dia akan langsung menuju ke permainan inti.


"Sayang main sebentar ya sama Ayah." Raffa menciumi perut Nina sebelum dia memposisikan tubuhnya.


Setelah melepas seluruh pakaiannya, Raffa memposisikan dirinya di antara kedua pa ha Nina. Dengan lembut tapi pasti Raffa mulai menyatukan dirinya. Bergerak pelan dan berirama.


Mereka saling menatap dengan bibir yang sesekali berdesis.


"Aku sayang kamu, Nin."


"Aku juga sayang, Kak Raffa."


Mereka menikmati momen indah malam itu. Semakin lama kian memanas, hingga kedua tubuh itu berpeluh. Deru napas dan suara de sa han kian bersahutan hingga mereka sampai pada pelepasannya bersama.


Raffa masih menciumi wajah Nina dengan ungkapan cinta berulang kali. Setelah itu dia melepas dirinya. Menghempaskan tubuhnya di samping Nina lalu memeluk tubuh berpeluh itu dengan erat.


"Kita pasti akan selalu bersama selamanya..."


💞💞💞


.


Like dan komen ya...