
"Bagaimana kabar kamu sekarang, Nak?" tanya Alea pada Raffa. Mereka berdua akhirnya bisa mengobrol di ruang karyawan kafe. Karena paksaan dari Alea, Raffa akhirnya mau mengobrol dengan Mamanya.
"Baik, Ma." Raffa masih saja menundukkan pandangannya. Dia takut saat menatap Mamanya air mata itu akan mengalir begitu saja.
Alea terus menatap putranya. Lalu satu tangannya kini terulur mengusap rambut Raffa yang tidak serapi dulu itu. "Kamu pucat, kamu sakit?"
Raffa menggelengkan kepalanya. "Hanya sedikit flu."
"Bagaimana keadaan Nina? Kandungannya sehat? Sekarang sudah enam bulan ya?"
Raffa menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah sehat."
"Kalau butuh apa-apa kamu bilang ya sama Mama. Jangan takut sama Papa. Mama yakin Papa gak benar-benar marah sama kamu."
Raffa mengangguk kaku.
"Besok-besok, Mama mau ke rumah kamu. Kalau Papa gak mau biar Mama sendiri yang ke tempat kamu." kata Alea lagi.
Kini baru Raffa memberanikan diri menatap Mamanya. "Tidak perlu, Ma. Nanti mama bisa bertengkar sama papa. Tidak apa-apa. Ini semua memang kesalahan aku. Aku pasti bisa melalui ini semua sendiri, Ma. Bersama Nina."
Seketika Alea memeluk tubuh putranya itu. "Mama kangen banget sama kamu. Kamu jaga diri baik-baik ya."
Raffa menganggukkan kepalanya.
Alea melepaskan pelukannya lalu dia membuka tas dan dompetnya. Dia memberi beberapa lembar uang kertas yang berwarna merah pada Raffa. "Ini buat Nina. Buat beli perlengkapan bayi."
Raffa mendorong tangan Mamanya. "Tidak usah, Ma. Aku sudah punya simpanan."
"Tapi..."
Raffa tetap menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Maaf, Ma. Mama kembali ke meja. Papa sudah menunggu. Aku juga mau lanjut bekerja."
Alea memasukkan kembali uang itu. Dia tahu sifat Raffa memang tidak bisa dipaksa. "Ya sudah. Kamu hati-hati ya. Jaga kondisi kamu, jaga Nina juga."
"Iya, Ma."
Kemudian Alea berdiri dan berjalan keluar dari ruang karyawan.
Setetes air mata menetes di pipi Raffa. Dia tahu semuanya tak seperti dulu. Dia harus tahu diri. Dia bukan tanggungan kedua orang tuanya lagi. Mungkin dulu dia memang selalu dimanja oleh kedua orang tuanya tapi dia justru mengecewakan kedua orang tuanya dan membuat mereka marah.
Maafin aku Ma, Pa. Aku belum bisa membahagiakan Mama dan Papa justru membuat kalian berdua malu karena ulah aku. Aku janji, aku akan berusaha untuk bisa hidup mandiri bersama Nina.
Tepat jam 9 malam, Raffa pulang dari kafe. Badannya terasa lebih enakan setelah meminum STMJ yang gratis dari kafe. Dia kini menghentikan motornya di depan rumah kontrakannya. Dia turun lalu membuka pintu dan memasukkan motornya ke dalam rumah.
Rumah sudah sepi. Televisi juga sudah mati, itu tandanya Nina sudah tidur di kamarnya. Raffa kini masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum melihat Nina yang sudah tertidur dengan nyenyak sambil memeluk gulingnya. Perlahan Raffa mendekat lalu menyelimuti Nina.
Setelah itu, dia mengambil baju gantinya dan menuju kamar mandi. Hanya beberapa menit, dia sudah selesai mandi dan berganti baju.
"Kak Raffa." Nina terbangun lalu membalikkan badannya dan tersenyum menatap Raffa. Meski matanya masih setengah terbuka dan terlihat sangat mengantuk.
"Maaf ya, jadi kebangun."
Nina menggelengkan kepalanya. "Aku udah ketiduran dari tadi. Tiba-tiba rasanya bosan, acara tv juga gak ada yang bagus."
Satu tangan Raffa kini mengusap perut buncit Nina yang langsung disambut dengan gerakan dari dalam. "Nanti setelah anak kita lahir kamu gak akan kesepian lagi di rumah."
Nina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, satu tangannya juga mengikuti gerak tangan Raffa di atas perut. "Gerakannya udah semakin lincah. Bentar lagi udah 6 bulan. Kak Raffa nanti temani aku ya waktu melahirkan."
"Iya, pasti aku temani. Nanti kamu lahiran di rumah sakit saja ya." kata Raffa.
Nina menggelengkan kepalanya. "Di bidan saja, dekat. Kan aku udah periksa tiap bulan dan gak ada keluhan apa-apa."
"Tapi sayang..."
"Kak, yang terpenting itu adalah dukungan dari Kak Raffa bukan yang lain. Mau melahirkan dimanapun itu sama aja."
Raffa akhirnya terdiam dan menciumi pipi Nina. "Mama sama Papa tadi makan di kafe dan ketemu sama aku."
Nina kini menatap Raffa. "Terus?"
"Papa masih belum memaafkan aku, tadi hanya Mama yang mengajak aku mengobrol sebentar." Raffa menghela napas panjang. Satu tangannya kini memeluk Nina sedangkan pandangannya menatap langit-langit. "Rasanya cepat sekali ya, dulu aku selalu sama Mama dan Papa, sekarang justru aku yang akan jadi Ayah." Raffa tersenyum kecil. Dia tak pernah menduga akan berkeluarga di usia yang masih terbilang muda.
"Iya, semua emang udah jalan takdir, yang penting kita sekarang harus berusaha untuk jadi hidup yang lebih baik."
Raffa menganggukkan kepalanya. "Iya, biarkan orang lain menganggap pernikahan kita ini adalah sebuah kesalahan yang penting bagi kita, ini adalah sebuah anugerah."
Nina menganggukkan kepalanya lagi. "Kak Raffa cepat tidur kalau capek."
"Kamu ngantuk?" tanya Raffa.
Nina menggelengkan kepalanya. "Ngantuknya udah hilang."
"Nengok dedek yuk, udah lama gak lakuin."
Mereka saling menatap dan tersenyum. Kemudian kedua wajah itu saling mendekat dan mulai memagut cinta.
Kamar yang awalnya dingin itu, kini berubah menjadi panas dan membuat kedua tubuh yang sama polos itu berkeringat. Suara nikmat saling bersahutan hingga mereka mencapai pelepasan bersama.
.
.