
Nina kini menatap dirinya di cermin. Polesan make up sederhana dan balutan kebaya putih itu terlihat sangat sempurna. Harusnya ini menjadi pernikahan yang terindah dalam hidupnya, bukan pernikahan penuh amarah dan tangis seperti ini.
"Cantik." Luna merengkuh pinggang putrinya dan mengajaknya keluar dari kamar. "Raffa dan orang tuanya sudah datang. Kamu harus senyum ya. Semoga pernikahan kamu membawa kebahagiaan."
"Iya Bun. Amin." mereka berdua berjalan perlahan keluar dari kamar menuju ruang tamu rumahnya.
Raffa yang tengah duduk di dekat penghulu, kini menatap Nina. Meski dengan riasan ala kadarnya tapi dia terlihat sangat cantik. Hati Raffa seketika berdenyut nyeri. Harusnya bukan dalam keadaan ini dia menikahi Nina. Harusnya ada pesta meriah dan menjadikan Nina ratu dalam sehari.
Raffa menghela napas panjang, dia tekan ujung matanya agar air mata itu tidak menetes.
Nina kini duduk di sebelah Raffa. Beberapa saat kemudian Niko juga telah duduk hadapan Raffa.
"Sudah siap mempelai pria?" tanya Pak Penghulu itu.
Raffa hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Wali dari mempelai putri sudah siap dimulai?"
Niko mengangkat tangan kanannya ke atas meja. Belum juga Raffa membalas jabatan tangan Niko, dia kembali mengepalkan tangannya dan menurunkannya. Kini dia menundukkan pandangannya. Siluet dosa di masa lalu seolah menertawakannya di pelupuk mata.
Andai saja waktu itu dia ada di posisi Raffa, pasti kejadiannya akan sama persis seperti ini. Dia pasti akan diusir oleh keluarganya, dan hidup mandiri bersama Alea. Tapi Tuhan memilih caranya sendiri agar Alea bisa hidup bahagia bersama orang yang sangat menyayanginya.
Niko tak sanggup lagi menahan air matanya, dia berdiri dan berjalan keluar menuju teras rumahnya.
Hatinya terasa hancur ketika harus menyerahkan Nina pada Raffa dengan cara seperti ini. Jujur saja dia sangat khawatir jika nantinya Nina tidak bisa bahagia. Tapi ini sudah menjadi keputusan kedua keluarga untuk memberi pelajaran pada mereka berdua.
"Mas..." Luna mendekat dan mengusap punggung suaminya yang bergetar. "Aku tahu, Mas Niko sangat berat melepas Nina."
Niko menghela napas panjang sambil menghapus air mata yang hampir menetes di pelupuk matanya. "Ini semua salah aku. Karma itu masih berjalan. Dosa di masa lalu seolah terulang lagi. Tapi kenapa harus Nina yang menanggungnya. Aku..." Niko menghentikan perkataannya. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana kehidupan Nina selanjutnya.
Luna terus mengusap punggung suaminya. "Mas, jangan ungkit masa lalu lagi. Ini sudah jalan takdirnya, kita berdo'a saja semoga Nina mendapatkan kebahagiaannya. Sekarang tugas Mas Niko menikahkan Nina, kita masuk ke dalam sekarang ya. Kasihan Nina nanti tambah sedih."
Niko masih saja terdiam sambil menatap langit cerah siang hari itu.
Sedangkan di dalam rumah, Nina sudah gelisah. Apakah Ayahnya tidak mau menikahkannya dengan Raffa.
"Kak, gimana kalau Ayah gak mau menikahkan kita?" Nina menundukkan pandangannya, dia tidak mau orang lain tahu matanya kini telah berkaca-kaca.
Raffa menggenggam tangan Nina berusaha untuk menenangkannya tanpa berkata, meski dalam hatinya juga takut akan hal itu.
Beberapa saat kemudian, Niko dan Luna kembali masuk ke dalam. Niko duduk di depan Raffa, sedangkan Luna menghampiri putrinya dan memeluknya sesaat.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan sedih ya..."
Perkataan Luna membuat hati Nina jauh lebih tenang.
Niko kini menatap Raffa, dia menghela napas panjang. "Raffa, mulai sekarang aku serahkan putri aku pada kamu. Bahagiakan dia, sayangi dia seperti aku menyayangi dia. Jangan pernah sia-siakan dia sedikit pun."
"Iya Ayah."
Niko kini menjabat tangan Raffa tanpa keraguan lagi. Dan akhirnya ijab qabul itupun terlaksana.
"Selamat ya sayang." setelah mereka berdua sah menjadi suami istri, Luna memeluk putrinya begitu juga dengan Alea.
Sedangkan Niko dan Kevin hanya berdiam diri. Mereka sama-sama menyembunyikan segala macam perasaan di hatinya.
...***...
"Nin, besok Bunda belikan perlengkapan dapur sama tv ya." kata Luna yang melihat dapur masih kosong tanpa isi.
"Tidak usah Bunda. Nanti biar Raffa saja yang beli." tolak Raffa sambil memasukkan tasnya dan Nina ke dalam kamar.
"Raffa, tidak apa-apa. Bunda mau kasih buat Nina."
"Maaf Bun," Raffa keluar dari kamar dan berdiri di samping Nina. "Tapi mulai sekarang semua ini menjadi tanggung jawab Raffa."
Luna tak berbicara lagi. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Sebenarnya dia juga kasihan dengan Raffa. Kevin benar-benar tidak memberi Raffa apa-apa selain motor yang Raffa pakai. Bahkan Kevin tidak mau ikut mengantar Raffa meskipun Alea terus meminta.
"Ya sudah. Bunda titip Nina. Kalau kalian butuh apa-apa bilang sama Bunda."
"Iya, Bun."
Niko sedari tadi hanya terdiam. Sebenarnya dia juga tidak sampai hati meninggalkan Nina. Dia keluar dari rumah kontrakan itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Raffa mengantar mereka berdua sampai teras rumah, setelah itu Raffa kembali dan menutup pintu rumah itu.
"Kak Raffa, Ayah pasti marah sama aku." setetes air mata jatuh di pipi Nina. "Ayah sama sekali gak bicara apapun sama aku dari kemarin."
Raffa meraih tubuh Nina ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, sudah membuat hidup kamu seperti ini."
Nina semakin menenggelamkan wajahnya di dada Raffa.
"Aku akan berusaha untuk bahagiakan kamu. Sekarang kamu istirahat ya, pasti kamu capek banget."
Nina menganggukkan kepalanya lalu mereka berjalan masuk ke dalam kamar.
"Biar aku masukkan dulu baju kamu ke dalam lemari." Raffa membuka dua koper besar Nina. "Kamu pakai yang mana sekarang?"
"Kak, lemarinya kecil. Baju Kak Raffa ditaruh mana?" Nina justru berdiri dan membantu Raffa menata pakaiannya.
"Punya aku gampang. Cuma dikit. Sayang, udah biar aku saja. Kamu sekarang istirahat, biar kamu gak pusing lagi kayak tadi."
Nina hanya terdiam menatap Raffa. "Sayang?"
Raffa tersenyum dan mengusap puncak kepala Nina. "Panggilan untuk kamu mulai sekarang."
Seketika pipi Nina bersemu merah, dia mengambil piyamanya lalu berganti baju.
Raffa hanya melirik Nina yang sedang berganti baju. Dia harus mulai terbiasa melakukan apapun berdua dengan Nina.
"Minum air putih dulu sebelum tidur, sama vitaminnya." Raffa mengambil sebotol air mineral dan membuka sealnya.
Setelah selesai minum, Nina merebahkan dirinya. "Kak Raffa gak tidur?"
"Iya sebentar lagi. Kamu tidur dulu ya." Raffa masih berkutat dengan pakaiannya. Jelaslah lemari kecil itu tidak cukup. Sepertinya dia harus segera membeli perlengkapan lainnya.
Raffa melirik Nina yang sudah tertidur pulas. Pasti seharian ini dia merasa lelah. Kemudian Raffa keluar dari kamar dan duduk di kursi ruang tamu. Dia berpikir, darimana dia mendapatkan uang, semua ATM nya saja disita oleh Papanya. Padahal beberapa di dalamnya ada yang murni tabungannya sendiri.
Dia kini melihat sepeda motornya. "Cara satu-satunya jual ini ganti yang matic. Dalam keadaan hamil Nina juga kurang nyaman naik motor tinggi gini."
Sepertinya Raffa memang harus merelakan motor sport kesayangannya itu.