Love You, Brother

Love You, Brother
Hanya Flu



"Apa aku harus bantu Kak Raffa kerja saja ya." Nina menghela napas panjang. Dia kini duduk sambil menonton televisi di siang hari itu, sambil berpikir untuk mencari pekerjaan. Usia kandungannya sekarang sudah 5 bulan, rasa mual dan pusing semua sudah hilang. Bahkan kini dia merasa bosan setiap hari di rumah sedangkan Raffa kerja dari pagi buta sampai malam hari.


"Nin," Aurel dan Vina datang ke rumah Nina setelah mereka pulang dari kampus. Pintu kontrakan rumah Nina memang sudah terbuka, mereka langsung masuk dan duduk di sebelah Nina.


"Rel, lo tahu pekerjaan yang cocok buat gue gak?" tanya Nina.


Aurel mengernyitkan dahinya sambil saling tatap dengan Vina sesaat. "Lo udah tahu kalau Kak Raffa butuh uang banyak."


"Butuh uang banyak. Buat apa?" Nina tak mengerti maksud perkataan Aurel. Dia memang butuh uang untuk persiapan melahirkan tapi tidak terlalu banyak.


Aurel dan Vina terdiam beberapa saat.


"Rel, kalian tahu sesuatu?" tanya Nina lagi.


"Hmm, sebenarnya gini. Tapi lo janji ya jangan cerita sama Kak Raffa soal ini. Kita takut kalau Kak Raffa marah lagi kayak dulu." kata Aurel.


Nina menganggukkan kepalanya. "Iya, tenang aja, gue gak bakal cerita sama Kak Raffa. Gue penasaran, apa yang buat Kak Raffa kerja dari pagi sampai malam."


"Jadi sebenarnya, gue tadi diceritain sama Kak Feri katanya Kak Raffa butuh uang sampai 30 juta buat biaya lo melahirkan di rumah sakit."


Nina sangat terkejut. "Hah? 30 juta. Gue udah tanya sama Bidan, biayanya cuma 1 juta untuk lahiran normal."


"Jadi lo sebenarnya mau lahiran di bidan?" tanya Vina.


"Yaiyalah. Alhamdulillah tiap pemeriksaan tumbuh kembangnya normal dan sehat jadi kemungkinan untuk melahirkan normal sangat besar."


"Lo beneran gak takut kan?" tanya Aurel lagi memastikan.


Nina menggelengkan kepalanya. "Padahal gue udah pernah bilang sama Kak Raffa soal ini masa Kak Raffa lupa."


"Hmm, gini. Bukannya gue mau ikut campur sama keluarga lo tapi Kak Raffa lakuin ini karena permintaan Ayah lo," kata Aurel.


"Ayah?"


"Jadi dari cerita yang aku dengar, Ayah lo mau lo melahirkan di rumah sakit dengan metode eracs. Biar lo gak ngerasain sakit."


Nina menghela napas panjang, pantas Raffa sampai bekerja dari pagi buta sampai malam. Dia tahu Ayahnya begitu sayang padanya tapi tak seharusnya Ayahnya menentukan masalah rumah tangganya.


"Nin, jangan marah sama Kak Raffa soal ini. Nanti lo pancing-pancing aja biar Kak Raffa mau jujur."


Nina menganggukkan kepalanya. "Rel, gimana? Ada gak pekerjaan yang cocok buat gue?"


"Insya Allah. Gue bosan di rumah terus, kan lumayan buat nambah pendapatan."


"Tadi gue lihat ada lowongan pekerjaan di laundry dekat gang. Coba tanya-tanya deh." kata Vina.


"Beneran, ya udah besok coba gue tanya ke sana."


Kemudian mereka lanjut mengobrol sampai sore hari.


...***...


"Belum tidur?" tanya Raffa saat melihat Nina yang masih duduk di ruang tamu saat dia pulang larut malam hari itu.


Nina menggelengkan kepalanya, dia berdiri dan mendekati Raffa yang sedang memasukkan motornya. "Kak Raffa kok pakai masker?" tanya Nina yang melihat Raffa sedang memakai masker, bahkan suara Raffa juga terdengar serak.


"Aku kena flu. Takut kamu tertular jadi aku pakai masker. Kamu istirahat dulu, aku mau mandi."


"Sudah minum obat?" tanya Nina, dia menjadi khawatir dengan keadaan Raffa.


"Sudah, tadi ambil obat di kafe."


"Kak, pakai air hangat saja. Sebentar aku siapkan." Nina berjalan menuju dapur lalu mengisi panci dengan air dan memanaskannya.


"Biar aku sendiri, kamu istirahat saja, ini sudah malam."


Nina akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan diri dengan pikiran yang menerawang jauh.


Beberapa saat kemudian, Raffa sudah selesai mandi dan sudah berpakaian bahkan Raffa kini memakai jaketnya.


"Dingin banget." Dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. Dia menjaga jarak dengan Nina, agar Nina tidak tertular.


"Kak Raffa kedinginan? Pakai selimutnya."


Raffa menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Besok kalau masih gak enak badan, Kak Raffa libur dulu, istirahat di rumah." kata Nina. Dia merasa sangat kasihan dengan Raffa.


Raffa menggelengkan kepalanya. "Besok pasti sudah enakan. Sayang, kamu tidur saja sudah malam. Aku cuma kena flu biasa."


Nina hanya menatap Raffa yang kini tidur memunggunginya sambil meringkuk. Dia semakin merasa iba. Sepertinya, dia memang harus membantunya bekerja.