
Raffa dan Nina sama-sama mengatur napasnya setelah melakukan sesuatu yang panas dan membuat tubuh mereka bermandikan keringat.
Raffa kini memeluk tubuh polos Nina, dia menarik selimut agar Nina tidak kedinginan.
"Kak Raffa gak akan ninggalin aku kan?" tanya Nina karena dia merasa takut jika harus kehilangan Raffa, terlebih setelah apa yang mereka lakukan itu.
"Gak akan. Aku pasti gak akan ninggalin kamu. Aku cinta banget sama kamu." Raffa mencium kening Nina. "Kita menikah saja yuk? Kamu mau?"
"Emang Kak Raffa sudah siap untuk menikah dan mencari nafkah?" tanya Nina sambil mendongak menatap Raffa.
"Ya antara siap dan belum siap. Iya, selama ini aku hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Aku masih belum bisa mandiri. Sepertinya aku harus mulai belajar mencari uang."
Nina tersenyum kecil lalu dia mulai memejamkan matanya. "Aku juga belum siap kalau aku harus menjadi ibu."
Belum siap menjadi ibu? Satu rasa bersalah singgah lagi di hati Raffa. Sepertinya barusan dia juga telat mengangkatnya lagi. Bagaimana jika hal yang ditakutkan itu terjadi pada Nina.
Raffa kini menatap Nina yang telah tertidur dengan nyenyak. Setelah merasakan kenikmatan sesaat itu, kini dia menyesal.
Setelah ini, aku gak akan lakuin ini lagi sama kamu.
Beberapa saat kemudian, Raffa mulai memejamkan matanya. Baru beberapa menit tertidur, mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang lumayan keras.
"Raffa! Nina ada di dalam sama kamu?" teriak Reka dari luar kamar Raffa.
Seketika Raffa terduduk dan membangunkan Nina. "Nin, bangun. Ada Kak Reka diluar."
"Kak Reka!" Seketika Nina bangun dan memakai bajunya yang sudah dipungut oleh Raffa. "Gimana nih kalau Kak Reka marah sama aku?" membayangkan kemarahan Reka saja sudah membuat Nina ketakutan.
"Biar aku cari alasan."
"Raffa!!" Reka semakin menggedor pintu itu karena tak juga dibuka oleh Raffa.
Setelah mereka berdua memakai baju, baru Raffa membuka pintu itu.
Nina merasa takut, dia bersembunyi di belakang pintu.
"Ada apa Kak?" tanya Raffa seolah tak terjadi apa-apa.
Reka mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Reka. Dia melihat ranjang yang berantakan, jelas pikiran negatif langsung singgah. "Kata Bi Rini, Nina ke sini. Dimana dia sekarang?"
Nina muncul dari balik pintu secara perlahan sambil menundukkan pandangannya.
"Nina." Reka menghela napas panjang. Umur dia jauh di atas mereka, jelas dia tahu apa yang dilakukan adik-adiknya itu. Mungkin dulu mereka memang biasa berkunjung ke kamar satu sama lain tapi tidak pernah dikunci seperti ini. Belum lagi ranjang yang acak-acakan dan tampilan lesu mereka berdua. "Kalian ngapain berdua di kamar?!"
"Aku cuma ajak Nina belajar." jawab Raffa.
"Belajar apa! Belajar apa sampai pintu kamar dikunci dan aku gedor gak cepat dibuka. Kalian pikir aku bisa dibohongi!" Reka menarik tangan Nina agar mendekat. "Pulang sekarang!"
"Iya Kak, jangan tarik-tarik gini."
"Kak Reka, ini salah aku. Jangan salahin Nina."
Darah Reka naik seketik merasakan kebandelan kedua adiknya itu. "Iya, kamu salah! Aku udah bilang, kamu harus jagain Nina. Tapi kamu sendiri merusak kepercayaan aku. Kalian mau, masa depan kalian hancur!"
Raffa dan Nina hanya terdiam.
"Mulai sekarang, kalian gak boleh dekat-dekat lagi. Ayo, sekarang kita pulang." Reka menarik tangan Nina agar berjalan mengikutinya. "Aku akan bilang sama Ayah dan Bunda soal ini."
"Jangan Kak, nanti mereka marah sama aku." Nina mengikuti langkah jenjang Reka.
"Kamu takut orang tua kamu marah, tapi kamu gak takut melakukan dosa." Reka membuka pintu mobilnya dan menyuruh Nina masuk.
"Sudah berapa kali kamu melakukannya sama Raffa?" tanya Reka dengan pandangannya yang fokus menatap jalanan sore hari itu.
Nina hanya menggelengkan kepalanya.
"Jawab! Aku yakin kamu sudah berkali-kali melakukannya."
Nina semakin menundukkan pandangannya. Sedari dulu dia memang takut jika Reka marah. Meskipun dia mengerti, apa yang dilakukan Reka karena Reka sayang pada dirinya.
"Dua kali." jawab Nina pada akhirnya dengan suara yang sangat pelan.
Reka semakin mengeraskan rahangnya. Andai saja Raffa bukan adiknya, dia pasti sudah menghajarnya. "Kamu sebagai perempuan harusnya bisa jaga diri. Meskipun kamu sama Raffa sudah bersama sejak kecil dan saling mencintai, tapi tetap harus bisa jaga tingkah laku."
"Iya Kak, awalnya aku dijebak."
"Dijebak Raffa?" Reka masih fokus dengan jalanan sore hari itu sambil sesekali melirik Nina.
"Bukan Kak Raffa. Panjang ceritanya."
Reka menghela napas lagi. "Apapun alasannya, kamu tetap gak boleh ngelakuin itu sebelum menikah. Kamu gak takut dosa? Bunda dan Ayah besarin kamu dengan didikan yang baik dan penuh kasih sayang agar ketika kamu dewasa kamu bisa menjaga diri kamu sendiri, bukan malah merusak diri kanu kayak gini."
Kini Nina mulai menangis. Dia memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya jika tahu apa yang telah dia lakukan.
"Bagaimana kalau nanti kamu hamil? Kamu udah siap jadi ibu di umur kamu yang masih muda ini?"
"Iya Kak, aku..." Nina semakin menangis sesenggukan. Baru kali ini dia merasa benar-benar sangat bersalah dalam hidupnya.
Reka yang melihat Nina semakin menangis, dia menepikan mobilnya. "Udah jangan nangis." Reka meraih kepala Nina agar bersandar di dadanya. Dia harus bisa menenangkan Nina seselum sampai di rumah. "Semua udah terjadi, ke depannya kamu harus memperbaiki tingkah kamu. Jangan melakukan hal kayak gini lagi, kalau Raffa maksa kamu, bilang sama aku."
Nina menganggukkan kepalanya.
"Maafin Kakak selalu bentak-bentak kamu. Kakak itu sayang sama kamu. Kakak gak mau masa depan kamu rusak hanya karena kenikmatan sesaat itu."
Nina menganggukkan kepalanya lagi.
"Janji sama Kakak jangan ulangi lagi ya."
"Iya Kak."
Reka melepas pelukannya pada adiknya, dia menghapus sisa air mata Nina yang ada di pipinya. "Aku gak akan cerita sama Ayah dan Bunda soal ini. Jangan nangis lagi."
Setelah Nina lebih tenang, Reka kembali melajukan mobilnya. Tak ada pembicaraan lagi di antara mereka karena rumah mereka pun sudah dekat.
Beberapa saat kemudian Reka menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Reka, Nina, tumben pulang bareng?"
Nina hanya mencium punggung tangan Bundanya tanpa menjawab.
"Habis jenguk Raffa, Bun." jawab Reka sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Nina tak berkata apa-apa lagi. Dia kini berjalan masuk menuju kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya, dia menghempaskan dirinya di atas ranjang.
Dia merenungi apa yang telah dia lakukan bersama Raffa. Semua itu salah. Memang salah.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...