
Pagi hari itu, Raffa masih saja bersin beberapa kali, bahkan hidungnya juga masih pilek. Meski demamnya sudah turun, tapi rasa pegal di sekujur tubuhnya masih terasa.
"Kak Raffa kalau masih sakit libur aja." kata Nina. Meski dia tahu Raffa sangat keras kepala.
Raffa menggelengkan kepalanya. "Sekarang hari Sabtu. Banyak makanan yang harus diantar dan kafe lagi ramai-ramainya biar nanti dapat bonus." kata Raffa setelah selesai mandi pagi hari itu. Dia kini minum teh hangat dan sarapan yang ditemani Nina.
"Kak Raffa sebenarnya ngumpulin uang buat apa? Biaya lahiran ke Bidan kan udah terkumpul. Kerja juga harus ingat waktu, jangan terlalu diforsir."
Raffa menatap Nina lalu mengusap lembut pipi Nina. "Iya, aku cari uang buat jaga-jaga aja. Maaf, aku belum bisa dapat penghasilan yang lebih dari sekarang."
"Ini sudah lebih dari cukup. Kak Raffa, juga harus jaga kesehatan."
"Aku cuma flu biasa. Nanti minum obat lagi pasti sembuh." setelah menyudahi sarapannya, Raffa berdiri lalu memakai jaketnya. "Aku berangkat dulu ya." Raffa mencium kening Nina singkat. Tak berlama-lama seperti biasanya karena takut Nina tertular.
"Iya Kak, hati-hati." Nina mencium punggung tangan Raffa lalu mengantarnya sampai depan rumah.
Setelah Raffa menjauh, Nina kembali masuk ke dalam rumah. Dia membereskan dapur terlebih dahulu, lalu kamar dan ruang tamu. Setelah itu dia membasuh dirinya lalu berganti pakaian yang lebih rapi.
Dia minum terlebih dahulu lalu makan cemilannya sambil menunggu jam buka tempat laundry.
Setelah jam 8 pagi, Nina berjalan menuju tempat laundry yang ada di depan gang. Dia akan bertanya perihal lowongan pekerjaan itu.
Bagian setrika, sepertinya dia mampu untuk mengerjakannya. Nina bisa mulai bekerja besok hari dan jam kerjanya hanya dari jam 8 pagi sampai 3 sore. Itu artinya Raffa tidak akan tahu dia bekerja.
Nina sangat senang, akhirnya dia bisa membantu Raffa bekerja. Meskipun penghasilan tak seberapa tapi cukuplah untuk tambahan uang belanja harian.
...***...
"Raf, kalau sakit jangan dipaksa bekerja, kamu istirahat dulu." kata salah satu teman kafe Raffa.
Raffa menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Ini sudah enakan. Sudah gak pilek juga."
Hari sudah malam, pengunjung kafe juga kian ramai.
"Ya sudah kamu antar pesanan ini ke meja nomor 11 ya."
Mama. Papa.
Dia sebenarnya malu jika harus bertemu dengan keadaan seperti ini. Tapi dia tidak bisa mundur ataupun bersembunyi. Dia harus menghadapi kenyataan ini.
Raffa menghela napas panjang lalu dia kembali melangkahkan kakinya lagi.
"Permisi." Raffa menurunkan hidangannya di atas meja.
Mendengar suara itu seketika Alea dan Kevin menatapnya. Kevin hanya melihatnya sedangkan Alea kini menatap nanar putranya itu.
Raffa bersikap biasa seperti seorang waitress pada pelanggan. Setelah semua terhidang, Raffa tersenyum. "Selamat menikmati." dia segera membalikkan badannya tanpa berkata lagi.
"Raf, Mama mau bicara."
Panggilan Mamanya sudah tidak Raffa gubris. Dia kembali masuk ke dalam dapur.
"Lea, udah biarin," cegah Kevin saat Alea akan menyusul Raffa.
"Mas, tapi aku kangen sama Raffa. Mas Kevin selalu larang aku ketemu Raffa. Udah 5 bulan aku gak ketemu sama Raffa." setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Mas lihat sendiri, Raffa terlihat makin kurus. Kasihan Mas."
"Itu karena kesalahannya sendiri. Biarkan dia bertanggung jawab dengan hidupnya. Nanti kalau dia benar-benar sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri dan menjadi seorang suami yang baik, baru aku akan mengajaknya pulang."
"Mas tega ya. Pokoknya aku akan ketemu Raffa sekarang." kerinduan Alea pada putranya sudah tidak terbendung apalagi melihat tubuh Raffa yang semakin kurus jelas sebagai seorang Mama dia merasa tidak sampai hati.
Alea kembali menangis menatap Raffa yang sedang membereskan piring dan gelas-gelas kotor. Sebenarnya Raffa adalah anak yang baik dan penurut, tapi karena satu kesalahan itu, Kevin tega menghukum Raffa seperti ini, bahkan seolah tak menganggap Raffa anaknya. Sampai 5 bulan berlalu Kevin masih belum mau memaafkan Raffa.
"Raf," Alea berjalan mendekati Raffa. "Mama mau bicara."
Raffa hanya sedikit menoleh Mamanya. "Maaf Ma, aku masih bekerja."
"Tolong, sebentar aja. Mama kangen sama kamu..."