Love You, Brother

Love You, Brother
Ajakan Orang Tua Nina



Setelah satu bulan bekerja, Nina sangat senang sekali menerima gaji pertamanya. Akhirnya dia bisa membantu kebutuhan sehari-hari meskipun tak seberapa.


Di usia kandungannya yang hampir 7 bulan itu, dia semakin giat bekerja. Tapi hari itu, pekerjaannya sangat menumpuk di tempat laundry hingga membuatnya kelelahan.


"Tumben kepala aku pusing gini, kayaknya aku kurang minum air putih seharian ini, gara-gara kerjaan banyak banget." Nina memijat pelipisnya sendiri sambil berjalan di pinggir jalan menuju rumah kontrakannya.


Tapi badannya semakin terasa lemas. Kemudian dia duduk di pinggir jalan agar tenaganya pulih lalu mengambil air mineral yang ada di tasnya dan meneguknya sampai habis.


"Nina..."


Ada sebuah mobil yang berhenti lalu terlihat Luna keluar dari mobil dan berjalan mendekati Nina. "Nina kamu ngapain di sini?"


Nina mendongak menatap bundanya. "Cuma pusing aja, Bun. Ini mau pulang." kata Nina.


Luna ikut duduk di sebelah Nina. "Barusan Bunda cari ke rumah, kata tetangga kamu, kamu kerja. Iya?"


Belum juga menjawab, Ayahnya keluar dari mobil. Nina takut jika kedua orang tuanya tahu dirinya bekerja pasti Raffa yang akan kena marah lagi. Dia saja masih menyembunyikan hal ini dari Raffa.


"Ng-nggak bun." jawab Nina tapi memang pada dasarnya Nina tidak pandai berbohong, Luna jelas tahu gelagat putrinya ketika berbohong.


"Kamu bohong ya sama Bunda."


"Nina, kamu pucat sekali. Ayo, Ayah antar kamu periksa. Sekalian kita mau mengobrol sama kamu." kata Niko yang kini berdiri di dekat putrinya.


Nina menggelengkan kepalanya, "Nina baru periksa di bidan kemarin."


"Nina, Bunda ingin lihat hail USG calon cucu Bunda secara langsung. Ayo." bujuk Luna daripada Niko semakin marah.


Nina akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Ayahnya dan beberapa saat kemudian mobil mereka segera melaju menuju rumah sakit ibu dan anak.


"Nin, kenapa kamu sampai kerja? Kamu butuh uang? Atau lagi butuh sesuatu?" tanya Luna lagi pada putrinya.


"Gak papa, Bun. Nina bosan di rumah terus." jawab Nina. Sebenarnya dia ingin bertanya tentang Ayahnya yang menginginkan dirinya melahirkan di rumah sakit. Tapi sepertinya waktu belum tepat.


"Kalau bosan kan bisa ke rumah Bunda." kata Luna lagi.


Niko menghela napas berulang kali. "Ayah gak mau kamu bekerja lagi. Kalau butuh apa-apa bilang sama Ayah."


"Iya, Ayah." hanya itu yang bisa Nina katakan. Dia tidak mau emosi Ayahnya semakin tersulut. Dia tahu, Ayahnya masih belum bisa sepenuhnya percaya pada Raffa.


Nina tersenyum saat melihat hasil USG 4D itu. Sangat terlihat wajah yang begitu mirip dengan Raffa. Hidung mancungnya, bibirnya juga.


Begitu juga dengan Luna. "Akhirnya Bunda bisa lihat calon cucu Bunda." mereka menatap dengan berbinar sambil mendengarkan penjelasan dokter. Kondisi janin sangat sehat dan tumbuh kembngnya sempurna.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, mereka pulang menuju rumah kontrakan Nina. Tapi sebelumnya mereka mampir dulu di sebuah rumah makan. Nina sebenarnya mulai gelisah. Bagaimana jika Raffa pulang lebih dulu darinya, karena hari itu bukan akhir pekan biasanya Raffa pulang lebih awal.


Apalagi Ayah dan Bundanya makan sambil mengobrol. Nina tidak begitu konsentrasi dengan obrolan orang tuanya. Dia sekarang justru memikirkan Raffa jika nanti bertemu dengan orang tuanya.


...***...


Malam itu tepat jam 8 malam, Raffa sampai di rumahnya. Dia melihat lampu rumahnya belum menyala sama sekali.


"Nina kemana? Lampunya belum nyala."


Saat Raffa akan membuka pintu, mobil orang tua Nina berhenti. Seketika Raffa berhenti dan menoleh kedatangan mobil itu.


Nina dan kedua orang tuanya kini turun dari mobil dan berjalan menghampiri Raffa.


"Maaf Kak, tadi diajak Ayah sama Bunda."


"Oo, Iya. Kirain kemana." jawab Raffa lalu dia masuk dan menyalakan lampu dalam rumah.


"Maaf ya Raf, tadi Bunda ajak Nina USG 4D di rumah sakit soalnya Bunda ingin tahu banget wajah calon cucu Bunda."


Raffa tak menimpali perkataan itu. Meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Raf, kenapa kamu biarkan Nina bekerja?"


Pertanyan Niko jelas membuat Raffa tekejut. Selama ini dia tidak tahu kalau Nina bekerja. "Bekerja?"


💞💞💞


.


Maaf ya. Slow up banget.. Lagi ngejar daily novel yg satunya. Mampir juga yuk..