
"Ayah," Nayra kecil yang sekarang sudah berusia 18 bulan menahan langkah kaki Raffa saat Raffa akan berangkat ke kantor. Sejak lulus kuliah 6 bulan yang lalu, Raffa memang sudah memegang salah satu cabang dari perusahaan Papanya.
Raffa meraih tubuh kecil Nayra lalu memangkunya. "Nayra sayang, Ayah mau kerja dulu. Nanti pulang kerja, main lagi sama Ayah."
Nina yang sudah selesai menyiapkan bekal untuk Raffa, kini memasukkan bekal itu ke dalam tas Raffa.
"Rara, main sama Mama yuk."
Nayra masih menggelengkan kepalanya sambil memeluk tubuh Raffa. "Mau ama Ayah."
Nina hanya tersenyum. Begitulah drama antara Ayah dan anak di setiap harinya.
Raffa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8.
"Kalau Kak Raffa buru-buru, gak papa ditinggal saja. Pasti nangis juga cuma bentar." kata Nina.
"Sebenarnya hari ini juga gak ada jadwal penting. Buat hari ini biar Nayra tidur dulu. Dia juga dari subuh udah bangun, pasti bentar lagi ngantuk. Udah sarapan juga." Raffa berdiri dan menggendong Nayra.
"Nayra nanti pas ayah libur, ayah ajak ke playground ya. Mau main pasir atau mandi bola kan."
"Iya Ayah." Raffa dan putrinya sekarang sedang asyik bercanda sedangkan Nina melanjutkan pekerjaannya untuk membereskan rumahnya.
Beberapa saat kemudian sudah tidak terdengar tawa renyah mereka. Jelas saja Nayra sudah tertidur di gendongan Raffa.
"Udah tidur?" tanya Nina pelan.
"Iya," Perlahan Raffa menurunkan Nayra di atas ranjang. Kemudian dia menghampiri Nina yang sedang membereskan mainan Nayra di ruang tamu.
"Ya udah, Kak Raffa berangkat saja mumpung Nayra tidur." kata Nina.
Raffa justru tersenyum penuh arti. Dia menutup pintu dan menguncinya lalu menutup tirai jendela.
"Kak Raffa mau ngapain?" tanya Nina. Meski sebenarnya dia sudah mengerti kemauan Raffa.
"Tapi..." rasanya Nina masih belum tega meninggalkan Nayra. Akibat terlalu lama berhenti kuliah, rasanya dia juga enggan untuk melanjutkan kuliahnya.
"Udah jangan mikir-mikir lagi. Biar title kita sama. Aku udah berhasil lulus S1 dan kamu juga harus berhasil lulus S1 juga."
Nina akhirnya menganggukkan kepalanya. Mereka saling bertatapan lalu berciuman dengan penuh cinta.
Beberapa saat kemudian ponsel Raffa berbunyi. Dia segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk dari Papanya.
"Iya, hallo Pa... Sekarang? Bukannya nanti siang.... Dimajukan, ya sudah aku ke kantor sekarang."
Raffa menurunkan Nina dari pangkuannya. "Aku ke kantor sekarang." katanya sambil merapikan pakaiannya.
Nina juga memakai pakaiannya. Setelah rapi, Nina berdiri dan membuka kembali tirai ruang tamu. "Hati-hati ya. Nanti kalau ada waktu luang video call Nayra ya, biar dia senang."
"Iya," Raffa mencium kedua pipi Nina lalu keningnya. "Aku berangkat dulu ya."
"Iya, hati-hati."
Raffa membawa tasnya lalu membuka pintu dan segera menaiki motornya. Motor Raffa melaju seiring lambaian tangan Nina.
Kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya meski masih tetap tinggal di rumah kontrakan lama karena mereka masih mengumpulkan uang untuk membeli rumah sendiri. Raffa juga sudah mulai memegang cabang dari perusahaan Papanya. Sudah tidak perlu lagi bekerja di kafe siang dan malam.
Semoga keluarga kecil kita selalu diberi kebahagiaan...
..._SELESAI_...
Jangan lupa tetap ikuti karya aku yg lainnya ya...
💋💋💋