Love You, Brother

Love You, Brother
Tenang Dulu



Hari demi hari begitu cepat berlalu. Tak terasa usia kandungan Nina sudah 9 bulan. Sejak kejadian beberapa bulan lalu dia sudah tidak bekerja dan menyibukkan dirinya dengan menyulam di rumah. Terkadang dia menyulam bersama tetangga sebelah rumahnya yang sama-sama pengangguran.


"Kak Raffa jadi ikut acara di gedung resepsi?" tanya Nina sambil menyiapkan sarapan pagi hari itu.


"Iya, jadi. Lumayan kalau jadi waitress di resepsi, cuma 3 jam udah dapat 200rb." Raffa kini duduk lalu meminum teh hangatnya. "Sayang, sini duduk dulu. Kamu jangan terlalu kecapekan."


"Iya, ini mau duduk." Nina meletakkan lauk yang baru selesai dia goreng di atas meja lalu duduk di samping Raffa. "Pinggang aku rasanya pegal banget."


"Sabar ya, sebentar lagi udah launching nih." Raffa mengusap perut Nina yang sudah sangat besar itu. Gerakannya semakin aktif bahkan sudah membuat bentuk perut Nina tak beraturan. "Heboh banget di dalam. Nanti main sama Ayah kalau udah keluar ya." Raffa membungkukkan dirinya lalu menciumi perut buncit yang sedang bergerak-gerak itu.


"Kak Raffa, ini udah siang. Ayo sarapan dulu."


"Iya." Raffa menegakkan dirinya lagi lalu mendekatkan piring yang sudah berisi nasi dan lengkap dengan lauknya itu. "Kamu makan yang banyak."


"Ini udah banyak makannya. Lihat nih, badan aku gemuk gini."


Raffa justru tertawa. "Gak papa. Biar kelihatan kalau kamu bahagia sama aku."


"Ih." Nina mencubit perut Raffa. "Tapi kalau terlalu gemuk aku juga gak mau. Moga aja setelah melahirkan berat badan aku kembali normal lagi."


"Iya, lagian setelah ini kamu me nyu sui pasti berat badannya normal lagi."


Mereka kini mulai menyantap sarapannya. Tak ada lagi obrolan yang berlangsung sampai makanan telah habis.


"Nanti kalau ada apa-apa telepon aku ya." kata Raffa setelah menghabiskan sarapannya. Dia beralih duduk di ruang tamu dan memakai sepatunya.


"Iya, Kak. Nanti setelah acara selesai langsung pulang kan?"


"Iya. Sore hari pasti sudah selesai."


Nina mencium punggung tangan Raffa saat Raffa akan berangkat lalu dia mengantarnya sampai depan pintu. Saat Nina akan masuk ke dalam rumah dia dipanggil oleh tetangganya hingga membuatnya urung melangkah.


"Nin, udah jadi topinya kemarin?" tanya Mbak Rita yang setiap harinya mengajari Nina merajut.


"Tinggal dikit lagi udah jadi. Sebentar aku ambil." Nina mengambil peralatan merajut yang ada di dalam. Hanya sesaat lalu mereka berdua duduk di teras kontrakan.


Mbak Rita kini mengajari cara merajut topi sambil sesekali bercanda.


Akhirnya Nina bisa menyelesaikan topi itu. "Yee, jadi. Lucunya." dia menatap topi kecil yang lucu itu. Rasanya sudah tidak sabar ingin memakaikannya secara langsung.


"Hpl tanggal berapa Nin? Perutnya kayak udah turun."


"Lima hari lagi. Kata Bu bidan bayinya memang sudah masuk pinggul." kata Nina sambil meletakkan peralatan menyulamnya di atas meja karena tiba-tiba perutnya terasa kencang.


"Barang yang mau dibawa untuk persalinan sudah disiapkan?"


Nina menganggukkan kepalanya. "Sudah." Kini perutnya semakin terasa tidak nyaman. Dia berdiri sambil memegangi pinggangnya yang semakin terasa pegal.


"Kenapa?" tanya Mbak Rita sambil mengikuti Nina ke dalam rumah.


"Mau ke kamar mandi." jawab Nina sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Mbak Rita yang sudah pernah melahirkan sebanyak dua kali jelas mengerti tanda-tanda yang dialami Nina.


Beberapa saat kemudian Nina keluar. Dia meringis kesakitan sambil mengusap perutnya.


"Iya, tapi barusan ke kamar mandi gak bisa."


"Udah berapa lama?" tanya Mbak Rita lagi.


"Barusan ini."


"Kalau rasa mulasnya berulang itu tandanya mau melahirkan. Raffa pulang jam berapa?"


Nina menggelengkan kepalanya. "Katanya agak sore."


"Ya sudah kamu tenang dulu. Biasanya prosesnya masih lama. Aku bantu siapin barang yang mau dibawa saja ya."


Nina menganggukkan kepalanya. Mbak Rita memang sudah seperti kakak bagi Nina. Selama di kontrakkan jika Nina perlu apa-apa selalu bilang pada dia.


Rasa mulas itu berangsur hilang tapi sekitar 15 menit berulang lagi. Perutnya terasa semakin kencang. Dia kini mengambil ponselnya dan menghubungi Raffa tapi Raffa tak juga mengangkat panggilannya.


Hingga satu jam berlalu Raffa tak juga mengangkat panggilannya.


"Belum diangkat juga?" tanya Mbak Rita.


Nina menggelengkan kepalanya sambil menahan rasa sakit yang semakin mendera.


"Tinggalkan pesan saja, biar dibaca Raffa. Lebih baik kita ke bidan sekarang. Jalan masih kuat kan?"


Nina menganggukkan kepalanya sambil mengirim pesan pada Raffa. Setelah itu dia berdiri dan berjalan pelan keluar dari rumah dengan bantuan Mbak Rita.


...***...


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, kini Raffa mengambil ponselnya karena sedari tadi dia tidak sempat memegang ponselnya. Melihat banyaknya panggilan dari Nina membuat perasaannya menjadi tidak tenang, ditambah membaca pesan singkat dari Nina, dadanya semakin berdetak tak karuan.


"Nina mau melahirkan!" buru-buru dia mengganti pakaiannya lalu dia segera pergi dari gedung itu setelah berpamitan pulang lebih awal pada bosnya.


Raffa segera menaiki motornya dan beberapa saat kemudian motor Raffa segera melaju dengan kencang. Raffa semakin menambah kecepatan laju motornya. Karena sangat terburu, dia tidak mengurangi kecepatannya saat berada di pertigaan.


Ada sebuah mobil yang tiba-tiba berbelok ke arahnya yang membuat Raffa terkejut dan banting stir ke sebelah kiri hingga membuatnya terjatuh dengan motor yang menindih sebelah kakinya.


"Sial!" Raffa mengumpat kasar saat mobil yang hampir menabraknya tak berhenti untuk menolongnya.


Raffa berusaha menarik kakinya sendiri tapi rasanya sangat sakit.


Kini ada sepasang tangan yang menarik motor Raffa dan menepikannya.


Raffa berusaha untuk berdiri meski pergelangan kakinya terasa sakit. "Terima kasih." ucap Raffa tanpa melihat seseorang yang menolongnya itu.


Tapi kini Raffa melihat seseorang yang menolongnya itu. Satu kebetulan yang sangat tidak terduga dan tidak ingin dia harapkan.


Raffa tak berkata apa-apa lagi lalu dia berjalan terpincang menuju motornya.


"Mau kemana? Papa antar berobat dulu." kata Kevin.


Raffa menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Terima kasih."