Love You, Brother

Love You, Brother
Hai, Nayra



"Bagus, sudah pembukaan 7. Tinggal sedikit lagi." kata Bidan Wati setelah mengecek pembukaan Nina.


Nina berulang kali menarik napas panjang saat gelombang cinta itu datang lagi.


"Suaminya kemana? Masih kerja?"


"Iya, sepertinya masih di jalan." jawan Nina.


"Pintar sekali. Mandiri, tidak nunggu suami pulang. Pasti lahirnya lancar. Tinggal sedikit lagi. Kalau masih kuat, dibuat jalan-jalan kecil gak papa."


Mbak Rita masih setia menemani Nina. Dia kini membantu Nina duduk dan menuntunnya untuk berjalan kecil.


"Aduh, sakit lagi." Nina kembali duduk. Keringat sudah membanjiri pelipis dan juga tubuhnya.


"Raffa kok belum datang ya. Mbak telepon lagi ya." kata Mbak Rita karena Raffa belum juga datang padahal sudah lama sejak Nina mengirim pesan untuk Raffa.


"Jangan Mbak. Nanti Kak Raffa semakin panik di jalan. Sebentar lagi pasti sampai." Nina menghela napas lagi. Dia usap perutnya yang semakin terasa kencang.


"Nina."


Mendengar suara panggilan itu, seketika Nina menoleh. Dia melihat Raffa yang berjalan terpincang ke arahnya.


"Kak Raffa kenapa?" tanya Nina.


Raffa menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Tadi jatuh, cuma luka kecil." Dia kini duduk di samping Nina dan memeluknya. "Maaf ya, aku baru datang."


"Gak papa Kak. Ada Mbak Rita yang menemani."


"Makasih ya Mbak." kaya Raffa.


"Iya, sama-sama. Saya tunggu diluar ya." kemudian Mbak Rita keluar dari ruang observasi.


Rasa mulas itu kembali melanda dan semakin terasa. Nina sampai berdesis menahan rasa sakit itu.


Raffa kini terus mengusap perut Nina. "Kamu pasti bisa. Tinggal sedikit lagi kita akan bertemu buah hati kita."


Nina hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah kasih kabar Bunda?" tanya Raffa.


Nina menggelengkan kepalanya. "Nanti saja kalau sudah lahir."


Beberapa saat kemudian bidan Wati masuk. "Wah, calon Ayah sudah datang. Apa rasa mulasnya sudah semakin sering?"


Nina menganggukkan kepalanya.


"Saya cek dulu. Mungkin pembukaannya sudah lengkap."


Raffa terus menggenggam tangan Nina berusaha memberinya kekuatan.


Rasa mulas itu semakin mendera dan kini ditambah dengan rasa ingin mengejan yang tak bisa tertahankan.


"Pembukaannya sudah lengkap. Sudah ada dorongan dari dalam Bunda?"


Nina menganggukkan kepalanya.


Nina sudah tak mendengar panduan itu. Rasa sakit itu sudah tidak tertahankan lagi. Bahkan Nina terus mencengkeram tangan Raffa.


"Bunda kalau belum ada dorongan disimpan dulu tenaganya." Bidan Wati mendekat lalu menahan tubuh Nina agar setengah duduk. "Ayah, duduk di belakang Bunda saja. Tahan tubuh dan kakinya sambil dipeluk."


Raffa mengikuti instruksi dari Bidan Wati. Dia kini duduk di belakang Nina dan memeluknya dari belakang dengan kedua tangan yang ikut menahan paha Nina.


"Sayang, aku yakin kamu bisa." Raffa terus memberi motivasi pada Nina di dekat telinganya.


Nina mengikuti aba-aba dari Bidan Wati. Dia mengerahkan seluruh tenaganya demi kelahiran buah hatinya. Dengan posisi itu Nina dan Raffa bisa melihat bagaimana buah hatinya keluar dari kepala secara perlahan lalu seluruh tubuhnya. Beberapa detik kemudian, bayi itu menangis dengan kencang.


Tak terasa air mata itu membasahi pipi Raffa. Dia melihat sendiri bagaimana Nina bertaruh nyawa demi buah hatinya. Dia berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi Nina seumur hidupnya.


Raffa kini turun lalu membantu Nina merebahkan dirinya.


"Selamat ya. Dedeknya cantik sekali." Bidan Wati mengelap tubuh bayi yang masih merah itu lalu dia turunkan di dada Nina.


Nina tersenyum dalam tangisnya memandangi tubuh bayi yang masih merah itu yang telah berhenti menangis dan kini sedang mencari sumber kehidupannya.


Raffa mendekatkan dirinya dan mencium kecil pipi merah itu. Air mata haru masih saja menetes di pipi Raffa. Dia sekarang sudah benar-benar menjadi seorang Ayah.


"Hai, Nayra." Begitu banyak kata yang ingin dia ucapkan tapi tertahan di bibirnya. Dia tersenyum kecil saat melihat bayi mungilnya berhasil menemukan sumber kehidupannya dan mulai belajar menghisapnya.


"Pintar ya sayang." Nina mengusap lembut punggung putrinya.


Raffa kini beralih menciumi pipi Nina. "Makasih. Kamu sudah berjuang sekuat tenaga untuk kelahiran anak kita."


"Sama-sama. Ini juga berkat dukungan dan do'a dari Kak Raffa."


"Ayah dedek keluar sebentar ya. Kita akan melakukan perawatan untuk bunda dan dedek biar sama-sama cantik." suruh Bidan Wati.


Raffa hanya mengangguk pelan lalu keluar dari ruang bersalin. Dia masih berjalan terpincang lalu duduk di kursi tunggu dan melihat kakinya yang terlihat memar membiru.


"Selamat ya Pak Kevin atas kelahiran cucunya kalau begitu saya pulang dulu."


Raffa mendengar suara Mbak Rita yang berada di depan klinik. Dia berdiri dan berjalan keluar. Ternyata ada Papanya yang sedang berdiri di luar.


Raffa menautkan alisnya, apa Papanya sedari tadi mengikutinya? Bagaimana Papanya bisa mengenal Mbak Rita?


.


💞💞💞


.


Hai, bentar lagi sepertinya udah tamat.. Singkat banget ya... 😂


soalnya author lagi jatuh cinta sama Aslan.. 🤗