Love You, Brother

Love You, Brother
Terlalu Giat Bekerja



Sejak hari itu, Raffa harus bangun lebih pagi. Dia biarkan Nina masih tidur. Setelah mandi, dia buat minumannya sendiri dan sarapan seadanya. Setelah itu dia segera berangkat sebelum pukul 5 pagi.


Dia cium kening Nina yang membuat Nina membuka matanya. "Sayang, aku berangkat dulu ya."


"Kak Raffa udah sarapan?" tanya Nina yang melihat Raffa sudah memakai jaket dan bersiap untuk berangkat.


Raffa menganggukkan kepalanya. "Tadi aku juga sudah masak nasi. Kamu tidur lagi gak papa." Raffa kembali mencium kedua pipi Nina.


"Kak Raffa hati-hati ya."


"Iya."


Setelah itu dia keluar dari kamar dan mengeluarkan motornya. Dia tatap langit yang masih gelap itu.


Aku harus semangat, demi Nina.


Dia memakai helmnya lalu mulai melajukan motornya.


Begitulah hari yang dilalui Raffa sejak saat itu. Pagi hari dia mengantar makanan hingga jam 8 setelah itu dia langsung menuju kampus dan kuliah sampai siang. Dari kampus dia langsung menuju kafe hingga malam hari. Biasanya dia sampai rumah sekitar jam 9-10 malam.


Terkadang ketika Raffa sampai di rumah, Nina sudah tertidur hingga membuat waktu mereka bersama berkurang. Berangkat pagi pun terkadang Nina masih tidur, tapi saat sedang rajin, Nina sudah bangun dan membuatkan minuman untuk Raffa dan sarapan seadanya.


"Kak Raffa kalau capek libur dulu." kata Nina.


Raffa beberapa kali menguap panjang. "Iya, nanti aja setelah gajian."


"Kak Raffa, gajian baru seminggu yang lalu." Nina kini duduk di dekat Raffa. Sudah sebulan lebih Raffa tidak pernah libur bekerja. Dia selalu ambil lembur di jatah liburnya.


"Iya, nanti ya." Raffa segera menyelesaikan sarapannya karena detik jam begitu cepat berlalu.


"Sayang, berangkat dulu ya..." Raffa mencium kening lalu kedua pipi Nina. Dia kini berlutut di perut Nina yang kian membesar. "Hai, lama ya gak main sama Ayah. Nanti malam ya kalau Ayah pulang cepat kita main." Raffa menciumi perut buncit Nina. Gerakan dari dalam perut sudah semakin terasa yang membuat Raffa semakin gemas. "Ih, gemes."


Kemudian Raffa berdiri. Setelah Nina mencium punggung tangan Raffa, Raffa segera menaiki motornya dan berangkat ke kafe.


Nina menatap kepergian Raffa yang kian menjauh. Sebenarnya dia penasaran, mengapa Raffa begitu giat bekerja. Sedangkan untuk biaya persalinan saja murah jika di bidan. Dia juga sudah bertanya biaya pada bidan yang menanganinya dan sepertinya uang itu sudah terkumpul. Tinggal beli perlengkapan bayi sedikit-sedikit saja.


Nina menghela napas panjang. Biar nanti dia bicara dengan Raffa. Lama-lama dia merasa kasihan juga jika harus melihat Raffa bekerja dari pagi sampai malam.


Hari itu Raffa beberapa kali hampir tertidur di kelas. Sebenarnya badannya memang sudah terasa sangat lelah dan butuh istirahat tapi dia paksa untuk terus bekerja.


"Raf, kalau capek istirahat dulu. Jangan dipaksa buat kerja tiap hari. Sini kita ngobrol-ngobrol dulu sambil makan bakso," ajak Feri sambil merangkul bahu Raffa menuju kantin.


Kehidupan Raffa memang sudah berbanding terbalik dengan dulu. Dulu dia sangat keren, dan suka mentraktir teman-temannya. Tapi sekarang, penampilannya apa adanya, wajah yang kusut dengan mata panda sangat terlihat jika Raffa sedang kelelahan.


Mereka duduk di kantin kampus sambil memesan bakso. Feri dan Jeffri merasa prihatin melihat kondisi Raffa saat ini.


"Raf, kalau lo butuh uang, lo bilang sama kita. Kita pasti akan bantu sebisa kita. Lo gak harus kerja dari pagi buta sampai malam hari. Kapan lo istirahatnya." kata Feri sambil menepuk bahu Raffa.


Raffa memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Gue butuh uang banyak buat biaya persalinan Nina."


"Urus asuransi aja."


Raffa menggelengkan kepalanya. "Masalahnya Ayah Niko mau Nina melahirkan di rumah sakit dan kalau bisa operasi secar dengan metode eracs jadi rasa sakitnya relatif kecil dan biaya mencapai 30 juta gak bisa dicover asuransi selama keadaan tidak darurat."


"Raf, kan yang melahirkan Nina. Lo tanya Nina mau melahirkan dimana." kata Jeffry. "Kondisi Nina kan sehat daripada lo buang duit 30 juta lebih baik cari opsi lain."


"Nah, bener tuh."


Raffa menghela napas panjang. "Masalahnya ini pesan Ayah Niko. Dia gak mau Nina kenapa-napa dan gue juga gak mau terima uang dari Ayah Niko jadi sebisa mungkin gue harus berjuang sendiri. Nanti dikira gue gak bisa tanggung jawab sebagai suami."


"Nina tahu soal ini?" tanya Feri.


Raffa hanya menggelengkan kepalanya.


"Lo harus ngomong soal ini juga sama Nina. Inti dalam sebuah hubungan itu harus saling jujur ketika ada masalah."


Raffa hanya terdiam. Dia tidak mau Nina ikut memikirkan masalah ini.


"Ya sudahlah lo makan dulu." kata Jefri setelah bakso mereka sudah siap.


Kepala Raffa semakin terasa pusing. Tenggorokannya juga sakit. Sepertinya flu akan menyerangnya.


Aku gak boleh tumbang dulu. Harus kuat demi Nina.