
Beberapa saat kemudian Bayu membuka pintu itu. Matanya membulat melihat empat sekawan itu kini berada di depan kamarnya. Buru-buru Bayu akan menutup pintu tapi ditahan oleh mereka.
"Ngapain kalian ke sini!" tenaga Bayu jelas kalah dengan empat orang itu. Dia memundurkan langkahnya lalu segera mengambil dompet dan kunci mobilnya. Sialnya mengapa dia tidak menyuruh temannya berjaga di depan. Dia tidak mungkin melawan mereka seorang diri.
"Lo mau apain Nina!" Mata Raffa membulat melihat Nina yang ada di atas ranjang dengan kondisi yang nyaris acak-acakan. Dia segera meraih tubuh Nina, "Nin!"
"Kak Raffa." Nina menatap Raffa dengan mata sayunya.
"Woy, kurang ajar lo!" Jefry menahan langkah Bayu yang akan kabur.
Bayu menendang dengan keras kaki Jefry hingga dia terlepas. Dia juga gagal ditahan oleh Bima.
"Jangan kabur lo!" Jefry langsung mengejar Bayu dengan Bima meski Bima jelas jauh tertinggal di belakang.
"Nin," Raffa mengusap pelipis Nina yang berkeringat.
"Gawat, gawat Raf. Kayaknya Nina dikasih obat sama Bayu." Fery yang lebih berpengalaman jelas tahu obat apa yang sekarang bereaksi di tubuh Nina.
Raffa meraih tubuh Nina dan menggendongnya. "Kita bawa Nina ke Dokter saja."
"Kak Raffa, aku gak butuh Dokter." kata Nina dengan napasnya yang berat. Wajahnya pun sangat merah.
"Raffa," Fery menahan tubuh Raffa. "Nina butuh lo, bukan butuh yang lain."
Raffa menggelengkan kepalanya. "Gue gak mungkin lakuin itu!"
Ferry menepuk bahu Raffa. "Ya udah terserah lo, gue akan cari mobil."
Tiba-tiba saja Nina memberontak hingga membuatnya terjatuh dari gendongan Raffa. "Aku gak mau ke Dokter nanti Bunda sama Ayah tahu. Aku mau tenangin diri saja di sini." Dia duduk di lantai sambil mendekap kedua lututnya.
"Nina!" Raffa berjongkok dan memeluk tubuh Nina.
"Ya udah, terserah mau kalian kayak gimana. Gue mau bantu mereka tangkap Bayu dulu. Udah dipastikan geng kita bakal bentrok sama geng Bayu." Fery keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar itu lagi.
Bukannya mereda, tapi efek obat itu semakin menjadi. Tubuh Nina semakin terasa panas terbakar gairah. Bahkan Nina sekarang mulai me ra ba titik sensitifnya sendiri.
Raffa mengacak rambutnya sendiri karena frustasi. Apa yang harus dia lakukan? Membiarkan Nina atau membantunya? Dia kini mengunci pintu kamar itu. Meraih tubuh Nina dan merebahkannya di atas ranjang tapi saat Raffa akan pergi, Nina justru menahan tangannya dan menariknya hingga mendekat.
Seperti sudah tidak ada rasa malu, Nina menarik tangan Raffa untuk menyentuh buah sintal yang sudah tidak tertutup dengan sempurna itu.
"Nin..." awalnya Raffa ragu. Dia menatap wajah Nina yang seolah begitu memohon untuk disentuh.
Jiwa lelakinya benar-benar tertantang. Sedetik kemudian, dia membuka t-shirt Nina, lalu membuka penutup kedua buah sintal itu yang sudah tidak pada tempatnya. Dia usap, lalu dia re mas, dan bibirnya kini singgah di bibir Nina.
Ciuman itu semakin panas karena Nina membalas ciuman itu tak kalah ganasnya. Bahkan suara decapan dan deru napas mereka sudah memenuhi ruangan itu.
Raffa melepas pagutannya, bibirnya semakin ke bawah dan menyusiri leher putih Nina. Kedua jemarinya kini memilin pu ting yang semakin mengeras itu.
Nina sudah men de sah tak karuan. Rasanya dia semakin tidak tahan, dia mainkan sendiri bagian intinya yang sudah sangat basah.
Pandangan Raffa semakin menggelap. Otaknya sudah tak bisa berpikir jernih saat bibir itu menghisap kedua gundukan yang membuat tubuh Nina semakin bergeliat.
Kini napas Raffa semakin berat, apalagi saat Nina sudah melorotkan setengah celananya dan semakin memainkan miliknya sendiri.
Pikiran Raffa benar-benar kacau. Hasrat itu sudah sampai di ubun-ubunnya. Dia menegakkan dirinya dan melepas seluruh celana Nina. Raffa tercekat menikmati pemandangan itu. Selama ini dia sudah menahannya mati-matian, justru dia harus melakukannya dengan kondisi seperti ini.
Dengan cepat Raffa melucuti semua pakaiannya. Kemudian dia posisikan dirinya di atas tubuh Nina.
Nina kembali menarik wajah Raffa dan menciumnya dengan liar. Raffa sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia arahkan miliknya ke inti Nina yang sudah sangat basah hingga membuatnya begitu mudah memasukinya meski sempat merobek sesuatu yang tipis dan membuat Nina memekik.
"Aww, Kak Raffa."
Raffa tak berkata apa-apa lagi, dia menghujani wajah Nina yang memerah itu dengan ciumannya.
"Nin, maafin aku." Raffa mulai menggerakkan dirinya. Dia sudah tidak bisa mengendalikan hawa naf su nya. Keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua seiring bertambahnya tempo gerakan Raffa.
Raffa benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, ini terlalu nikmat, dia tak akan melepasnya sebelum semua tuntas.
Suara Nina yang berada di dalan kungkungan Raffa semakin keras bahkan dia semakin beradu gerak dengan Raffa hingga mencapai pelepasan bersama.
"Ough, Nin.." buru-buru Raffa melepas miliknya tapi terlambat, cairan hangat itu telah terlepas di dalam. Dia kini terpaku menatap Nina yang sedang mengatur napasnya sambil memejamkan mata.
Dia usap rambut Nina yang basah karena keringat. "Kamu tenang aja ya. Aku pasti akan bertanggung jawab." Raffa menghempaskan dirinya di samping Nina yang sudah tertidur. Dia tutupi tubuh polos itu dengan selimut.
Dia tak pernah mengira hubungannya dengan Nina akan sampai di tahap ini. Bagaimana jika keluarganya tahu apa yang telah dia lakukan pada Nina. Dia pasti akan kena marah habis-habisan. Belum lagi jika Reka juga tahu, dia pasti bisa di gantung hidup-hidup karena telah melanggar kepercayaannya.
Tapi rasa yang tercipta barusan, benar-benar sangat memabukkan. Rasanya Raffa ingin melakukannya lagi.
"Astaga, ini salah." Raffa mengusap wajahnya lalu dia menatap Nina yang masih terlelap. "Aku pasti akan bertanggung jawab dengan apa yang udah aku lakukan." Dia usap lembut pipi Nina. "Aku sayang banget sama kamu. Maafkan aku, aku gak bisa jaga kamu."
Dia terus menatap Nina lekat-lekat. Beberapa saat kemudian, dia beranjak dari tempatnya dan memakai seluruh bajunya.
Dia mengambil ponsel Nina yang ada dalam tasnya. Ada beberapa pesan masuk dari Aurel.
Raffa pun menghubungi Aurel. "Rel, Nina sekarang sama aku. Nanti kalau Bundanya Nina hubungi kamu, tolong kamu bilang dia masih sama kamu ya... Oke, trims."
Raffa memasukkan kembali ponsel Nina ke dalam tasnya, kemudian dia ambil baju Nina yang tercecer dan dia rapikan.
Kemudian Raffa duduk di tepi ranjang. Dia menunggu sampai Nina terbangun.
Setelah hampir dua jam, Nina akhirnya terbangun. Perlahan dia mulai membuka matanya.
"Kak Raffa!!"
💞💞💞
.
.
Akhirnya mereka buat proyek juga.. 😒
Like dan komen ya...