
Hari-haripun berlalu begitu cepat. Raffa dan Nina kini telah terbiasa dengan kehidupan berumah tangga mereka. Sejak memasuki trimester kedua, rasa mual Nina berangsur hilang. Dia juga sudah mulai bisa memasak. Setiap hari sudah terbiasa bangun pagi.
"Rajin banget sih." Raffa memeluk Nina dari belakang saat Nina sedang berkutat dengan masakannya. Tak seperti dulu, kini justru Nina yang bangun lebih awal daripada Raffa karena Raffa seringkali pulang larut malam.
"Mumpung rajin." kata Nina sambil tersenyum. Mendapat pelukan dari Raffa membuatnya merasa nyaman dan lupa dengan masakannya. Ditambah uspan tangan Raffa di perutnya yang sudah terlihat itu semakin menambah kenyamanan.
"Udah 4 bulan aja anak Ayah. Udah kelihatan besar." kata Raffa sambil menempelkan dagunya di bahu Nina.
Nina menganggukkan kepalanya sambil mengikuti gerak tangan Raffa. "Kadang udah terasa gerakannya, kayak kedutan gitu."
"Iya?" dengan perlahan Raffa membalik tubuh Nina lalu dia berlutut dan menciumi perut Nina. "Ayah udah gak sabar untuk ketemu. Sehat-sehat ya." tak puas hanya di luar baju, Raffa menyingkap piyama longgar Nina dan menciumnya secara langsung. Dia tersenyum gemas melihat perut Nina yang sudah membulat.
"Kak, geli ih. Tiap hari diciumi terus."
Raffa berdiri, dia kini beralih mencium bibir Nina dengan lembut. Kedua tangannya melingkar di pinggang Nina dan semakin menghapus jarak di antara mereka.
Napas mereka semakin berat, Raffa melepaskan pagutannya dan berbisik di telinga Nina. "Selamat ulang tahun sayang..."
Pipi Nina seketika merona. Ini memang sudah kesekian kalinya dia mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Raffa, tapi posisi dan suasana saat ini sangat mendebarkan hatinya.
"Maaf, aku belum bisa memberi apa-apa buat kamu. Aku juga belum bisa jadi suami yang terbaik buat kamu."
Nina tersenyum sambil menangkup kedua pipi Raffa. "Berapa kali aku bilang, aku sudah bahagia bersama Kak Raffa. Kak Raffa adalah suami terbaik buat aku."
Raffa semakin mengeratkan pelukannya. Mereka kembali mendekatkan wajah mereka dan saling memagut penuh gelora.
"Sayang kita ke kamar yuk." ajak Raffa setelah melepas pagutannya dengan wajah yang telah memerah.
"Tapi aku belum selesai masak."
"Nanti aku bantuin."
Baru juga melewati pintu dapur, ada sebuah ketukan pintu di luar rumah.
"Siapa yang pagi-pagi datang ke rumah?" Raffa berjalan mendekati pintu.
"Jangan-jangan Bunda."
Benar kata Nina, setelah Raffa membuka pintu itu terlihat Ayah Niko dan Bunda Luna yang membawa sebuah kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada Nina.
Seketika mata Nina berkaca-kaca. Ternyata kedua orang tuanya masih perhatian padanya. Nina memejamkan matanya sesaat dan berdo'a kemudian dia meniup lilin itu.
"Selamat ulang tahun ya sayang," Bunda Luna mencium kedua pipi Nina. "Semoga sehat selalu, kandungannya juga sehat dan lancar sampai harinya nanti." Doanya sambil mengusap perut Nina.
"Iya, makasih ya Bunda."
"Udah kelihatan perutnya. Udah gak mual lagi?" tanya Bunda Luna yang dijawab gelengan oleh Nina.
Ayah Niko mendekat dan mencium kedua pipi Nina. "Selamat ulang tahun. Do'a terbaik Ayah buat kamu."
"Makasih Ayah."
Kemudian Bunda Luna meletakkan kue tart nya di atas meja agar Nina bisa memotongnya dengan mudah.
Nina memotong kue itu dan tentu saja potongan yang pertama untuk Raffa. Dia menyuapi Raffa sambil tersenyum. Kemudian Nina memotong kue lagi dan kali ini untuk kedua orang tuanya.
Melihat kebahagiaan Nina membuat Raffa ikut bahagia.
"Kamu udah sarapan?" tanya Bunda Luna.
"Belum Bun, masih mau masak." jawab Nina.
"Wah, sudah bisa masak? Sini Bunda bantuin. Kita masak bareng," ajak Bundanya sambil menggandeng tangan Nina menuju dapur.
Raffa kini duduk berdampingan dengan Ayah Niko saat Nina dan Bundanya berada di dapur.
Raffa menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak, sejak masuk trimester kedua."
"Sudah rutin periksa kandungan setiap bulan?"
Raffa menganggukkan kepalanya.
"Periksa dimana?" tanya Ayah Niko lagi.
"Di bidan dekat sini."
"Ada USG nya juga?"
Raffa terus dijejali dengan pertanyaan. Niko hanya ingin memastikan Nina dan kandungannya sehat-sehat saja.
"Ada. Pertumbuhannya bagus dan sehat. Setiap bulan di USG."
"Sudah ada rencana nanti mau melahirkan dimana?"
Raffa terdiam beberapa saat. Dia belum mempersiapkan biaya untuk melahirkan. Gajinya hanya cukup untuk makan dan kebutuhan lainnya. "Belum. Tapi karena periksanya di bidan mungkin akan melahirkan di sana."
Niko menghela napas panjang. Dia teringat perjungan Luna melahirkan Nina yang sempat mengalami distoksia. Hampir saja dia kehilangan dua orang yang dia sayangi. "Nanti Nina biar melahirkan di rumah sakit saja. Kalau memang Nina takut sakit, kita bisa atur jadwal dengan Dokter untuk operasi secar dengan metode eracs biar lukanya cepat sembuh dan rasa sakitnya juga relatif kecil."
Operasi secar metode eracs? Raffa hanya terdiam, dia justru mengira biaya yang dibutuhkan.
"Kalau kamu gak ada biaya, biar Ayah yang membayarnya, kamu tenang saja. Jangan memikirkan itu. Nina putri aku. Aku gak mungkin membiarkan Nina begitu saja."
Raffa menggelengkan kepalanya. "Maaf Ayah, tapi Nina sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya akan segera menyiapkan biaya untuk persalinan Nina."
"Ya sudah. Mumpung masih kurang 5 bulan lagi."
Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Diam-diam Raffa mengecek biaya operasi sesar dengan metode eracs yang dimaksud Ayahnya Nina di google. Dia sedikit terkejut. 30 juta?
Raffa menelan salivanya sendiri. Dapat darimana uang sebanyak itu. Meskipun mengurus asuransi sekalipun biaya tidak akan ditanggung asuransi jika tidak ada masalah yang serius dalam kehamilan.
Dapat uang darimana sebanyak itu?
Raffa sendiri belum tahu keinginan Nina melahirkan dengan cara apa? Tapi ketika mertuanya itu sudah bilang seperti itu, itu tandanya Niko ingin putrinya melahirkan di rumah sakit dengan aman.
Beberapa saat kemudian Luna dan putrinya sudah selesai memasak. Mereka membawa masakan mereka ke ruang tamu untuk makan bersama karena di rumah kontrakan itu memang tidak ada ruang makan.
"Masakan Nina enak banget." kata Luna memuji putrinya. "Padahal dulu gak pernah bantu Bunda tapi justru udah pintar masak."
"Iya, Nina belajar sama Aurel dan Vina. Daripada setiap hari beli jadi bosan. Kalau masak sendiri bisa ganti-ganti menu. Meskipun cuma sederhana kayak gini."
Bunda Luna masih saja tersenyum menatap putri manjanya yang sekarang jauh lebih dewasa. Keadaanlah yang mendewasakannya.
Mereka lanjut mengobrol sambil makan. Tapi Raffa hanya terdiam. Dia berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
💞💞💞
.
Hai masih ada yang nungguin cerita ini kah? Maaf gak up tiap hari kayak dulu..
Kisahnya masih lumayan panjang ya..
Terus kasih dukungan biar semangat..
Nanti ada give away dikit2 di ujung cerita.
Mampir juga ke cerita aku yang baru ya. Up setiap hari...