
"Sayang, ayo dimakan. Gak enak makanannya?" tanya Raffa saat melihat Nina hanya mengaduk makanannya sedari tadi. Hanya beberapa suap saja yang telah masuk ke dalam mulutnya.
Nina hanya menggeleng pelan, dia berusaha memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Tapi rasa mual itu kembali muncul ketika dia memaksa untuk makan. Dia segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi.
Raffa segera menyusul Nina. Dia semakin tidak tega melihat Nina yang terus-terusan mual seperti ini.
Setelah selesai, Raffa langsung meraih tubuh Nina dan memeluknya dengan erat. "Maafin aku udah buat kamu kayak gini."
Nina menggeleng lagi. "Gak papa Kak. Nanti setelah empat bulan pasti akan berangsur hilang."
Raffa kini mengusap lembut rambut Nina. "Terus kamu mau makan apa? Mau buah?"
Nina menggeleng pelan. "Aku mau istirahat saja Kak."
"Ya udah."
Baru saja mereka akan melangkah menuju kamar, ada Aurel dan Vina yang datang.
"Kak Raffa, tolong sini." teriak Vina.
Raffa segera keluar dari rumah kontrakannya dan membantu menurunkan sebuah kotak besar yang ada di tengah kendaraan mereka.
"Bawa apa? Banyak banget?" Raffa membantu membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam kontrakan.
Nina yang sudah membereskan sisa makan siang mereka kini tersenyum menatap kedua sahabatnya.
"Nina, nih gue bawa aneka buah buat lo. Ada rujak buah juga. Ini ada kulkas mini, yang gak dipakai di rumah. Lo pakai aja buat nyimpan buah di sini ya."
Seketika mata Nina berkaca-kaca. Sahabatnya itu sangat baik padanya.
"Kak Raffa, pasang nih. Udah gak bagus emang, tapi lumayan bisa buat nyimpan buah atau makanan."
Raffa membawa kulkas mini itu ke dapur dan memasangnya di sana.
"Nin, kita makan rujak buah yuk. Tadi ibu gue yang buat." Vina membuka sekotak aneka buah yang telah diiris lalu sekotak kecil lagi bumbunya.
Nina tersenyum merekah melihat rujak buah itu. Dia segera mengambil tiga garpu, lalu duduk berjejer dengan mereka bertiga dan memakannya.
"Kalian tahu aja kalau sedari tadi aku pengen banget makan rujak buah." kata Nina yang makan dengan lahap.
"Ya biasanya orang hamil ngidamnya ginian. Lo makan yang banyak. Besok-besok kalau mau lagi bilang aja, biar kita bawakan."
"Makasih."
Di ambang pintu, Raffa hanya menatap nanar Nina. Jadi sedari tadi sebenarnya Nina sedang mengidam rujak buah. Tapi Nina tidak mau bilang padanya.
Aku harus cepat mencari pekerjaan.
Kemudian Raffa mengambil jaket dan kunci motornya. Dia mendekati Nina untuk berpamitan. "Aku keluar dulu ya."
"Kak Raffa gak mau ini?"
Raffa menggelengkan kepalanya. "Kamu saja yang makan. Makan yang banyak." Raffa mengusap sesaat puncak kepala Nina.
"Kak Raffa juga hati-hati." kata Nina.
"Iya." Raffa pun keluar dari rumah dan segera memakai helm lalu menaiki motornya.
"So sweet banget sih pengantin baru ini."
"Tapi masih kurang sweet, harusnya Nina cium tangan Kak Raffa tuh sebelum Kak Raffa keluar. Pasti kayak suami istri yang sangat harmonis." kata Aurel.
Nina hanya tersenyum malu. Sebenarnya dia juga ingin melakukannya tapi dia masih belum terbiasa.
"Gimana kesannya setelah menikah? Enak?" tanya Aurel menggoda Nina.
"Enak gimana?" Nina berpura-pura tidak mengerti.
Aurel mencubit hidung Nina saking gemasnya. Sahabatnya itu masih saja polos padahal sudah membuahkan hasil dari rasa enak itu. "Lo gak malam pertama gitu sama Kak Raffa. Kan lagi anget-angetnya nih. Udah sah juga, nikmatin aja masa-masanya."
Seketika pipi Nina memerah. "Semalam aku capek banget."
Vina semakin tertawa mendengar kalimat Aurel. "Rel, kayaknya lo deh yang pengen nikah juga."
"Lo kok tahu." Aurel juga tertawa menimpali Vina. "Biar Nina gak pusing mikirin hidupnya. Dibuat enjoy ajalah. Nanti kalau Kak Raffa gak minta kamu aja yang minta, biar kamu dapat pahala berkali-kali lipat."
Pipi Nina semakin bersemu merah. "Nggak ah. Malu."
"Dalam rumah tangga itu gak boleh ada kata malu. Gak boleh juga ada yang ditutup-tutupi. Jadi sekalian buka aja deh semuanya."
Mereka bertiga kembali tertawa. Begitulah kalau tiga sekawan itu sudah berkumpul, ada saja yang mereka bahas.
...***...
Raffa tersenyum bahagia, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan juga. Mulai besok dia sudah bisa bekerja di salah satu rumah makan.
Setelah berhasil menjual motor dan menukarnya dengan motor matic, Raffa dan ketiga temannya membeli beberapa barang kebutuhan rumah kontrakan Raffa. Tak lupa juga dia membeli cemilan untuk Nina dan susu ibu hamil.
"Sudah belanjanya?" tanya Feri yang hanya menunggu Raffa dan Jefri di dalam mobil.
"Udah. Langsung ke kontrakan gue aja." Raffa kembali menaiki sepeda motornya setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil Feri.
Meskipun terasa aneh memakai motor matic, tapi dia harus bisa mulai terbiasa. Walau sebenarnya cukup berat juga kehilangan motor sport kesayangan yang telah menemani perjalanannya sejak SMA, tapi dia harus ikhlas. Ini semua demi Nina. Harta benda masih bisa dia cari di kemudian hari.
Beberapa saat kemudian Raffa dan teman-temannya sudah sampai di depan kontrakan Raffa.
"Kebetulan banget para bapak udah datang. Kita mau pulang, udah mau gelap." Vina dan Aurel berdiri setelah sebelumnya mereka tiduran di kursi ruang tamu.
"Beb, gak bareng aku aja?" tanya Feri pada Aurel.
"Aku bawa motor sendiri. Aku duluan ya sama Vina." setelah berpamitan, Aurel dan Vina berlalu sambil mengendarai motornya.
Nina menyambut kedatangan mereka tapi pandangannya kini tertuju pada barang-barang yang dimasukkan ke dalam rumah, seperti tv, kompor beserta gasnya, rice cooker dan peralatan dapur lainnya.
Nina mengekori Raffa yang sedang meletakkan barang di dapur. "Kak Raffa dapat uang darimana?" tanya Nina.
Raffa terdiam sejenak sambil memasang regulator kompor pada tabungnya.
"Kak?" tanya Nina lagi.
Raffa akhirnya menegakkan badannya dan menatap Nina. "Aku... Aku jual motor, tukar dengan motor matic dan uang sisanya aku buat beli ini semua."
"Kak Raffa kenapa gak bilang dulu sama aku. Kan aku udah bilang kalau aku juga punya tabungan. Gak perlu sampai jual motor."
Raffa meraih tubuh Nina dan memeluknya. "Tabungan kamu itu ya punya kamu, kamu pakai untuk keperluan kamu sendiri. Lagian kamu sedang hamil gak enak kan naik motor gede kayak gitu. Ini aku beli matic biar kamu nyaman dan kamu juga bisa pakai kalau pergi kemana-mana."
"Tapi tetep lain kali bilang dulu kalau mau lakuin sesuatu." Nina semakin mengeratkan pelukan Raffa.
"Kamu tadi juga gak bilang kalau lagi ngidam rujak buah. Lain kali kamu harus bilang kalau pengen sesuatu."
Nina mendongak agar bisa menatap wajah Raffa. "Iya, iya."
"Aku sayang kamu." Raffa mendekatkan dirinya dan mencium bibir manis itu dengan lembut. Mereka lupa jika ada teman-teman Raffa ada di depan.
"Yaelah, pantes ditungguin lama malah asyik ci pok an di sini. Nanti aja dilanjut, kita makan-makan dulu, pesanan Bima udah datang." kata Jefri yang berdiri di ambang pintu dapur.
Nina dan Raffa hanya tersenyum sambil menjauhkan dirinya. Mereka mengikuti langkah Jefri keluar dari dapur.
"Gila! Mentang-mentang pengantin baru bro, kita ditinggal adu mulut dulu di dapur."
"Wah, kalau gitu setelah makanan ini habis, kita pulang aja. Ntar kita ganggu mereka yang mau lanjut ehem-ehem lagi."
Mereka semua tertawa lalu segera menyerbu makanan yang sudah berjajar di atas meja.
💞💞💞
.
Baru bisa up.. 😅 lagi sibuk ini itu..
Like dan komen ya..