Love You, Brother

Love You, Brother
Jangan Khawatir



Reka dan Raffa menunggu diluar ruangan saat Nina diperiksa oleh Dokter. Mereka duduk berdampingan di kursi tunggu.


"Kamu tenang saja, aku akan urus masalah kamu di kampus. Aku pastikan kamu dan Nina gak akan dikeluarkan dari kampus." kata Reka sambil menepuk bahu Raffa.


Raffa sedari tadi hanya menundukkan pandangannya. Berbagai masalah silih berganti dalam hidupnya. Andai saja dia tidak melakukan kesalahan besar itu, hidup Nina pasti tidak akan susah seperti ini.


"Maafkan aku Kak. Aku gak bisa bahagiakan Nina." Raffa menekan kedua ujung matanya. Hatinya terlalu rapuh melihat kondisi Nina saat ini.


Reka mengusap bahu Raffa. "Kamu gak perlu minta maaf sama aku. Aku tahu kamu sudah berusaha dengan keras membahagiakan Nina. Aku memang kecewa sama kamu tapi aku yakin kamu bisa memperbaikinya."


Raffa tak berkata lagi. Keadaan hening sesaat.


"Apa Nina masih sering mual?" tanya Reka.


Raffa hanya menganggukkan kepalanya.


"Menurut aku, biar Nina cuti kuliah dulu. Biar dia fokus dengan kesehatannya. Kasihan kalau Nina sampai lemas dan pingsan. Biar dia cukup istirahat di rumah."


Raffa menganggukkan kepalanya pelan. "Nanti aku bilang sama Nina pelan-pelan. Aku juga gak mau Nina stress memikirkan anak-anak kampus. Pasti mereka akan terus membully Nina." Raffa menghela napas panjang di ujung kalimatnya.


Nina jelas tidak pernah berada di posisi seperti ini. Sejak sekolah, namanya selalu bersinar. Dia terkenal cantik dan pintar. Tidak seperti sekarang ini. Justru sebuah skandal yang membuatnya terkenal ke seluruh penjuru kampus.


"Aku harap kamu tetap melanjutkan kuliah kamu. Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku." lanjut Reka lagi.


"Iya Kak." Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Nina keluar. Raffa segera berdiri dan menghampiri Dokter itu. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


"Pasien mengalami dehidrasi. Syukurlah, kandungannya tidak apa-apa, semua sehat."


Raffa bernapas lega. "Apa harus dirawat inap?"


"Iya, untuk menambah cairan di tubuhnya. Besok baru boleh pulang. Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat, silakan menuju ke ruang Dahlia nomor 2 karena sedari tadi pasien terus menanyakan Bapak."


Raffa menganggukkan kepalanya. "Baik Dok, terima kasih." Dia kini berjalan jenjang menuju ruangan yang dimaksud dan diikuti oleh Reka.


Raffa kini masuk ke dalam ruangan Nina. Terlihat Nina sedang terbaring lemah di atas brangkar dengan jarum infus yang terpasang di pergelangan tangannya.


Raffa segera duduk di dekat brangkar Nina sambil mengusap puncak kepala Nina. "Sudah enakan?" tanya Raffa.


Nina hanya mengangguk pelan. "Syukurlah anak kita gak papa." Nina sedari tadi mengusap lembut perutnya. Sejak mendengar detak jantungnya untuk yang pertama kali, Nina begitu menyayangi calon buah hatinya.


Raffa tersenyum kecil lalu mengikuti gerak tangan Nina mengusap perutnya.


"Kelak, dia pasti jadi anak yang kuat."


Hati Reka tersentuh melihat adik-adiknya yang begitu sangat saling menyayangi. "Kalian belum makan kan? Aku belikan makanan dulu ya."


"Kak Reka." panggil Nina yang membuat Reka berjalan mendekat. "Makasih sudah memaafkan kita."


Reka tersenyum sambil mengusap puncak kepala Nina. "Kalian berdua adik aku. Mulai sekarang kalau butuh apa-apa bilang sama aku. Dan kamu harus fokus dengan kesehatan kamu, gak perlu memikirkan biaya rumah sakit dan lainnya."


Nina menganggukkan kepalanya. "Tapi tetap jangan bilang sama orang tua kita ya Kak."


Reka menganggukkan kepalanya lalu dia membalikkan badannya dan keluar dari ruangan Nina.


Raffa kini menggenggam erat tangan Nina yang sudah tidak sedingin tadi.


"Kak, aku takut mau masuk kuliah lagi." kata Nina. Dia kembali mengingat kejadian memilukan tadi.


"Iya, aku ngerti. Untuk sementara kamu cuti dulu ya kuliahnya. Nanti setelah anak kita lahir kamu bisa lanjut kuliah lagi."


Nina nampak berpikir sesaat. "Tapi aku mau ngapain di rumah?"


"Ya istirahat sayang. Atau cari kegiatan apa yang kamu suka. Udah ada tv, kamu bisa nonton tv juga."


"Tapi Kak Raffa sendiri gak papa lanjut kuliah? Gak ada masalah kan dengan pihak kampus? Atau kita berdua memang akan dikeluarkan dari kampus karena masalah ini?"


Raffa hanya terdiam. Dia belum tahu bagaimana kelanjutan masalah itu, apa pihak kampus memang akan mengeluarkannya dan Nina. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Nina. "Kamu tenang saja ya. Semua pasti akan baik-baik saja. Yang penting kamu sekarang harus fokus dengan kesehatan kamu."


Raffa mencium kedua pipi Nina lalu beralih ke perut Nina. "Makasih sudah bertahan buat kita sayang." Dia ciumi perut yang masih datar itu berulang kali.


Hal itu membuat Nina tertawa karena merasa geli. "Udah Kak, geli."


Raffa menegakkan dirinya dan kembali menatap Nina yang sudah bisa tersenyum.


"Kak, tas aku mana? Aku mau lihat hp pasti Aurel dan Vina khawatir."


Raffa berdiri dan mengambil tas Nina. Merogohnya untuk mengambil ponsel Nina. Dia kini juga duduk di dekat Nina sambil menatap layar ponselnya yang sudah dipenuhi chat dari temannya.


Jadi, ini semua ulah dia!!