Love You, Brother

Love You, Brother
Tanggung Jawab



Kedua orang tua Raffa dan kedua orang tua Nina kini duduk di ruang tamu. Mereka siap menyidang anak-anak mereka.


Nina terus memeluk Bundanya. Dia takut dengan kemarahan Ayahnya, dia juga merasa kasihan dengan Raffa karena semua ini bukan Raffa sepenuhnya. Justru Raffa yang terus disudutkan oleh mereka semua.


"Raffa," setelah menghela napas panjang untuk meredam emosinya, Kevin mulai berbicara dengan Raffa. "Apa rencana kamu selanjutnya?"


Raffa masih saja menundukkan kepalanya. "Aku akan menikahi Nina."


"Kamu pikir menikah itu mudah. Kamu masih 19 tahun, masih kuliah, belum ada pengalaman kerja sama sekali. Dengan cara apa kamu menafkahi Nina? Belun lagi biaya periksa kandungan, biaya persalinan, kamu pikir semua itu murah. Harusnya kamu berpikir dulu sebelum berbuat."


Tangan Raffa semakin berkeringat mendengar kalimat Papanya itu. "Aku akan bekerja."


Kevin terdiam beberapa saat. Dia harus memberi pelajaran pada Raffa. "Oke, kamu buktikan kalau kamu bisa memenuhi kebutuhan keluarga kamu sendiri tanpa bantuan dari Papa. Kamu keluar dari rumah, kamu cari tempat tinggal sendiri. Papa hanya kasih kamu sepeda motor dan biaya kuliah saja."


"Mas, kasihan Raffa." Alea jelas tidak tega dengan keputusan suaminya itu.


"Sayang, kita harus benar-benar kasih hukuman yang tegas buat Raffa agar dia tidak melakukan kesalahan fatal seperti ini lagi." Kevin kembali menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sesak karena dipenuhi oleh emosi itu. "Niko, aku minta maaf atas perbuatan Raffa. Aku tahu, kamu pasti sangat marah. Kalau kamu mau menuntut Raffa atau apapun itu, aku persilakan."


Niko sedari tadi hanya menahan emosinya. Ingin sekali dia juga menghajar Raffa tapi mengingat Raffa juga sudah dia anggap seperti anaknya sendiri sejak kecil, dia menahan dirinya. "Nina, apa kamu mau menikah dengan Raffa?" tanya Niko pada akhirnya.


Nina menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Iya Ayah. Ini bukan hanya salah Kak Raffa, tapi Nina juga."


Niko terdiam beberapa saat. Dia kembali menghirup napas dalam. "Itu berarti kamu harus siap hidup berdua dengan Raffa, tanpa bantuan dari Ayah juga."


"Mas, jangan gitu." Luna semakin memeluk tubuh Nina. "Nina putri Bunda satu-satunya. Bunda gak mau pisah dari Nina."


"Bunda, Nina gak papa. Ini memang kesalahan Nina."


"Tapi sayang, Bunda..." Luna tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia meraih kepala Nina dan mendekapnya sambil mencium berulang kali puncak kepala Nina.


"Oke, kalau begitu, besok kita nikahkan mereka. Biar anak buah aku yang urus surat-suratnya." Kevin berdiri dan mengajak Raffa pulang. "Raffa, sekarang kita pulang."


Alea dan putranya mengikuti langkah Kevin keluar dari rumah Niko.


Kemudian Niko berdiri dan masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Dadanya terlalu sesak melihat putrinya yang menangis karena perbuatan pria lain.


"Nin, kamu makan dulu ya. Bunda siapkan. Mau makan apa?" tanya Luna dengan air mata yang masih saja mengalir.


"Bunda jangan nangis ya. Maafin Nina." Nina menghapus air mata yang ada di pipi Bundanya.


"Semua sudah terjadi. Kamu harus bisa jaga diri ya. Nanti kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang saja sama Bunda." Luna juga menghapus air mata yang mengalir di pipi Nina.


"Iya, Bun. Bunda gak marah sama Nina?"


Luna mencium kening Nina, betapa dia sangat menyayangi Nina. "Bunda memang marah tapi rasa marah Bunda tak sebanding dengan rasa sayang Bunda sama kamu." Satu tangan Luna kini mengusap perut Nina yang masih datar itu. "Calon cucu Bunda sudah berapa minggu."


"6 minggu Bun." Nina mengambil hasil print USG dan dia perlihatkan pada Bundanya.


"Kapan kamu periksa?"


"Barusan sama Kak Raffa."


Luna menatap nanar gambar itu. Seperti baru kemarin dia merasakan bahagianya kehadiran Nina dalam perutnya tapi sekarang, putri kecilnya itu akan menjadi seorang ibu. Satu hal yang membuat hatinya sangat terluka, harusnya Nina merasakan kebahagiaan mengandung anak pertama itu, dan sambutan bahagia dari keluarganya. Bukan seperti ini, kehamilan Nina justru tidak diharapkan.


"Kamu yakin mau hidup berdua dengan Raffa?" tanya Luna lagi.


Nina menganggukkan kepalanya.


"Kamu jaga diri ya. Ingat, sekarang ada kehidupan lain di perut kamu. Kamu gak boleh lagi telat makan. Kalau kamu ingin sesuatu, kamu bilang sama Bunda."


Nina menganggukkan kepalanya.


Nina mengangguk lagi.


"Jangan lupa setiap hari diminum biar kandungan kamu sehat."


"Iya, Bun."


...***...


"Fer, gimana? Ada yang kosong tempat kontrakan tante lo?" tanya Raffa malam hari itu lewat panggilan whatsapp setelah dia mengemasi baju-bajunya.


"Ada. Kontrakan rumah petak punya tante gue banyak. Tapi emang lo serius diusir dari rumah. Emang lo bisa hidupin anak orang?"


"Kemarin gue udah tanya sama teman-teman soal pekerjaan. Ya, gue sepulang kuliah langsung kerja."


"Lagian lo kenapa telat angkat segala sih. Jangan main-main kalau belum pro. Meskipun Nina adik lo sendiri dia juga punya masa depan."


Iya Raffa tahu, dia sudah merusak masa depan Nina. "Iya. Gue yang salah. Semua udah terjadi. Gue akan memperbaikinya."


"Ya udah, gue akan bantu lo sebisa gue. Lo gak usah mikir soal biaya kontrakan. Lo tenang aja."


"Thanks bro."


Setelah mematikan ponselnya ada sebuah ketukan pintu dari luar kamarnya. "Raffa, Mama boleh masuk?"


"Iya Ma. Pintunya gak dikunci."


Alea pun membuka pintu kamar Raffa lalu masuk ke dalam. Pandangannya kini tertuju pada tas koper yang sudah siap Raffa bawa pergi.


"Raf, jangan pergi." Alea kini duduk di samping Raffa. "Papa pasti gak serius dengan perkataannya."


Raffa menggelengkan kepalanya. "Ini salah aku, Ma. Aku harus bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah aku perbuat."


Alea memeluk Raffa. Sudah lama, sejak Raffa besar dia tak pernah memeluk putranya itu. "Kamu harus bisa jagain Nina ya. Setelah menikah, Nina sudah menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya."


"Iya, Ma."


Alea melepaskan pelukannya. "Kamu mau tinggal dimana?"


"Di rumah kontrakan, Ma. Raffa udah dapat kontrakannya."


"Ya sudah. Kalau perlu sesuatu bilang sama Mama."


Raffa hanya menganggukkan kepalanya.


Alea kini mengusap rambut Raffa sambil memandangi wajahnya. Dia teringat dulu, kehadiran Raffa sangat dinanti dalam pernikahannya dan Kevin. Bahkan Raffa lah penyelamat hidup Kevin. Dia tahu, Kevin juga tak serius mengusir Raffa. Hatinya pasti sangat sakit. Tapi mungkin inilah cara Kevin memberi pelajaran pada Raffa agar ke depannya dia lebih berhati-hati.


"Ya sudah, kamu tidur ya. Besok siang kita akan ke rumah Nina melakukan ijab qabul, surat-surat semua sudah di urus anak buah Papa."


"Iya, Ma."


Setelah itu, Alea keluar dari kamar Raffa.


Mulai besok kehidupan Raffa akan berubah. Dia tak lagi sendiri, ada Nina yang akan menjadi tanggung jawabnya. Bisakah Raffa melalui semua itu tanpa bantuan dari keluarga?