Love You, Brother

Love You, Brother
Kemarahan Raffa



Sepulang kuliah hari itu, Raffa tak sengaja melihat Vina dan Aurel berhenti di pinggir jalan. Tak lama kemudian ada Bayu yang memberikan sesuatu pada mereka berdua.


Raffa segera melajukan motornya mendekat. Dia punya firasat buruk. Jangan-jangan benar dugaannya.


Aurel dan Vina kini terkejut melihat Raffa yang tiba-tiba datang mendekat. Mereka urung menerima bungkusan dari Bayu.


Kemudian Raffa turun dan meraih paksa bungkusan itu. Dia melihat isi yang ada dalam kantong plastik itu. Seketika dia mengeraskan rahang bawahnya dan melempar kantong plastik itu di depan Bayu. Ternyata benar dugaannya yang memberi susu, makanan dan lainnya itu adalah Bayu.


"Nina gak butuh barang-barang dari lo!" bentak Raffa. Seketika emosinya memuncak. Berani sekali Bayu memberi perhatian pada Nina yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya.


"Gue cuma mau kasih Nina. Dia pasti butuh itu." kata Bayu dengan santai. Dia sama sekali tidak takut dengan Raffa.


"Gue suaminya. Gue bisa beli itu semua buat Nina!"


Bayu tersenyum miring. "Punya apa lo sekarang. Cuma kerja paruh waktu aja emang cukup buat memenuhi kebutuhan Nina." hina Bayu yang membuat Raffa sangat tersinggung.


Seketika Raffa menyergap krah jaket Bayu. "Ini bukan urusan lo. Lo gak ada hak mencampuri rumah tangga gue."


Bayu menepis tangan Raffa hingga terlepas. "Kalau lo gak bisa bahagiain Nina, gue akan ambil Nina dari lo. Ingat itu!" kemudian Bayu naik ke atas motornya lalu melajukan motornya meninggalkan Raffa yang diselimuti amarah.


"Kak Raffa, maafin kita." kata Aurel. Mereka takut melihat kemarahan Raffa.


Tapi Raffa hanya diam saja. Dia menaiki motornya kemudian menjalankan motornya dengan kencang menuju rumah kontrakannya.


Aurel dan Vina mengikuti Raffa ke rumahnya. Mereka mengaku salah sudah menerima pemberian dari Bayu.


Beberapa saat kemudian Raffa sampai di rumahnya. Dia segera masuk ke dalam rumah.


"Kak Raffa gak langsung ke kafe?" tanya Nina sambil mengikuti langkah Raffa menuju dapur. Dia bingung melihat wajah serius Raffa.


Raffa tak menjawab pertanyaan Nina. Dia mengambil kantong plastik besar dan memasukkan semua pemberian dari Bayu yang masih tersisa banyak.


Nina semakin menatap bingung Raffa. "Kak, kenapa?" Dia bisa melihat kilat amarah di wajah Raffa.


"Ini semua pemberian Bayu." jawab Raffa. Setelah semua masuk ke dalam kantong, Raffa membawanya ke depan dan membuangnya di tong sampah. Sebenarnya memang sayang sekali, tapi rasa cemburu dan amarah itu membuat Raffa tidak bisa berpikir jernih. Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah.


"Kak Raffa kenapa dibuang?" tanya Nina. "Kan bisa..."


"Kamu mau pemberian dari Bayu!" Bentak Raffa yang membuat Nina tersentak.


Nina menatap nanar Raffa. Bukannya dia mau menerima pemberian Bayu, tapi semua makanan itu masih layak konsumsi harusnya bisa diberikan pada orang lain.


"Aku tahu, aku gak bisa beli makanan dan susu sebanyak itu. Tapi aku gak mau terima apapun dari Bayu! Dia masih ada perasaan sama kamu." Raffa masih saja tersulut emosi.


"Iya, tapi harusnya gak perlu dibuang seperti itu, Kak."


"Nin, aku pasti akan penuhi semua kebutuhan kamu! Gak perlu terima pemberian Bayu!"


Raffa masih saja membentak Nina hingga membuat hati Nina sakit. Bukan itu maksud yang sebenarnya. Nina masuk ke dalam kamar sambil menangis.


Raffa menghela napas panjang untuk meredam emosinya. Dia menyusul Nina masuk ke dalam kamar. Dia kini melihat Nina yang sedang duduk di ujung ranjang sambil menghapus air matanya.


"Maaf." Raffa duduk di samping Nina dan meraih tubuhnya. "Maaf aku udah bentak kamu."


Nina masih saja terisak. Hatinya memang sangat rapuh, setiap kali ada yang membentaknya, dia pasti akan menangis.


"Iya, aku ngerti. Tapi maksud aku harusnya makanan itu diberikan pada orang lain. Di kompleks sini banyak anak kecil, pasti mereka senang kalau dikasih." jelas Nina.


Raffa menghela napas panjang. Bodohnya dia yang membuang makanan begitu saja tanpa berpikir jernih. "Aku gak berpikir sampai ke sana."


"Sayang aja Kak. Mubazir. Masih banyak yang lebih membutuhkan daripada kita."


Raffa semakin mengeratkan pelukannya. Dia tidak bisa berpikir sampai sejauh itu karena rasa emosinya. "Aku... Iya, lain kali aku harus bisa berpikir jernih."


"Kak Raffa jangan marah lagi ya. Aku juga gak tahu kalau itu dari Bayu."


Raffa menganggukkan kepalanya sambil meregangkan pelukannya. "Maafin aku ya." Raffa mencium kening Nina lalu mengusap kedua pipi Nina yang masih basah. "Aku gak mau buat kamu nangis lagi."


Nina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Aku berangkat ke kafe dulu ya. Sudah terlambat."


Nina menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Raffa. "Kak Raffa hati-hati ya. Kalau capek istirahat."


"Iya," tangan Raffa beralih mengusap perut Nina. "Ayah kerja dulu ya." satu ciuman mendarat di perut Nina. Setelah itu dia juga mencium kedua pipi Nina.


Raffa berdiri kemudian berjalan keluar dari kamar yang diikuti oleh Nina.


Di depan rumah ternyata ada Vina dan Aurel. "Kak, maaf soal itu." kata Aurel dengan takut.


Raffa tak menjawabnya. Dia naik ke atas motornya dan segera melajukan motornya.


Aurel dan Vina berjalan mendekati Nina. "Nin, maaf ya. Kak Raffa pasti habis marah di rumah."


Nina menganggukkan kepalanya. "Tuh, semua makanan dan susunya dibuang." kata Nina sambil masuk ke dalam rumah.


Aurel dan Vina mengikuti Nina lalu duduk di kursi ruang tamu.


"Lagian kalian ngapain terima pemberian dari Kak Bayu, pakai bohong segala lagi." kata Nina yang kini ikut duduk di dekat mereka.


"Kak Bayu maksa. Ya, gue kira gak ada salahnya juga terima pemberian itu. Maaf ya, lo sama Kak Raffa jadi berantem. Besok-besok kita gak akan terima lagi pemberian apapun dari Kak Bayu."


Nina hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udahlah, semua udah terjadi. Nanti Kak Raffa juga pasti gak marah lagi."


Aurel dan Vina tersenyum. Kemudian mereka mengeluarkan rujak buah kesukaan bumil satu ini. "Makan rujak aja yuk!"


"Jangan tiap hari beliin. Besok uangnya gue ganti ya."


"Cuma ini doang. Gak usahlah." kata Aurel. "Kan dari dulu kita udah biasa jajan bareng."


Nina mendekatkan rujak buah itu dan mulai memakannya. "Kapan-kapan kita masak bareng yuk. Aku mau belajar masak."


"Wah, belajar jadi ibu rumah tangga beneran nih. Okelah besok kita beliin corong merah." kata Vina yang sering melihat tutorial memasak yang sangat mempersulit itu.


"Waduh, kalau niru ala DEBM bisa sampai subuh kita masak."


Mereka bertiga kembali tertawa, lalu lanjut mengobrol rencana masak bersama.