Love You, Brother

Love You, Brother
Bahagia Bersama



"Papa kenapa bisa ada di sini?" tanya Raffa sambil mendekati Papanya.


Kevin dan putranya saling bertatapan. Sudah saatnya Kevin memaafkan kesalahan Raffa. Dia memeluk tubuh Raffa yang sudah 9 bulan ini dia tahan rasa rindunya. Bersikap seolah-olah acuh dan tak peduli. Sebenarnya Kevin tak pernah marah pada Raffa. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Raffa. Bahkan dia terus mengawasi Raffa dari kejauhan.


Ingin Raffa mendorong pelukan itu, tapi tak bisa dipungkiri, dia juga sangat merindukan Papanya.


"Papa sudah gak marah sama aku?" tanya Raffa pada akhirnya.


"Papa memang marah sama kamu tapi rasa sayang Papa jauh lebih besar. Papa ngelakuin ini semua agar kamu bisa menjadi lebih baik. Kamu bisa jadi seseorang yang bertanggung jawab." Kevin melepas pelukannya dan menepuk bahu Raffa. "Papa akui kamu hebat! Kamu berhasil menjadi seorang suami yang sangat bertanggung jawab tanpa bantuan dari Papa sedikit pun. Dan satu lagi, Papa bangga kamu sangat menyayangi Nina dan selalu menjaga dia. Tetap jadi Ayah yang baik. Papa yakin, kamu jauh lebih hebat daripada Papa."


Mereka berdua kini duduk di kursi tunggu. "Jadi selama ini Papa memata-matai aku lewat Mbak Rita?" tanya Raffa.


"Bagaimana pun juga Papa gak akan biarkan kamu dalam kesulitan. Papa terus pantau kamu, selama kamu bisa mengatasinya, Papa biarkan kamu melalui ini semua sendiri. Kamu pulang ya ke rumah, sama Nina dan cucu Papa."


Raffa menggelengkan kepalanya. "Aku akan tetap tinggal di kontrakan itu, Pa. Sampai aku punya rumah sendiri."


"Ya sudah, kalau itu mau kamu. Sebentar lagi kamu sudah skripsi, kamu mulai belajar di kantor Papa saja. Ada satu cabang perusahaan Papa yang nantinya kamu pegang."


Raffa hanya terdiam. Dia masih ragu menerima pemberian Papanya.


"Ini semua buat masa depan keluarga kecil kamu."


Raffa akhirnya menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Alea dan kedua orang tua Nina datang.


"Papa, ternyata udah ada di sini duluan. Kenapa gak jemput Mama dulu." Alea datang dan langsung menuju pintu ruang perawatan yang masih tertutup. "Cucu Mama cewek apa cowok nih?"


Luna yang baru datang juga ikut berdiri di depan ruang perawatan. "Cewek dong."


"Raffa, kenapa gak bilang sama Mama kalau cewek."


Raffa menggaruk tengkuk lehernya sesaat sambil tersenyum kaku, karena setelah menikah dia hanya bertemu sekali, bagaimana dia bisa bercerita dengan Mamanya.


Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, Alea dan Luna segera masuk ke dalam dan melihat cucunya yang sedang tidur cantik di dalam box.


"Cantiknya. Mirip banget sama Raffa kecil." kata Alea sambil meraih cucunya dan menggendongnya.


Nina hanya tersenyum kecil melihat semua sudah berkumpul. Semoga setelah ini semua akan kembali seperti semula.


"Nina." Niko memeluk putrinya sesaat lalu mengusap puncak kepalanya. "Kamu hebat."


Nina hanya tersenyum sambil menatap wajah Ayahnya.


"Nina, kamu dan Raffa tinggal di rumah ya. Biar kita bisa kumpul lagi di rumah." ajak Niko.


Nina menggelengkan kepalanya. Sama halnya seperti Raffa, Nina tetap ingin tinggal di kontrakannya. "Nina akan tetap tinggal di kontrakan itu, bersama Raffa dan Nayra."


Niko tak bisa memaksa mereka. Dia kini menatap putrinya yang sedang tersenyum bahagia bersama Raffa yang sedang disuapi nasi. Waktu memang cepat berlalu. Sebagai orang tua, sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan putrinya. Saat putrinya merasa bahagia maka Niko juga akan merasa bahagia. Dia memang sempat ragu menyerahkan putrinya pada Raffa yang masih berumur 20 tahun itu, tapi ternyata Raffa sangat bertanggung jawab dan selalu berusaha membahagiakan Nina.


"Nin, Bunda sudah pesankan nasi box dan cattering. Kita adakan selamatan kecil-keilan ya di rumah kamu." Luna kini berjalan mendekat sambil menggendong cucunya.


"Iya Bun. Rencananya memang seperti itu."


"Nanti malam biar Bunda menginap di kontrakan kamu ya. Bunda mau bantu kamu selama masa pemulihan."


"Hmm," Nina justru menatap Raffa. Sedetik kemudian Raffa menganggukkan kepalanya.


"Iya Bun. Semalam atau dua malam saja ya. Nanti Kak Raffa pasti bantu Nina tiap malam."


"Iya, untuk malam ini saja kok."


Mereka kembali berebutan ingin menggendong Nayra, yang membuat bayi kecil mungil itu akhirnya menangis.


"Ya, nangis kan jadinya. Pasti minta nen lagi nih." Alea mengambil Nayra dari gendongan suaminya dan diberikan pada Nina. "Bisa sayang?"


Luna membantu Nina memposisikan bayinya agar nyaman saat me nyu sui. "Aduh, pintarnya kalau hisap. Cepat chubby nih."


Kebahagiaan itu, kini sudah terasa. Setelah melalui berbagai masalah dan rintangan, kini terbayar sudah dengan kehadiran Nayra yang akan selalu membawa kebahagiaan di keluarga kecil Raffa.


.