
"Pulang dulu ya, Kak. Hati-hati." Nina melepas helmnya dan tersenyum pada Raffa.
"Iya, makasih hari ini." kata Raffa sambil membalas senyuman Nina.
"Sama-sama. Makasih udah ditraktir." kemudian Nina membalikkan badannya dan berjalan menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter itu.
Setelah Nina masuk ke dalam gerbang rumahnya, baru Raffa pergi dari tempat itu.
"Nin, kamu darimana?" tanya Bunda Luna saat Nina baru saja masuk ke dalam rumah.
"Dari rumah Aurel, Ma." bohongnya karena memang hari itu sudah sore. Setelah mencium punggung tangan Bundanya, Nina berjalan menuju kamarnya. Dia masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Dia ambil ponselnya yang penuh pesan dari kedua temannya dan Bayu.
Nin, kamu kemana? Kamu dicariin Kak Bayu.
^^^Iya aku tadi bolos sama Kak Raffa, kamu tadi bilang apa sama Kak Bayu.^^^
Beberapa saat kemudian Aurel langsung menghubunginya.
"Eh, lo gila bolos sama Kak Raffa. Udah punya pacar juga." terdengar suara histeris dari Aurel di ujung sana.
"Bisa gak salam dulu gitu."
"Kaget bin terkejut gue. Bisa-bisanya lo selingkuh. Tadi Kak Bayu cariin lo, dia khawatir banget. Sampai tanya kira-kira lo kemana? Apa lagi sakit?"
Nina menghela napas panjang. "Gue jadi merasa bersalah. Tapi gue gak bisa terus bohongi perasaan gue."
"Ya, lo bilang baik-baik dong sama Kak Bayu. Kasihan dia ngarepin lo banget."
"Iya, gue juga mau bilang. Gue masih mau cari waktu yang tepat buat mutusin Kak Bayu."
"Jadi lo mau menjalin hubungan serius sama Kak Raffa?"
"Sepertinya. Kita gak bisa hilangkan rasa ini. Ya, mau gimana lagi?"
"Iya sih. Bingung juga. Semoga aja deh hubungan lo sama Kak Raffa segera direstui."
"Iya, makasih ya. Lo emang sahabat gue yang paling pengertian. Udah ya, gue mau mandi dulu. Daa.."
"Besok jangan bolos lagi woy."
"Iya, iya."
Nina mematikan ponselnya lalu melihat chat dari Bayu.
Nina, kamu kemana? Aku ke rumah kamu tapi kata Bunda, kamu berangkat kuliah.
Nin, aku khawatir sama kamu, kamu sebemarnya kemana? Aku tanya ke teman kamu juga gak ada yang tahu.
"Ke rumah? Itu berarti Bunda tahu kalau aku bolos." Nina menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah singgah di hatinya. "Aku harus bilang apa sama Bunda."
Nina berdiri dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya karena badannya terasa lengket seharian jalan-jalan sama Raffa.
Setelah selesai, dia segera memakai baju santainya dan melangkah keluar dari kamar. Melihat Bunda Luna yang sedang duduk di ruang tengah, seketika dia mendekat dan bergelayut di lengannya.
"Kamu udah makan?" tanya Bunda Luna.
Nina hanya menganggukkan kepalanya. Bagi Nina Bundanya adalah Ibu paling baik di dunia. Sudah tahu putrinya salah, tapi tidak dimarahinya. Selalu membiarkan Nina mengakui kesalahannya sendiri.
"Bunda, Nina minta maaf," kata Nina dengan suara seraknya.
"Minta maaf apa?" tanya Bunda Luna dan masih dengan nada datarnya.
"Nina udah bohong sama Bunda. Tadi Kak Bayu cariin Nina ke rumah ya?"
Bunda Luna tersenyum lalu merengkuh bahu Nina dan menyandarkan kepala putrinya di bahunya. "Jujur sama Bunda kamu bolos sama siapa? Raffa?"
Nina menganggukkan kepalanya.
Nina mengangguk lagi. Ya, apa yang dilakukannya dengan Raffa semuanya salah. "Iya, Bunda. Nina tahu, ini salah. Nina janji gak akan bolos lagi."
Bunda menghela napas panjang. Dia usap rambut putrinya yang masih basah itu. "Kamu cinta sama Raffa?"
Nina terdiam beberapa saat. Kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Kami saling mencintai, Bunda."
Bunda Luna tentu sudah bisa menebak apa yang sebenarnya Nina rasakan. Dia tahu jika putrinya sangat mencintai Raffa.
"Nin, Bunda gak bisa bantu banyak soal ini. Karena kamu dan Raffa itu adiknya Reka."
Nina mulai meneteskan air matanya. "Iya, Nina tahu Bun. Nina dan Kak Raffa sudah berusaha untuk saling menjauh, bahkan Nina juga sudah jadian sama Kak Bayu. Tapi tetap saja gak bisa. Cinta itu gak bisa hilang. Maafin Nina, Bun. Nina salah." Nina semakin menangis terisak. "Nina sebenarnya juga gak mau jatuh cinta sama Kak Raffa tapi mau bagaimana lagi, Bun. Cinta itu tiba-tiba muncul begitu saja."
Bunda Luna semakin mengusap lembut rambut Nina. Dia tahu, ini bukan salah Nina. Cinta itu datang tanpa kita yang minta. "Iya, Bunda mengerti. Tapi Ayah dan Kak Reka gak akan setuju dengan hubungan kamu dan Raffa."
"Terus Nina harus bagaimana, Bun? Kak Raffa udah janji sama Nina untuk perjuangkan hubungan kita setelah kita lulus kuliah."
Bunda Luna menghela napas panjang. Dia juga tidak bisa menyalahkan Nina maupun Raffa. "Mama gak bisa bantu soal ini sayang. Ya, kita lihat saja nanti bagaimana reaksi Kak Reka dan Ayah. Sebenarnya Bunda juga tidak melarang kamu berhubungan dengan Raffa karena Bunda sendiri tahu, kalian tidak sekandung. Tapi Bunda tetap gak suka kalau kamu bohong dan sembunyi-sembunyi ketemu Raffa kayak gini. Jujur sama Bunda kalau mau keluar sama Raffa."
"Iya Bunda, Nina minta maaf."
Bunda Luna menghapus air mata Nina. "Udah, jangan nangis ya sayang."
Nina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
...***...
Raffa keluar dari kamar mandi setelah selesai membasuh dirinya dan menyelesaikan ritualnya sendiri karena dia terus terbayang-bayang dengan Nina.
"Nina." gumamnya sambil menyisir rambut basahnya dengan senyum yang berulang kali mengembang. Meskipun dia sudah bersama Nina sejak kecil, tapi dia tidak pernah merasa bosan. Mungkin ini yang dinamakan cinta mati. Dia selalu ingin dekat dengan Nina dan bersamanya setiap waktu.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu yang membuat Raffa meletakkan kembali sisirnya. Dia melangkah jenjang menuju pintu kamarnya lalu membukanya. "Papa."
"Raffa, Papa mau bicara sama kamu." Kevin melangkah masuk ke dalam kamar Raffa.
"Iya Pa. Mau bicara apa?" Raffa menggaruk tengkuk lehernya sendiri. Dia bingung melihat wajah serius Papanya.
"Darimana kamu seharian tadi?" tanya Kevin sambil duduk di tepi ranjang.
Raffa menelan salivanya berulang. "Dari kampus, Pa."
"Sejak kapan Papa ajari kamu bohong."
Seketika Raffa terdiam. Papanya memang jarang sekali marah tapi ketika dia marah, tidak akan ada kata pembantahan.
"Papa lihat sendiri kamu jalan sama Nina." lanjut Kevin.
Raffa masih terdiam. Dia juga tidak tahu bagaimana Papanya bisa memergokinya.
"Papa tadi habis bertemu client di restoran dekat mall dan gak sengaja lihat kamu berboncengan mesra dengan Nina. Sudah berapa kali kamu bolos?"
"Baru sekali ini, Pa."
Kevin menghela napas panjang. "Raffa, ingat ya, sekali lagi kamu main-main dengan kuliah kamu, Papa akan cabut semua fasilitas kamu."
"Iya, Pa." Raffa hanya menundukkan pandangannya.
"Setelah lulus kuliah kamu harus mulai belajar pegang perusahaan. Kamu salah satu harapan Papa."
Raffa hanya menundukkan kepalanya. Bahagia yang baru saja dirasakan dengan Nina seketika lenyap.
💞💞💞
Like dan komen ya...