
Seketika Raffa bangun dan mengusap perut Nina. "Kenapa?" Dia takut apa yang dilakukannya barusan mengefek pada kandungan Nina.
Nina hanya menggelengkan kepalanya. Sudah diusap beberapa kali tapi perutnya masih saja terasa kaku dan kram.
Raffa segera mengambil baju Nina. "Kamu pakai baju dulu, kita ke bidan yang ada di depan gang. Di sana juga ada alat USG nya." kemudian dengan cepat Raffa memakai pakaiannya.
"Kak, kayaknya gak papa. Bentar lagi pasti juga hilang." meski demikian Nina menuruti perkataan Raffa untuk memakai bajunya.
"Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-napa. Lebih baik kita periksa saja, biar lebih jelas." Raffa meraih tangan Nina dan menuntunnya keluar dari kamar setelah meraih dompet dan ponselnya.
Meski dengan terpaksa, Nina akhirnya menuruti Raffa. Mereka segera menuju bidan yang ada dekat kawasan kontrakan mereka dengan mengendarai motornya.
Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Raffa menekan bel yang berada di dekat pintu. Beberapa saat kemudian Bu bidan itu membuka pintu.
"Maaf Bu. Mengganggu malam-malam." kata Raffa saat melihat wajah mengantuk Bidan Wati itu.
"Iya, tidak apa-apa. Silahkan masuk dulu."
Mereka berdua masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan duduk berdampingan di depan Bidan Wati.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bidan Wati.
"Hmm, ini perut istri saya kram." kata Raffa.
"Sedang hamil muda?" tanya Bidan Wati.
"Iya, Bu Bidan."
"Saya periksa dulu ya." Bidan Wati berdiri yang diikuti oleh Nina dan Raffa. "Naik dulu biar saya periksa."
Kemudian Nina naik ke atas bed pemeriksaan. Bidan itu menyingkap baju Nina dan sedikit menekan perut Nina. "Masih kram?"
Nina menggelengkan kepalanya. "Sudah lebih baik."
Bidan itu mengoles gel di sekitar perut Nina lalu mengarahkan perekam detak jantung. "Detak jantungnya normal. Sudah tidak kencang lagi ya perutnya."
Nina menggelengkan kepalanya.
Sedetik kemudian Bidan Wati tersenyum menatap Nina lalu beralih menatap Raffa. "Masih pengantin baru?"
Raffa hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Setelah melakukan hubungan suami istri saat hamil muda memang terkadang bisa menimbulkan kram pada perut. Karena pada saat or gas me, dinding rahim akan mengencang."
Seketika Nina mencubit tangan Raffa yang sedari tadi menggenggamnya. Dia sudah bilang ini tidak apa-apa tapi Raffa masih bersikeras untuk membawanya periksa.
"Apa itu bahaya?" tanya Raffa lagi. Pengetahuannya tentang kandungan memang sangat minim.
"Tidak, selama rasa kramnya masih dalam batasan wajar dan tidak disertai dengan flek. Tapi untuk lebih amannya memang tidak boleh terlalu sering berhubungan di trimester pertama."
Nina kini duduk yang dibantu oleh Raffa. Lalu turun dan berjalan kembali ke tempat duduk semula.
"Sebelumnya periksa dimana?" tanya Bidan Wati sambil mengambil buku pink.
"Di klinik Mutiara. Tapi kalau pemeriksaan rutin tiap bulan pindah ke sini, tidak apa-apa? Biar dekat, soalnya kita tinggal di kontrakan depan gang itu." tanya Raffa.
"Iya, tidak apa-apa. Jadi semisal belum waktunya periksa tapi sudah ada keluhan, langsung datang ke sini saja. Kita juga melayani 24 jam. Kalau tidak ada saya, ada assistant saya." Bidan Wati mulai mencatat data di dalam buku pink pemeriksaan dengan berbagai pertanyaan pada Nina. "Perkiraan usia kehamilannya sudah 7 minggu ya."
Bidan Wati juga mencatat hari perkiraan lahir yang membuat dada Nina seketika berdebar.
"Vitaminnya masih ada?"
"Masih Bu."
"Ya sudah. Setelah vitamin habis, nanti langsung periksa ke sini."
Sebelum pulang, Raffa mengeluarkan selembar uang merah untuk membayar pemeriksaan tapi Bidan Wati menolak.
"Tidak usah bayar dulu. Nanti dipemeriksaan selanjutnya saja."
Setelah itu, mereka berdua kembali ke rumah kontrakan dengan mengendarai motor.
"Kak Raffa malu kan. Udah dibilangin gak papa masih ngotot ajak periksa." sampai di rumah Nina masih saja menggerutu.
"Sayang, kan aku gak ngerti. Kalau gini kan jelas. Jadi aku lebih paham, dapat ilmu baru. Berarti ke depannya bisa lebih hati-hati."
"Ih." Nina merebahkan dirinya di atas ranjang sambil menarik selimutnya.
Raffa masih saja tertawa kecil. Sebenarnya dia juga malu dengan tindakannya barusan tapi dia lega, tidak ada yang bermasalah dengan kandungan Nina.
"Met tidur sayang." Raffa merebahkan dirinya dan memeluk Nina dari belakang. "Sehat-sehat ya anak Ayah dan Mama juga." Raffa mengusap lembut perut Nina yang membuat Nina kini memejamkan matanya sambil tersenyum.
...***...
Keesokan harinya, setelah Raffa menghentikan motornya di parkir kampus, beberapa mahasiswa lain menatap kedatangan mereka. Tapi tatapan mereka tak seperti biasanya.
"Raf!" panggil Feri yang berjalan terburu bersama Aurel menghampiri Nina dan Raffa.
Feri membisikkan sesuatu pada Raffa yang membuat ekspresi wajah Raffa berubah menjadi serius.
"Nin, kamu langsung ke kelas ya sama Aurel." Raffa segera melangkah jenjang dengan Feri.
"Ada apa?" tanya Nina. Dia kini melangkah pelan bersama Aurel menuju kelas.
"Nggak ada apa-apa. Kita ke kelas aja ya."
Mereka melangkah melewati lorong kampus. Beberapa mahasiswa masih saja memandang Nina aneh.
Tiba-tiba langkah Nina terhenti. "Gue mau ke toilet dulu ya. Gue kebelet."
"Eh, Nin!" Aurel menyusul langkah Nina.
"Ini dia! Cewek yang menjijikkan itu. Yang menyerahkan tubuhnya pada kakaknya sendiri." kata salah satu mahasiswa dengan keras.
Seketika Nina menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam toilet.
"Eh, kita kan sudah klarifikasi! Mereka bukan kakak adik!" Aurel berganti membentaknya.
"Iya, lo sama geng Raffa sahabat mereka. Satu geng nya Raffa emang banyak di kampus ini, jangan dipikir kalian sudah berhasil bersihkan spanduk dan selebaran itu, berita itu juga ikut musnah!"
"Apa maksud kalian?" tanya Nina karena beberapa mahasiswa lain juga mulai datang dan mengoloknya.
"Kita semua udah tahu lo punya hubungan terlarang dengan kakak lo sendiri. Dan lo sekarang udah hamil sampai kalian diusir dari rumah."
"Menjijikkan! Keluarga kalian saja gak terima dengan hubungan kalian sampai kalian berdua diusir, begitu juga dengan kampus ini. Kami semua juga gak bisa terima lo dan Raffa masih kuliah di sini! Terlibat hubungan inses dan hamil diluar nikah!"
"Keluarkan mereka dari sini!"
Nina akan melangkah pergi dari tempat itu tapi tangannya dicekal.
"Kalian apa-apaan!" Aurel berusaha mendorong mereka yang terus mengintimidasi Nina tapi tenaganya kalah dengan mereka. "Nina!"
Nina kini terpojok di dekat toilet. Beberapa mahasiswa lain justru melemparinya dengan telor busuk.
Rasa mual yang baru saja mereda kini kembali muncul, bahkan lebih parah. Nina terus muntah-muntah karena bau busuk yang menyengat di hidungnya.
Mereka semua masih terus membully dan menghina Nina.
Kak Raffa, tolong aku...
💞💞💞
.
Jangan lupa like dan komen ya...