
"Nin, kamu pucat sekali." Luna menyentuh kedua pipi putrinya, saat Nina baru masuk ke dalam rumah. "Kamu sakit?" tanyanya lagi.
Nina hanya mengangguk pelan. "Lagi gak enak badan, Bun. Kayaknya masuk angin."
"Bunda antar ke klinik ya?" tawar Luna.
Nina menggelengkan kepalanya. "Minum air jahe hangat saja pasti nanti mendingan."
"Ya udah, Bunda buatkan. Kamu istirahat di kamar saja."
Nina berjalan menuju kamarnya. Setelah menaruh tasnya, dia rebahkan dirinya di atas ranjang karena badannya terasa sangat lemas. Dia tatap langit-langit kamarnya sambil berpikir, bagaimana jika memang dia sedang hamil. Dia usap sesaat perutnya yang masih datar itu.
"Aku harus cari cara buat ngilangin ini."
Beberapa saat kemudian Bundanya masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir air jahe hangat dan semangkuk sup ayam yang juga masih hangat.
"Minum sedikit dulu biar enakan, terus makan sup mumpung masih hangat."
Nina duduk dan bersandar di headboard. Dia minum secara perlahan jahe hangat itu. Setelah beberapa teguk, dia letakkan cangkir itu di atas nakas.
"Sini Bunda suapin." Luna mulai menyuapi putrinya. "Kamu sekarang sudah dewasa. Sekarang Bunda hanya suapin kamu waktu sakit saja." Dia tertawa kecil di ujung kalimatnya. Dia teringat saat putrinya masih kecil dulu yang hanya mau makan kalau disuapi.
Nina menerima suapan demi suapan dari Bundanya. Hatinya terasa kelu. Tiba-tiba saja air mata itu meleleh di pipinya.
"Bun, maafin Nina ya..."
Luna menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti dengan sikap putrinya yang tiba-tiba menangis itu.
"Kenapa sayang?" Luna meletakkan mangkuk yang tinggal berisi sedikit itu lalu meraih tubuh putrinya. "Cerita sama Bunda kalau kamu ada masalah."
"Maafin Nina, Nina sering gak nurut apa kata Bunda."
"Iya sayang." Luna mengusap rambut Nina yang lepek karena keringat dingin itu. Dia merasa ada sesuatu yang telah terjadi dengan putrinya.
"Bunda, Nina mau istirahat dulu."
Luna melepas pelukannya sambil mengangguk pelan. "Cepat membaik ya. Kalau masih gak enak badan, nanti sore kita berobat."
Nina menganggukkan kepalanya.
Setelah Bundanya keluar, Nina kembali merebahkan dirinya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
...***...
Sampai malam telah larut, Raffa tak juga bisa tidur. Dia terus memikirkan Nina. Jika memang Nina hamil, bagaimana dia mencukupi semua kebutuhan Nina? Tidak mungkin Papanya memperkerjakannya begitu saja di perusahaan dan sudah dipastikan dia pasti akan mendapat hukuman.
Raffa memijat ujung hidungnya, mengapa juga dia melakukan itu. Dia tidak bisa menahan dirinya saat dekat dengan Nina. Yang pertama memang dalam keadaan genting tapi yang kedua, jelas Raffa melakukannya secara sadar.
"Ini semua memang salah aku." dia merebahkan dirinya di atas ranjang sambil mengirim pesan ke beberapa temannya menanyakan perihal pekerjaan.
Setelah itu dia hanya menatap nyalang langit-langit sampai malam telah larut. Dia hanya tertidur beberapa jam dan dibangunkan oleh alarm dari ponselnya.
Dia usap matanya yang masih lengket. Hal pertama yang dia lihat adalah ponsel. Mematikan alarmnya lalu menuju pesan chat dan langsung membuka pesan chat dari Nina.
Seketika dia terlonjak kaget melihat foto kiriman Nina.
Dua garis merah, itu berarti...
Raffa segera menghubungi Nina lewat panggilan video. Beberapa saat kemudian Nina mengangkat panggilan itu. Dia melihat Nina masih duduk di atas closet sambil menangis tersedu.
"Nin, jangan nangis. Aku akan tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana? Emang Kak Raffa udah siap jadi Ayah? Udah bisa menghidupi anak dan istri?" Nina semakin menangis sesenggukan. "Belum lagi keluarga kita pasti marah kalau tahu soal ini."
Nina menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau anak ini. Aku akan cari cara untuk menghilangkannya."
"Jangan bilang kamu mau gugurin anak kita. Nggak! Aku gak akan izinin kamu!"
"Anak ini ada di perut aku jadi teserah aku mau lakuin apa aja. Bukan Kak Raffa juga yang mengandung."
"Astaga Nina! Iya aku tahu kamu belum siap dengan kehamilan itu, tapi anak dalam perut kamu gak punya salah apapun."
Nina masih saja meneteskan air matanya.
"Kamu mandi lalu sarapan. Bentar lagi aku jemput, kita obrolin masalah ini dan sekalian kita ke dokter untuk periksa."
Nina mengangguk pelan. Setelah itu panggilan video mereka terputus.
Raffa menghela napas panjang. Kemudian dia bergegas menuju kamar mandi.
...***...
Raffa menghentikan motornya di depan rumah Nina. Untunglah semalam Papanya sudah memberikan motornya kembali.
Rumah Nina nampak sepi. Hanya ada mobil Reka yang terparkir di halaman rumahnya.
Dia melangkah masuk, ternyata Nina sudah menunggunya di teras rumah.
"Untung Kak Raffa cepat datang. Ayah dan Bunda masih ngegym. Kak Reka masih tidur soalnya habis dari luar kota. Kita berangkat sekarang saja, sebelum mereka datang."
Raffa dan Nina segera naik ke atas motor.
"Nin, pegangan ya. Aku gak akan ngebut." Soal berkendara saja sepertinya Raffa harus hati-hati juga. Mulai sekarang dia akan memperlakukan Nina sangat istimewa, meski hanya sebatas kemampuannya.
Nina kini berpegangan pada pinggang Raffa.
"Nin, aku udah cari Dokter kandungan yang buka klinik di hari Minggu ini. Kita langsung ke sana saja ya. Setelah itu kita mengobrol."
"Iya, Kak." kali ini Nina menuruti Raffa. Dia sudah lelah sedari tadi menangis. Ditambah perutnya juga masih mual, mungkin saja Dokter bisa mengobatinya.
Beberapa saat kemudian Raffa menghentikan motornya di depan sebuah klinik kandungan. Dia mendaftar dan mendapat nomor antrian. Untunglah hari masih pagi jadi baru tiga orang saja yang mengantri.
Setelah tiba gilirannya, mereka masuk ke dalam ruang periksa.
"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter kandungan itu dengan tersenyum ramah. "Mau vaksin pra nikah?"
Raffa menggelengkan kepalanya. "Tidak Dok, kita sudah menikah. Mau periksa kandungan istri saya. Sebelumnya sudah testpak dan hasilnya positif." Bohong Raffa. Dia harus menyebut Nina sebagai istrinya agar Dokter itu tidak berpikir macam-macam.
"Baik, langsung kita USG saja ya."
Mereka berdua mengikuti Dokter itu ke tempat USG.
Nina naik ke atas bed dan merebahkan dirinya. Di samping Nina, ada Raffa yang sedang berdiri dan menggenggam tangannya.
Dokter itu menyingkap kemeja Nina lalu mengoles gel di perut Nina yang masih datar itu. Dia arahkan alat perekam USG itu ke perut Nina hingga layar hitam putih itu menampakkan hasilnya.
"Kantung janinnya sudah terlihat ya."
Raffa semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Sudah hampir 6 minggu, ini janinnya sudah terlihat, sudah sebesar kacang. Kita coba dengar detak jantungnya, biasanya antara usia 6-7 minggu sudah bisa didengar."
Dokter itu mencari letak janin dan saat sudah pas, detak jantung itu terdengar.
Seketika Nina tersenyum dalam tangisnya. Dia tidak menyangka, benar-benar ada kehidupan baru dalam perutnya.