Love You, Brother

Love You, Brother
Bersama dalam Suka dan Duka



Raffa masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Dia kini melihat Nina yang masih menonton tv sambil makan cemilan.


"Kak Raffa." Mendengar suara pintu terbuka, Nina menoleh. Dia berdiri dan menyambut kedatangan Raffa.


"Kamu belum tidur?" tanya Raffa setelah mengecup kening Nina.


"Belum, gak bisa tidur. Nunggu Kak Raffa pulang."


"Kebetulan sekali. Makan dulu yuk." Raffa menuntun Nina agar kembali duduk. Kemudian dia membuka kantong plastik yang berisi dua kotak makanan.


"Kak Raffa beli?" tanya Nina. Dia membuka kotak makanan itu yang berisi chicken katsu.


Raffa menggelengkan kepalanya. "Dibelikan Paman Rendra. Jadi, sebenarnya pekerjaan aku yang kemarin sudah ditempati orang dan tadi aku cari pekerjaan lain. Gak disangka aku ketemu sama Paman Rendra lalu aku diajak ke kafe temannya untuk tanya tentang pekerjaan."


"Terus?" Nina meraih kotak makanan itu, lalu menyantapnya.


"Ya mulai besok aku sudah bisa bekerja di kafe itu." Raffa sedari menyunggingkan senyumnya ditambah melihat Nina yang sedang makan dengan lahap. Sebenarnya tadi Raffa diajak makan oleh Rendra, tapi dia lebih memilih membungkus makanannya agar bisa makan bersama dengan Nina. "Kalau masih kurang, kamu makan punyaku juga."


Nina menggelengkan kepalanya. "Kak Raffa makan juga."


"Sebentar aku mau cuci tangan dulu." Raffa berdiri lalu berjalan menuju dapur. Dia melihat meja dapur yang banyak cemilan. Ada tiga kardus susu ibu hamil juga yang masih utuh.


Setelah cuci tangan, Raffa kembali duduk di samping Nina. "Susu dan makanan di dapur itu dari siapa?"


"Dari Vina dan Aurel. Katanya biar aku cepat sehat. Ada manisan mangga juga. Mual aku langsung reda habis makan itu." kata Nina setelah menelan makanannya.


"Ya udah, nanti kalau habis aku belikan lagi ya." Raffa juga mulai makan. Perutnya memang sudah terasa perih sedari tadi karena sejak siang dia belum makan apa-apa.


"Seharian ini aku makan terus." kata Nina setelah menghabiskan suapan terakhirnya.


"Gak papa. Justru bagus. Biar kamu sehat dan dedek juga sehat." Satu tangan Raffa kini mengusap lembut perut Nina setelah menghabiskan makanannya. Satu hal yang sangat Raffa sukai setelah tahu Nina hamil. "Aku mau mandi dulu. Kamu tidur duluan gak papa, ini udah malam."


Raffa membereskan bungkus makanan, lalu dia masuk ke dalam dapur dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah minum air putih, Nina masuk ke dalam kamar. Dia kini merebahkan dirinya di atas ranjang. Badannya jauh lebih enakan dari sebelumnya. Sejak diputuskan untuk cuti kuliah, rasa pusing dan mual itu hilang. Sepertinya janin yang ada di kandungan tidak suka dengan suasana kampus.


Beberapa saat kemudian Raffa masuk ke dalam kamar dengan bertelanjang dada dan rambut basahnya. Aroma sabun juga menguar dari tubuhnya.


Pemandangan itu membuat Nina tak berkedip menatapnya. Tubuh yang selalu memberi kenyamanan saat memeluknya itu memang begitu menggoda.


"Belum tidur?" tanya Raffa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Nina menggelengkan kepalanya. Dia masih saja menatap gerak-gerik Raffa, mulai dari ganti baju, sampai menyisihkan baju yang kotor ke dalam keranjang.


"Besok biar aku cuci bajunya." kata Nina.


"Jangan! Masih belum ada mesin cuci, biar aku aja yang nyuci besok pagi. Nanti kamu capek." Raffa kini duduk di sebelah Nina.


"Gak papa Kak. Biar aku gerak juga."


Kemudian Raffa merebahkan dirinya di samping Nina. "Gak boleh. Nanti kalau ada sisa uang aku belikan mesin cuci."


Nina kini memutar badannya menghadap ke Raffa. "Besok pagi bangunin aku ya. Maaf, aku belum terbiasa bangun pagi. Biasanya Bunda yang bangunin aku."


Nina semakin mengeratkan pelukannya. Dia tempelkan hidungnya di leher Raffa hingga napas hangat Nina menyapu kulit leher Raffa.


"Kenapa hawanya jadi panas gini ya?" Raffa terkekeh karena dirinya tidak bisa menahan diri ketika ada di posisi nyaman seperti ini. Ada sebuah gairah yang mulai membakar diri.


"Ih, Kak Raffa udah nyandu."


"Banget, tapi takut kalau kayak kemarin."


Nina mendongakkan dirinya dan menatap Raffa. "Pelan-pelan aja pasti gak papa."


"Nantangin ya." Raffa memencet hidung Nina pelan


Nina justru tertawa kecil. "Sama kayak Kak Raffa. Udah kecanduan."


Raffa mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir itu. Saling berbalas pagutan, yang semakin lama semakin dalam. Napas mereka kian memberat. Tangan Raffa sudah menjamah area-area sensitif Nina yang membuatnya melenguh.


"Kali ini aku akan pelan-pelan. Jangan minta dicepetin biar aku gak khilaf." Raffa membuka seluruh pakaian Nina. Kemudian dia ciumi perut Nina yang membuat Nina bergeliat geli.


Pakaian Raffa sudah terlepas, dia sudah siap mengulangi hal menyenangkan yang membuatnya candu itu.


Kedua tangan itu saling terpaut. Mereka saling menatap penuh gelora. Gerakan pelan penuh penghayatan itu sudah membuat kamar yang hanya berukuran 3x3 itu terasa semakin panas.


"I love you, Nina..."


"I love you too."


Wajah Raffa kembali mendekat. Dia kecup lagi bibir tipis itu.


Suara lenguh Nina hanya tertahan di bibirnya. Wajah putih itu kian memerah.


Raffa melepaskan pagutannya dan suara nikmat kian bersahutan. Meski tetap dengan tempo gerak pelan dan beraturan hingga mereka mencapai pelepasan bersama.


Raffa tersenyum lalu melepaskan dirinya.


"Kram gak? Atau sakit?"


Nina menggelengkan kepalanya. Perlakuan lembut Raffa kali ini jelas membuatnya nyaman.


"Kamu pakai baju dulu biar gak dingin terus tidur." Raffa mengambil baju Nina yang tercecer.


Setelah baju mereka sama-sama terpakai, mereka kembali merebahkan diri dan tidur saling berpelukan.


"Kita akan selalu bersama dalam suka dan duka."


Nina menganggukkan kepalanya.


"Aku sayang kamu."


"Aku juga sayang Kak Raffa."