
Raffa tersenyum menatap wajah pulas Nina yang sudah tertidur itu.
"Sudah hampir malam, aku pulang dulu ya." kata Reka yang sedari tadi menemani mereka berdua.
"Iya Kak, makasih sudah bantu kita."
Reka kembali tersenyum sambil menepuk bahu Raffa. "Iya, besok pagi aku jemput. Setelah itu kamu harus ke kampus memberi bukti kalau kamu sudah resmi menikah dengan Nina."
Raffa menganggukkan kepalanya. Dia mengantar Reka keluar dari ruangan. "Hati-hati, Kak."
"Iya, jagain Nina ya."
Raffa menganggukkan kepalanya. "Iya, pasti."
Setelah itu Raffa duduk di kursi yang berada di lorong rumah sakit. Dia belum sempat membahas dalang di balik semua itu dengan Feri. Dia kini menghubungkan panggilannya dengan Feri.
"Hallo Fer, sorry tadi belum sempat gue balas. Jadi gimana Freya?" tanya Raffa sambil mengeraskan rahang bawahnya. Dia tidak pernah menyangka Freya tega melakukan ini semua pada Nina.
"Sudah diproses pihak kampus. Sepertinya kakak lo gak terima kasus ini. Dia mau ambil jalur hukum."
"Gue juga gak terima. Gue pasti juga akan tuntut Freya. Tindakannya udah diluar batas. Nina sampai masuk rumah sakit, dia dehidrasi parah. Untung kandungannya tidak kenapa-napa." Raffa menghela napas panjang. Dan sekali lagi, semua ini terjadi di hidup Nina karenanya.
"Sabar ya. Semoga kondisi Nina cepat pulih."
"Iya, thanks." setelah itu Raffa mematikan ponselnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya sejenak dan memejamkan matanya. Dirinya saja merasa lelah, bagaimana dengan Nina? Tapi dia harus tetap kuat demi Nina.
Raffa kembali menegakkan dirinya. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan Nina. Setelah menutup pintu, dia melihat Nina yang sudah bangun.
"Sayang, kok sudah bangun?"
Nina terlihat ingin duduk, Raffa segera membantu Nina.
"Mau apa?" tanya Raffa.
"Aku mau ke toilet."
"Ayo." Raffa meraih tubuh Nina dan mengangkatnya.
"Kak, aku bisa jalan."
"Gak papa, kamu ambul tabung infusnya."
Setelah Nina mengambil tabung infus yang menggantung, Raffa berjalan ke toilet. Dia turunkan Nina di atas closet.
"Kak Raffa, aku tuh gak sakit parah." Nina justru merasa malu sendiri saat Raffa merawatnya terlalu berlebihan, sampai buang air kecil saja Raffa bantu.
"Sebagai seorang suami yang baik harus merawat istrinya yang sedang sakit."
Nina hanya tersenyum dengan pipi yang merona. Kasih sayang Raffa memang tidak diragukan lagi.
Setelah selesai, Raffa kembali menggendong Nina keluar dari toilet lalu menurunkannya di atas brangkar.
"Kamu tidur lagi. Besok pagi kamu sudah boleh pulang." Raffa menarik selimut dan menutupi tubuh Nina. Dia usap lembut kepala Nina agar Nina cepat tertidur.
"Kak Raffa, tidur sini." Nina menggeser tubuhnya untuk menyisakan ruang kosong di sebelahnya.
Raffa menggelengkan kepalanya. "Jangan, nanti kamu sempit."
"Gak papa. Aku pengen tidur di pelukan Kak Raffa." kata Nina lagi.
Raffa tersenyum, kemudian dia naik ke atas brangkar dan merebahkan dirinya di samping Nina. Dia peluk tubuh Nina dengan satu tangannya. "Sayang kamu gak kangen sama Bunda?"
"Kalau kamu kangen, kita bisa ke rumah Bunda."
Nina menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau Kak Raffa dimarahi lagi."
Raffa semakin mengeratkan pelukannya. "Orang tua kita memarahi aku karena aku memang salah. Maafin aku udah buat hidup kamu seperti ini."
"Harus berapa kali Kak Raffa minta maaf." Nina mengusap tangan Raffa yang ada di perutnya. "Aku bahagia kok hidup sama Kak Raffa. Apalagi sebentar lagi ada anak kita."
Raffa tersenyum lalu mencium puncak kepala Nina. "I love you..."
"I love you too."
...***...
Keesokan harinya, Nina sudah boleh pulang dari rumah sakit dengan diantar Reka. Setelah sampai rumah, Nina kembali istirahat. Sedangkan Reka sibuk menyiapkan barangnya karena dia harus segera berangkat kuliah. Tak lupa dia juga sudah menyiapkan makanan untuk Nina.
"Sayang, sepulang kuliah nanti aku langsung ke tempat kerja. Kamu gak papa kan di rumah?" Raffa duduk sebentar di dekat Nina.
"Iya gak papa, Kak. Kak Raffa hati-hati ya."
Raffa menganggukkan kepalanya. "Sudah ada makanan. Nanti kalau makan tinggal dihangatin ya. Nasi juga sudah aku masak di rice cooker."
Nina tersenyum dengan mata berbinarnya. "Makasih ya, Kak. Harusnya aku yang menyiapkan semua keperluan Kak Raffa."
"Gak papa." Raffa menciun kedua pipi Nina. "Jangan lupa istirahat. Nanti kalau ada apa-apa langsung chat saja."
"Iya, Kak." Nina meraih tangan Raffa dan mencium punggung tangan Raffa.
Raffa tersenyum, lalu dia mencium kening Nina sebelum dia beranjak pergi.
Setelah menutup pintu rumah, Raffa segera menaiki motornya. Dia sudah ditunggu Reka di kampus untuk menyelesaikan kasusnya.
Setelah 15 menit, dia kini sampai di kampus. Feri dan Jefri langsung menyambut kedatangan Raffa.
"Sorry, kita belum bisa jenguk Nina. Kemarin kita urus kekacauan dulu di sini." kata Feri sambil mengimbangi langkah Raffa.
"Iya gak papa. Nina juga sudah pulang." Raffa berjalan jenjang menuju ruang Dekan.
"Semua udah berkumpul di ruang Dekan, semoga yang terlibat dalam masalah ini dapat hukuman yang setimpal." kata Feri yang mengantar sahabatnya sampai di depan ruang dekan.
"Iya, thanks bro." Raffa kini masuk ke dalam ruangan itu. Dia duduk di samping Reka. Pandangannya kini menatap tajam pada Freya dan kedua temannya yang hanya menundukkan pandangannya.
"Raffa dan Nina sudah menikah. Sudah sah secara hukum dan agama. Mereka juga bukan saudara kandung. Mereka memiliki orang tua yang berbeda." kata Reka. "Raffa tunjukkan buku nikah kamu."
Raffa menunjukkan kedua buku nikahnya.
"Freya, gue gak nyangka lo tega melakukan ini sama Nina." jika saja Freya bukan perempuan, dia pasti akan menghajar Freya habis-habisan.
"Kami akan tetap menuntut mereka. Perbuatan mereka sudah membahayakan nyawa seseorang." kata Reka, sudah dipastikan mereka bertiga, dalang dari masalah ini tidak akan lolos.
"Pak, saya minta maaf. Jangan laporkan saya ke polisi." kata Freya memohon. "Raf, gue janji gak akan bully Nina lagi."
"Lo harus mendapat hukuman yang setimpal." kata Raffa. Emosinya masih meletup-letup di dalam dada.
"Kita akan tetap selesaikan masalah ini lewat jalur hukum." jelas Reka. "Dan dengan terpaksa untuk sementara Nina berhenti kuliah dulu."
"Baik, jika itu keputusan Pak Reka. Dari pihak kampus kami juga sudah memutuskan untuk mengeluarkan Freya. Karena perbuatannya sudah merusak nama baik kampus. Video-video yang tersebar itu sudah viral di media sosial."
Freya hanya bisa terdiam. Inilah balasan yang pantas untuknya.