Love You, Brother

Love You, Brother
Rasa Ini



Nakalnya sepasang remaja yang satu ini.. 🙄


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


"Udah lanjutin liatnya, di sini sepi. Gak akan ada siapa-siapa yang ke sini. Apalagi kelas sudah bubar." Raffa meletakkan ponsel itu di tangan Nina.


Nina hanya megerutkan dahinya. Posisi apa ini?


Film kembali diputar. Tangan Raffa kini melingkar di perut Nina. Dia tempelkan dadanya di punggung Nina, lalu dagunya di atas bahu Nina.


Perasaan Nina campur aduk tak karuan. Dari kecil dia memang sudah biasa di uyel-uyel Raffa, tapi dengan posisi ini dan tontonan dewasa, jelas menciptakan hawa panas di sekujur tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Raffa yang merasakan kegelisahan Nina.


"Jangan gini, Kak. Aku..."


"Kamu fokus aja. Aku mau lakukan sesuatu sama kamu agar kamu gak penasaran terus."


Seketika Nina menoleh Raffa. "Jangan bilang Kak Raffa mau..."


"Nggak, cuma mau beri kamu sedikit rasa yang berbeda. Kamu nikmati aja filmnya, bayangkan seandainya kamu di posisi itu." kata Raffa dengan tangan yang telah berani menyusup di balik kemeja Nina. Dia usap lembut kulit halus di sekitar perut Nina.


Nina kembali meluruskan padangannya dan semakin bersandar di dada Raffa. Adegan demi adegan semakin intens. Begitu juga dengan tangan Raffa yang semakin bergerilya dan kini berani singgah di kedua buah sintal Nina yang masih bulat dan padat.


"Hmm, Kak..." Ingin Nina menolak tapi rasanya begitu berbeda saat dia sendiri yang menyentuhnya. Apalagi saat Raffa menangkupnya secara langsung dan me re mas pelan.


Rasa yang baru pertama kali dia rasakan. Nina semakin membusungkan dadanya saat kedua puncak itu dipilin oleh Raffa. Napasnya semakin berat. Nina hanya menggigit bibir bawahnya takut suara nikmat tidak bisa dia tahan.


Raffa tersenyum kecil. "Perasaan dulu kecil, sekarang jadi besar segini."


"Ih, dulu kan masih anak-anak." Nina kembali fokus menatap layar ponselnya.


Bagai tersengat listrik saat tiba-tiba satu tangan Raffa menelusup ke dalam celana Nina.


"Kak Raffa." Nina mendorong tangan Raffa tapi tak berhasil. Dia kini justru mulai merasakan usapan lembut yang membuat seluruh tubuhnya terasa ringan.


"Penasaran dengan rasanya kan? Pakai tangan aja, biar aman." bisik Raffa di telinga Nina. Lalu dia mencium cuping telinga Nina dan membasahinya.


Sekuat tenaga Nina menahan suaranya. Dia benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh sentuhan Raffa. Film di ponsel itu pun sudah tidak dia lihat. Di tambah kini bibir Raffa mencumbui leher jenjangnya.


"Hmm, Kak, udah. Perut aku rasanya penuh."


"Bentar lagi kamu rasakan sensasinya."


Tubuh Nina semakin bersandar di dada Raffa, dia semakin membuka kakinya. Perutnya terasa penuh dengan kupu-kupu yang berterbangan.


"Kak, udah. Aku mau pipis."


Raffa justru tersenyum miring. Dia semakin mempercepat gerak jarinya. Tepat seperti dugaannya, Nina sampai di pelepasannya. Pinggulnya bergetar beberapa kali. Setelah itu Nina melemas.


"Dan, seperti itu rasanya kalau pakai jari. Kalau pakai yang kamu duduki sekarang ini beda lagi." kata Raffa menggoda Nina.


Tersadar sedari tadi Nina menduduki sesuatu yang telah mengeras bahkan kini berkedut beberapa kali. "Ih, apaan sih." Nina memaksa turun dari pangkuan Raffa.


"Mau lihat gak?" Raffa mengerlingkan matanya menggoda Nina.


"Udah pernah dulu."


"Dulu kan masih kecil. Kalau sekarang udah perkasa."


"Ih," Nina mengalihkan pandangannya karena merasa malu-malu kucing.


"Duh, jadi pengen aku keluarin juga. Sesek banget sedari tadi."


Nina semakin memutar tubuhnya membelakangi Raffa.


"Ini.." Nina melebarkan matanya lalu menoleh Raffa. Si kecil itu sekarang sudah sangat besar.


Raffa masih menuntun tangan Nina untuk mengusapnya.


"Gimana kalau ini tadi yang masuk."


Nina hanya menelan salivanya. Barang sebesar itu masuk, pasti sangat sakit.


"Nanti kita rasakan kalau udah nikah. Sekarang aku cuma butuh bantuan kamu lewat tangan atau." Raffa mendekatkan dirinya, "Kalau mau lewat bibir."


"Kak Raffa, ih."


Raffa hanya tertawa. Sepertinya tangan Nina sudah mulai terbiasa bergerak. Dia lepas tangannya dan bersandar. "Iya, gitu Nin. Cepetin."


Napas Raffa semakin berat. Kemudian dia ambil tisu yang ada dalam tasnya saat hasrat itu terasa semakin di ujung.


"Nin, cepetin. Gini." Raffa menggenggam tangan Nina dan menuntunnya kembali bergerak.


Beberapa saat kemudian, cairan hangat itu meleleh hingga mengenai tangan Nina.


"Ih, Kak Raffa."


"Sini aku bersihin." Raffa mebersihkan tangan Nina.


Setelah itu dia kembali merapikan celananya. Mereka sama-sama menatap dan tersenyum. Satu kegilaan lagi dilakukan oleh mereka.


"Kalau pengen lagi, bilang ya. Aku siap membantu." kata Raffa sambil mencium pipi Nina sesaat.


Raffa semakin gemas melihat tingkah Nina yang malu-malu mau itu. "Ya udah yuk, pulang aja. Udah mulai mendung. Nanti aku dimarahi kalau telat antar kamu pulang."


Mereka berdiri lalu bergandengan tangan dan keluar dari area sepi itu.


"Nina, polos sekali kamu diberdaya oleh Raffa." Bayu menyunggingkan sebelah bibirnya. Sebenarnya sedari tadi dia terus mengintai Nina. "Aku gak rela."


Dia pergi dari tempat itu. Setelah, Nina dan Raffa pergi dari tempat parkir, dia menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motornya segera melaju meninggalkan tempat parkir.


Dia sekarang menuju basecamp nya.


"Kenapa lo Bay, wajah ditekuk aja dari kemarin." tanya salah satu teman Bayu setalah Bayu duduk dan bergabung dengan temannya.


Bayu duduk sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


"Urusan si Nina itu?" tebak temannya lagi.


Bayu mulai menghisap putung rokok. "Kalian tahu kan sebreng seknya gue, gue gak pernah nyentuh cewek. Gue bisa hargai tuh cewek. Tapi ternyata Nina lebih pilih Raffa, hubungan yang berkedok kakak adik agar bebas bersentuhan."


"Turut berduka cita." Gilang menepuk pundak Bayu.


"Sia lan lo!"


"Gue punya satu ide buat lo. Biar Raffa gak makin songong." Gilang membisikkan satu idenya itu pada Bayu.


"Gila sih ini. Nanti Nina makin marah sama gue."


"Marah cuma sesaat, setelah itu dia pasti bertekuk lutut."


Bayu tersenyum miring. Dia pasti akan mendapatkan Nina kembali.


.


.